KABUL, Mediakarya – Seorang asisten profesor Afghanistan Khalilullah Tawhidyar terpaksa menjadi pekerja bangunan. Profesi itu ia lakukan lantaran selama berbulan-bulan tidak mendapatkan gaji dari pemerintah akibat kudeta yang dilakukan oleh pasukan Taliban.
Khalilullah Tawhidyar juga megaku pekerjaaan yang saat ini dilakukannya sebagai tanggung jawab dirinya untuk menafkahi keluarga. Menurut Khalilullah Tawhidyar dengan 300 afghani (US$3,30 atau sekitar Rp50.000) yang diperolehnya hari itu, dia membeli perbekalan untuk keluarganya.
Mantan anggota satuan tugas pemerintah untuk reformasi pendidikan, yang mengajar Bahasa Inggris di Universitas Parwan di utara Kabul, adalah satu dari ribuan warga kelas menengah, warga Afghanistan berpendidikan yang memerangi kemiskinan saat ekonomi negara itu goyah.
“Saya tidak punya pilihan,” kata Tawhidyar yang dikutip dari Reuters, Selasa (2/11/2021).
Dia mengaku belum menerima gajinya selama tiga bulan. “Ini adalah kisah banyak orang terpelajar di sini sekarang.”
Tawhidyar, yang memiliki gelar master dari India dan telah mengikuti kursus di Malaysia dan Sri Lanka, mengatakan dia mengambil pekerjaan kasar setelah dia kehabisan uang dan makanan.
Meskipun terkadang dia masuk ke universitas negeri tempat dia bekerja, kelas belum dilanjutkan karena kekurangan dana.
Seperti banyak rumah tangga Afghanistan, Tawhidyar tinggal bersama keluarga besarnya, dan 17 orang bergantung pada gajinya.
“Saya menghasilkan cukup uang untuk memenuhi kebutuhan saya,” kata pria berusia 36 tahun itu, sebagaimana laman Tempo memberitakan.
Ketika gaji berhenti, dia meminjam dari teman dan kerabat, tetapi pinjaman itu habis beberapa minggu yang lalu. Pada saat itu, istrinya yang sedang hamil besar telah melewatkan dua janji dengan dokter.
“Situasinya memburuk saat tidak punya roti…kami hanya menanak nasi dan kemudian nasi juga habis,” katanya. (dji)
