PLTN Bukan Soal Teknologi, Rektor ITPLN Soroti Minimnya SDM Ahli Nuklir

ITPLN
Forum Japan–US Training Program on Responsible Use of Small Modular Reactor (SMR) Technology for Indonesia yang digelar Pemerintah Jepang dan Amerika Serikat di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tokyo. (Foto: Ist)

JAKARTA, Mediakarya – Wacana pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di Indonesia kembali menguat seiring dorongan transisi energi dan pengurangan emisi karbon. Namun di balik kesiapan teknologi, Indonesia masih menghadapi persoalan mendasar: keterbatasan sumber daya manusia (SDM) ahli nuklir.

Isu tersebut mengemuka dalam Japan–US Training Program on Responsible Use of Small Modular Reactor (SMR) Technology for Indonesia yang digelar Pemerintah Jepang dan Amerika Serikat di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tokyo.

Rektor Institut Teknologi PLN (ITPLN), Prof. Iwa Garniwa, menegaskan bahwa tantangan terbesar pengembangan PLTN bukan pada penguasaan teknologi, melainkan kesiapan tenaga ahli dengan kompetensi khusus nuklir.

“Untuk satu unit PLTN saja dibutuhkan sedikitnya 1.200 SDM berkompetensi spesifik. Jika Indonesia membangun tiga hingga empat unit PLTN hingga 2045, kebutuhan tenaga ahli nuklir akan meningkat menjadi ribuan orang,” ujar Prof. Iwa, Selasa (20/1/2026).

Exit mobile version