Oleh: Nurseylla Indra
Batam adalah kota yang memiliki daya tarik tersendiri untuk disinggahi masyarakat Indonesia, begitu pula bagi warga negara tetangga yaitu Singapura dan Malaysia, Batam dijadikan tempat destinasi persinggahan yang dianggap nyaman dan penuh wisata.
Kehebatan di kota ini hampir seluruh wilayahnya berhasil merajai aktivitas manusia selama dalam waktu dua puluh empat jam. Wisatanya pun sangat bersahabat dengan hiburan malam.
Bagi mereka yang mencintai dunia hiburan malam, mungkin Batam menjadi kota yang wajib untuk disinggahi. Salah satunya adalah gelanggang permainan atau yang disebut gelper.
Sebenarnya gelper dapat kita temui di mana-mana, bahkan di mall pun masyarakat sudah diperkenalkan dengan mesin-mesin hiburan arena gelper untuk anak-anak hingga para remaja, sistem bermainnya pun beragam, ada dengan cara membeli coin atau kartu yang diisi dengan nominal yang diinginkan, lalu dengan mudah mereka bermain sesuka hati.
Ketika permainan usai biasanya mesin akan mengeluarkan tiket hasil dari permainan tersebut yang dapat di kumpulkan dan diganti dengan jenis barang tertentu.
Tidak jauh berbeda dengan arena gelper di kota Batam, hanya saja untuk menjadi pemenang haruslah mereka yang memiliki bakat dalam bermain dan melewati proses candu untuk mendapatkan kemenangan, karena bagi mereka para pemain pemula di arena gelper ini mungkin sulit untuk di taklukan.
Bagi sebagian orang penikmat hiburan ini sangatlah paham apa itu gelper, namun bagi mereka yang awam tentang gelper dianggap tempat tersebut hanyalah semata-mata hiburan saja, padahal lebih dari itu. Gelanggang permainan yang dimaksud kota persinggahan ini adalah gelanggang permainan yang tak lepas dari arena perjudian.
Bahkan ada beberapa tempat, arena gelper aktif dalam waktu dua puluh empat jam, terbuka untuk umum dan tanpa syarat tertentu untuk memasukinya. Artinya baik orang pribumi maupun non pribumi bisa memasuki arena gelper ini, dan yang lebih mengenaskan lagi tanpa syarat ketentuan batasan umur untuk dapat memasukinya, yang penting memiliki modal untuk mengeksplorasi kemampuannya dalam arena perjudian ini.
Ironis dan miris melihat keadaan seperti ini di kota yang berbatasan langsung dengan negara tetangga, padahal sejatinya Batam memiliki kultur melayu yang islami. Namun akibat pemangku kebijakan yang melonggarkan adanya praktik perjudian dan hiburan malam, seolah mengikis tradisi melayu yang religi.
Kini perjudian dan tempat hiburan malam sangat mudah didapati di sudut kota Batam. Tidak hanya moment hari biasa saja, akan tetapi di bulan suci Ramadhan pun aktivitas tersebut berlangsung selama dua puluh empat jam. Luar biasa sekali bukan?
Maraknya arena perjudian gelper di kota Batam mengindikasikan bahwa adanya peningkatan aktivitas masyarakat yang semakin candu untuk menguasai arena permainan judi. Hal itu lantaran tak kenal waktu untuk bisa menikmatinya.
Ditambah lagi adanya keberlangsungan aktivitas diskotek baik di dalam ruangan (indoor) maupun diskotek yang terbuka lebar di luar ruangan (outdoor) Di mana mungkin saja ketika hujan para pengunjung yang hadir yang berisi rata-rata anak remaja ini bisa leluasa datang ke diskotek tersebut dan rela hujani diri dengan air hujan sambil asik bergoyang mendengar musik yang kencang.
Tidak hanya itu, adanya kemudahan untuk bertransaksi narkoba pun nyaris vulgar, bahkan tidak sedikit juga perdagangan manusia ada di dalamnya, bukankan hal ini miris tengah terjadi di bangsa kita sendiri?
Lalu mau dibawa kemana generasi penerus masa depan kita nantinya? Rasa Toleransi umat beragama pun seakan lalai untuk di agungkan pada generasi masa depan bangsa Indonesia.
Kemana para penegak hukum yang notabenenya memberikan keamanan dan kenyamanan untuk masyarakatnya sendiri? Kenapa hal ini seakan tegas terlihat adanya pembiaran aktivitas yang tidak lazim terus berlangsung di kota Batam, terlebih lagi saat bulan suci Ramadhan.
Kemana aturan kapolri dengan Presisinya? Bukankah hal ini harus ditindak tegas jika memang terlihat adanya pembiaran aktivitas ini secara masif dan sudah seharusnya membenahi ketidakadilan perlakuan kepada para pengusaha di kota Batam sebagai amanah yang harus dipertanggung-jawabkan secara berkelanjutan.
Ironis sekali jika membiarkan moralitas anak bangsa terkikis dan menggadaikan nilai anak bangsa demi kepentingan para pengusaha.
Bahkan yang lebih menelisik hati, tidak sedikit warga Batam menjadikan tempat hiburan ini sebagai lahan mencari nafkah. Tidak perduli lagi halal haram, tidak perduli lagi ada nilai “dosa” di mata Tuhan. Ironisnya negeri ini.
Penulis: Analis Muda Center for Public Policy Studies (CPPS) Indonesia.

