Ingin Puasa Kamu Tetap Sehat Dan Bugar, Ini Tipsnya. Yuk Kita Simak

dokter Agung Insani Firdaus

KOTA BEKASI, Mediakarya – Menjalani ibadah puasa ramadhan merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dijalankan oleh umat islam dimanapun mereka berada. Agar ibadah puasa ramadhan kita berjalan dengan baik ditengah cuaca yang tidak menentu kali ini, ada sejumlah tips dari salah seorang dokter yang bertugas di Kota Bekasi. Tips sehat dan bugar tersebut dibagikan langsung oleh dokter Agung Insani Firdaus melalui mediakarya.id.

Menurutnya, ramadhan Itu bukan cuma menahan lapar, tapi reset kesehatan. Karena setiap ramadhan datang, yang pertama kali heboh biasanya apa coba?, bukan masjid, bukan moshola, tapi grup WA cari takjil dan gorengan.

“Puasa belum mulai, menu bukanya sudah 12 macam,” ujarnya singkat, Kamis (26/2/2026).

Padahal sebenarnya, ramadhan itu momen tubuh kita ‘di-reset’. Dan menariknya, tubuh manusia memang didesain mampu beradaptasi dengan pola makan terbatas dalam periode tertentu.

“Jadi intinya, hidup jadi teratur, tubuh ikut teratur,” katanya melanjutkan.

Coba perhatikan saat ramadan. Dimulai dari bangun sahur (Walau kadang pakai drama alarm 5 kali), waktu makan jelas, sahur dan berbuka. Ibadah ada jadwalnya dimana tidur lebih disiplin (Minimal usaha ya).

“Secara medis, hidup yang teratur itu memperbaiki ritme sirkadian atau jam biologis tubuh kita. Kalau jam biologis rapi, hormon lebih stabil, tekanan darah lebih terkontrol, gula darah lebih seimbang, dan mood lebih baik,” terangnya.

Lebih jauh lagj, dokter Agung menjelaskan, tubuh itu suka keteraturan. Yang bikin dia stres itu pola hidup acak-acakan. Dimana makan teratur sama dengan metabolisme lebih stabil.

Selain itu, saat puasa kadar insulin turun lebih lama dari biasanya. Ini memberi kesempatan tubuh untuk menggunakan cadangan energi (Lemak), meningkatkan sensitivitas insulin dan mengistirahatkan sistem pencernaan atau istilah kerennya metabolic switching.

“Artinya, tubuh belajar fleksibel tidak tergantung terus pada gula dari makanan. Tapi tentu dengan syaratnya dimana jangan dibalas dendam saat berbuka. Kalau seharian puasa lalu buka dengan 5 gorengan, es manis, dan nasi dobel, itu bukan metabolic switching, tetapi itu metabolic shock,” tegasnya.

Sahur Itu Investasi Energi, Bukan Formalitas

Sahur sering dianggap ‘yang penting makan’. Padahal komposisi sahur menentukan kuat tidaknya kita sampai maghrib. Dimana dalam hal ini idealnya ada protein (Telur, ayam, ikan, tahu, tempe), karbohidrat kompleks (Nasi secukupnya, oat, kentang), sayur dan air cukup.

Dalam kesempatan tersebut dirinya juga mengingatkan akan protein itu penting sekali.

“Karena tanpa protein, rasa lapar datang lebih cepat karena hormon kenyang tidak bertahan lama,” singkatnya.

Kalau sahur cuma mie instan dan teh manis?. Jam 10 pagi sudah mulai menghitung menit menuju adzan.

Dirinya juga mengingatkan bahwa pentingnya asupan air. Karena terkadang air itu sering diremehkan. Banyak orang merasa lemas saat puasa, padahal bukan kurang makan, tapi kurang minum.

“Karena dehidrasi ringan saja bisa menyebabkan sakit kepala, tekanan darah turun, asam lambung naik yang menyebabkan pada konsentrasi menurun,” katanya.

Untuk itu, dokter Agung memberikan tips sederhana, yakni bagi minum jadi 3 waktu, dimana saat berbuka, setelah tarawih dan saat sahur.

“Karena tubuh kita bukan unta yang bisa simpan air seminggu ya,” ujarnya lebih jauh.

Dijelaskannya juga, dengan menjalankan hal tersebut secara rutin selama puasa ramadhan dan menjalankan ibadah teratur, maka hormon stres lebih terkontrol.

“Jalankan dengan teratur, maka maka kita bisa terhindar dari stress,” bebernya.

Selain hal diatas, ada hal yang sering tidak dibahas, yakni saat kita lebih banyak ibadah, dzikir, membaca Al-Qur’an, pikiran cenderung lebih tenang.
Ketenangan ini menurunkan hormon stres (Kortisol).

“Kalau kortisol stabil, maka lemak perut lebih mudah turun, tekanan darah lebih stabil, gula darah lebih terkontrol, tidur lebih nyenyak. Jadi, ibadah bukan hanya pahala,” jelasnya.

Untuk itu, jika dilihat secara biologis, hal tersebut bisa menjadi sebuah terapi. Dimana saat tidur cukup, maka hal itubmerupakan bagian dari ibadah juga.

Menurutnya, jika kurang tidur akan meningkatkan hormon lapar (Ghrelin) dan menurunkan hormon kenyang (Leptin).yang akan berakibat pada nafsu makan saat berbuka jadi tidak terkendali.

“Minimal total tidur 5-6 jam, tetap diusahakan terpenuhi, walau terbagi,” pesannya.

Puasa Bukan Alasan Jadi ‘Mode Hemat Gerak’

Olahraga ringan menjelang berbuka justru membantu kita dalam membakar lemak lebih efektif, memperbaiki sensitivitas insulin, menjaga massa otot.

“Cukup jalan santai 20-30 menit. Jika dijalaninya dengan benar serta pola hidupnya dijaga, ramadhan bisa memberi manfaat nyata, seperti berat badan lebih terkontrol, gula darah lebih stabil, tekanan darah membaik, kolesterol bisa menurun, pencernaan lebih teratur, kontrol diri meningkat, pola makan lebih sadar dan kesehatan mental lebih baik,” imbuhnya.

Dengan semua itu dijalankan dengan baik, maka ada hal yang bisa ambil pelajarannya, dimana kita belajar disiplin. Disiplin waktu. Disiplin makan. Dan disiplin ibadah.

“Disiplin ini, kalau diteruskan setelah ramadhan, efeknya luar biasa untuk kesehatan jangka panjang,” pesannya.

Penutup Sederhana

Ramadhan bukan ajang balas dendam kuliner. Bukan juga ajang tidur seharian. Ramadhan adalah latihan mengendalikan diri. Dan ketika kendali diri membaik, kesehatan ikut membaik.

“Jadi, mari jalani dengan cerdas. Makan cukup, bukan berlebihan. Minum teratur, ibadah khusyuk, istirahat cukup. In syaa Allah, bukan cuma pahala yang kita dapat, tapi tubuh yang lebih sehat dan jiwa yang lebih tenang,” tandasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *