Nelayan Muaragembong Protes Pencemaran Sampah dan Limbah

KABUPATEN BEKASI, Mediakarya – Di atas perahu kayu tua yang mengarungi perairan keruh Muaragembong, seorang pria paruh baya berdiri tegak. Dia mengangkat selembar kertas bertuliskan pesan yang mewakili jeritan hatinya dan ratusan nelayan di kawasan pesisir ini.

Dialah Azis Kuncen, nelayan lokal. sekaligus Ketua Komunitas Nelayan Pelestari Muaragembong. Pada Senin (2/3/2026), di Kampung Muarajaya, Desa Pantai Mekar, Kecamatan Muaragembong, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, dia menyuarakan keprihatinannya melalui dua tulisan tangan yang dia bawa. Pesan pertama berbunyi “Muara Gembong Bukan Tempat Sampah” dan pesan kedua “Kami Mencari Ikan! Bukan Sampah & Limbah”.

Keprihatinannya bukan tanpa alasan. Menurut Azis, pencemaran di Muaragembong sudah berlangsung lama dan dampaknya kian parah. “Limbah industri dan sampah rumah tangga sudah mencemari Muaragembong sejak 2000-an. Akibatnya, sampah menumpuk di pesisir, terjadi pendangkalan, air laut pun tercemar hingga berwarna hitam dan bau. Akhirnya ikan semakin berkurang, bahkan nyaris punah. Pendapatan nelayan pun terjun bebas,” ungkap Azis.

Menurut nelayan tradisional ini, pencemaran pesisir Muaragembong sebagian besar diduga berasal dari Saluran Cikarang Bekasi Laut (CBL). Selain itu, dia menduga pencemaran tersebut juga bersumber dari aliran Kali Ciherang, Sungai Citarum, dan Saluran Banjir Kanal Timur (BKT).

Dampak pencemaran itu pun dirasakan langsung oleh Azis. Dia mengaku sudah hampir dua bulan tidak melaut karena kerap pulang dengan tangan kosong. Padahal, perairan Muaragembong seharusnya berlimpah ikan, udang, kepiting, dan aneka hasil laut lainnya. Namun kini, semua itu semakin sulit dijumpai.

Dia berharap pemerintah pusat, provinsi, maupun kabupaten benar-benar turun tangan memulihkan lingkungan pesisir Muaragembong dan mencegah pencemaran terjadi kembali. Baginya, bantuan materi bukan jawaban atas persoalan yang dihadapi para nelayan saat ini.

“Jangan cuma datang bawa bantuan sesaat. Kami butuh pemulihan lingkungan. Biar kami bisa kembali melaut, tidak pulang dengan tangan kosong, dan dapat menghidupi keluarga,” tutup Azis. (Supri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *