Sari Pati Revolusi

- Editor

Jumat, 15 Agustus 2025 - 16:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pagar pendopo Kantor Bupati Pati nyaris roboh akibat didorong pendemo. (foto: Ist)

Pagar pendopo Kantor Bupati Pati nyaris roboh akibat didorong pendemo. (foto: Ist)

Oleh: Yusuf Blegur

People power itu nyata. Gerakan rakyat yang membawa kemarahan dan perlawanan bukan hanya mimpi atau sekedar halusinasi. Massa aksi yang lahir dari perasaan luka dikhianati, dieksploitasi dan direndahkan oleh penguasa, kini memberi sinyal bahwasanya revolusi itu bisa dilakoni

Masyarakat Kabupaten Pati Provinsi Jawa Tengah menggeliat, seakan memberikan sinyal bahwasanya Marhaen itu ada dan masih hidup. Seperti melambangkan rakyat jelata yang menjadi orang-orang teraniaya dan tertindas itu, tidak tinggal diam dan pasrah menerima nasib dari arogansi dan kesewenang-wenangan para penguasa.

Daerah bergejolak, ini bukan hanya tentang dinamika otonomi, jauh lebih besar ini menyoal refleksi dan evaluasi NKRI. Struktur kekuasaan menjelma menjadi birokrasi hipokrit, korup dan tiran. Postur kepemimpinan dan kelembagaan negara terbentuk dari sindikat pencuri, maling dan perampok bahkan para psikopat dan pembunuh.

Di tengah-tengah krisis ekonomi akibat perilaku kekuasan menyimpang mulai dari presiden hingga aparatur negara terkecil, rakyat terus menanggung beban lahir-batin, mental-fisik, psikologi dan kejiwaan. Terusir dan tergusur, dihardik dan dilecehkan hingga terluka, teraniaya dan sampai kehilangan nyawa.

Semua penderitaan rakyat itu berlangsung seiring rakyat mengorbankan segalanya untuk tanah air yang dicintainya. Hanya untuk sekedar makan dan memiliki tempat tinggal, meraih pendidikan yang layak dan terjamin kesehatan, semua sia-sia karena keangkuhan dan keserakahan penguasa.

Pati, Semarang, Cirebon hingga Jombang dan Bone dan mungkin menyusul daerah lainnya di Indonesia, bukanlah fenomena puncak gunung es, ia menjadi letupan-letupan wedus gembel dari gunung api yang akan memuntahkan ledakan magma dan lava vulkanik dahsyat yang mengerikan. Rakyat di daerah menggeliat dan memberontak karena tak lagi diperlakukan manusiawi, tak lagi dihargai dan tak lagi dihormati sebagai pemilik kedaulatan dan pemberi mandat penyelenggaraan negara.

Baca Juga:  Tragedi Pati: Urgensi Kaji Ulang Sistem Pajak Berkemanusiaan

Rakyat tak ubahnya berada dalam masa penjajahan akibat kolonialisme modern yang dilakukan oleh bangsanya sendiri. Dalam cengkeraman kepiluan yang menyayat, rakyat harus merasakan kembali eksploitasi bangsa atas bangsa dan eksploitasi manusia atas manusia.

Pajak yang terus menerus meningkat dan menyeluruh di negeri yang merdeka, terasa tak berbeda dengan upeti dari kaum kompeni untuk kalangan pribumi pada masa penjajahan. Diteror, diperbudak dan dikuras habis-habisan kekayaannya,
membuat rakyat hanya punya dua pilihan diam dan lemas tertunduk atau bangkit melawan.

Sekarang atau nanti tidak ada bedanya, menderita bahkan kematian karena menyerah pada penindasan. Atau menderita dan kematian karena melawan kedzoliman. Hanya saja akan berbeda dan memiliki nilai sendiri ketika sejarah akan menorehkan catatan penting tentang kebenanian suatu bangsa untuk melawan segala macam bentuk penindasan dan kedzoliman. Keberanian dan pengorbanan melawan penjajahan yang melegenda dalam spirit, kepahlawanan, kemanusiaan dan Ketuhanan.

Dari Kabupaten Pati Provinsi Jawa Tengah, seluruh rakyat Indonesia menyaksikan dan menjadi saksi hidup. Tak akan ada yang bisa merubah nasib suatu kaum selain kaum itu sendiri yang memperjuangkannya. Perlawanan rakyat Pati menjadi contoh nyata people power itu ada dan nyata. Bahkan menjadi benih dan sari pati dari sebuah revolusi.

Penulis: Analis Institut for Public Policy Studies Indonesia (IP2SI)

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait

Praktisi Hukum Herdiyan Saksono Bedah Skandal Penyadapan Ilegal Pejabat Tinggi: Puncak Gunung Es Rusaknya Demokrasi
BTS 4G di Wilayah 3T Mulai Beroperasi, Kontraktor Klaim Tagihan Ratusan Miliar Belum Dibayar
Mahfud MD Tegaskan Pasal Makar Mengintai Mantan Kapolri, Bisa Hukuman Mati!
Akhir Petualangan Jenderal Listyo Sigit Prabowo di Bawah Bayang-Bayang Jokowi
Tak Hanya Presiden: Listyo Sigit dan 2 Irjen Juga Sadap Tokoh Politik, Media, Ormas, Hingga Pengusaha
Penyadapan Prabowo Diduga Upaya Kudeta Antarkan Gibran Jadi RI-1 Demi Selamatkan Jokowi
Spekulasi di Balik Penangkapan Sejumlah Perwira Tinggi Polri: Dari Isu Penyadapan Ilegal, Beking Judol, Hingga Korupsi
Inisiator GNK Sebut Kapolda Jateng Paling Bertanggung Jawab, Seharusnya Dicopot Duluan

Berita Terkait

Kamis, 5 November 2026 - 13:44 WIB

Praktisi Hukum Herdiyan Saksono Bedah Skandal Penyadapan Ilegal Pejabat Tinggi: Puncak Gunung Es Rusaknya Demokrasi

Rabu, 4 November 2026 - 17:34 WIB

BTS 4G di Wilayah 3T Mulai Beroperasi, Kontraktor Klaim Tagihan Ratusan Miliar Belum Dibayar

Rabu, 4 November 2026 - 08:58 WIB

Mahfud MD Tegaskan Pasal Makar Mengintai Mantan Kapolri, Bisa Hukuman Mati!

Rabu, 4 November 2026 - 05:51 WIB

Akhir Petualangan Jenderal Listyo Sigit Prabowo di Bawah Bayang-Bayang Jokowi

Rabu, 4 November 2026 - 05:13 WIB

Tak Hanya Presiden: Listyo Sigit dan 2 Irjen Juga Sadap Tokoh Politik, Media, Ormas, Hingga Pengusaha

Berita Terbaru