Selain jalur akademik, ITPLN juga membuka pelatihan profesional bersertifikasi internasional. Calon operator PLTN diwajibkan mengikuti pelatihan intensif selama enam hingga 12 bulan sebelum memperoleh lisensi. Sementara itu, insinyur keselamatan dipersiapkan dengan keahlian radioproteksi dan analisis keselamatan reaktor, serta calon regulator difokuskan pada audit dan pengawasan kepatuhan.
Prof. Iwa menambahkan, kebutuhan SDM nuklir juga mencakup bidang radioactive engineering and management, mengingat isu nuklir selalu menjadi perhatian publik dan komunitas internasional.
“Indonesia membutuhkan banyak ahli nuklir. Di sisi lain, penerimaan publik terhadap PLTN juga harus dibangun melalui edukasi yang tepat dan berkelanjutan,” ujarnya.
Program pelatihan ini dihadiri perwakilan pemerintah Jepang, Amerika Serikat, dan Indonesia. Diskusi menyoroti posisi energi nuklir dalam Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) 2024–2060, serta potensi SMR sebagai sumber energi rendah karbon untuk memperkuat ketahanan energi nasional dengan standar keselamatan dan tata kelola yang ketat.
