Kisah Kasih di Sejarah Mutakhir Kita

- Editor

Kamis, 11 Juni 2026 - 08:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Prof. Dr. Yudhie Haryono

Prof. Dr. Yudhie Haryono

Yudhie Haryono | CEO Nusantara Centre

SEJARARAH Indonesia pada dasarnya bukan dimulai dari bencana alam, bukan dari revolusi, dan bukan pula dari rakyat miskin yang marah. Sejarah negara kita dimulai dari kebutuhan manusia untuk saling memanusiakan.

Kisah Indonesia dimulai dengan gotong royong, tapi dinikmati dengan gotong nyolong. Indonesia diproduksi dengan “melihat ke luar” tapi ditradisi dengan “melihat ke dalam.” Indonesia diciptakan dengan pluralisme tapi dibiasakan dengan sinisme.

Dulu, seiya sekata lalu seiya sekapital dan segunung selautan rakusnya. Maka, lidah elite-elite kita nggedabruz penuh kasih. Tapi, egonya lebih keras daripada imannya. Akhirnya, elite-elite itu di republik ini cuma merasa iman tanpa amal; bangga saleh ritual, anti saleh sosial.

Sifat dan sikap aslinya khianat bin munafik: ngomong tanpa melakukan. Tentu saja, menghabisi praktik kedunguan itu menjengkelkan tapi menikam mati kebodohan yang berkuasa jauh lebih melelahkan.

Karenanya, perbanyak tenaga dan kejeniusan jika ingin menang dalam arena peperangan semesta ini. Perluas pengetahuan dan perkuat iman jika ingin kokoh dalam arena tanding yang tidak tak berkesudahan.

Kini membaca dan mencandramu: Aku telah tak pedulikan badai yang dulu tinggal di jiwaku; banjir yang pernah bandang kini hanya lewat pelan seperti ibu yang menyelimuti anaknya sebelum tidur. Caci maki hanya derit suara yang kubiarkan berlalu tanpa didengarkan apalagi diperhatikan.

Padahal, “masalah makan, ini masalah sakral,” demikian presiden Prabowo tegaskan berkali-kali di depan pejabat dan warga negara. “Makan” selalu berhubungan dengan kemerdekaan, kedaulatan, persamaan nasib dan perjuangan, serta tradisi memanusiakan sesama: sebagai pondasi hadirnya Indonesia.

Baca Juga:  Dua Ekonom Ini Nilai Kondisi Perekonomian Indonesia Masih “Terjajah”

Tetapi, kudengar para penghuni Indonesia mendengkur karena lelah bercumbu di luar. Tentu getir. Tapi mungkin itu takdir: ditolak dan dicampakkan candu yang dulu begitu menggelegar. Semesta mengujiku begitu dahsyat: prestasiku hanya sesaat dan disayat-sayat.

81 tahun lalu. Para pendiri republik dan segala kenangan. Dalam derap perlawanan. Di bawah payung agung pikiran kenusantaraan. Menyatu dalam waktu yang berjalan. Menyusun optimisme dan merenda keajaiban.

Padahal, bermilyar purnama lalu aku menunggumu di sini. Tetapi, kamu tak pernah mau tahu. Kamu terterjang banjir besar (pasar dan neoliberal) sampai membawa semua politisi kita untuk mengkhianati pancasila dan konstitusi asli. Ya, kemiskinan itu memabukkan, tetapi kekayaan jauh lebih melenakan dan kekuasaan itu candu yang menerjang lebih cepat dari peluru.

Setelah semilyar purnama, sadar aku kini sendirian. Kehilangan jiwa raga kalian yang sunyi dalam bayangan. Kota-kota Purwokerto, Solo, Semarang, Jogja dan Jakarta hanya abjad. Jalan-jalan itu tinggal tapak debu tersapu letusan Merapi dan kesengsaraan. Buku, jurnal dan artikel tak lagi bernyawa dalam api keindonesiaan.

Akhirnya, setelah meriset dan menerbitkan buku-buku yang bermutu hatiku memilih diam bukan karena sudah tidak merasa, tetapi karena telah mengerti: beberapa luka cukup dikenang tanpa harus dibuka lagi. Meriset, mengetik, mengajar, menunggu, mati (5M) itu kini takdirku. Begitulah kisah kasih di sejarah tanah airku, tumpah darahku dan legenda udaraku. **

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Kantor Dinas LH Adalah Ruang Publik-Bukan Istana Tertutup
Pasca Putusan MK: Siapkah MPR Bergerak Produktif dan Berintegrasi?
Agensi Ekonomi Heterodoks di Indonesia
Bengawan Kejaksaan: Tindakan Disiplin dari Tingkat Pusat Hingga Daerah
Pengawasan Lelang Proyek Jangan Formalitas: Belajar dari Proyek Jalan Poros Lingkar Waduk Penjalin Brebes
Putusan MK Telah Diucapkan: Fakta Tersedia dan Jalur Hukum yang Terbuka di Hadapan Kita
Negara Darurat Cognitif Reselience
Orang Superkaya Melonjak 81.7%, Pertumbuhan Tertinggi di Dunia, Tapi Kemana Ksesejahteraan Rakyat?

Berita Terkait

Jumat, 9 Oktober 2026 - 21:55 WIB

Kantor Dinas LH Adalah Ruang Publik-Bukan Istana Tertutup

Jumat, 9 Oktober 2026 - 21:11 WIB

Pasca Putusan MK: Siapkah MPR Bergerak Produktif dan Berintegrasi?

Jumat, 9 Oktober 2026 - 18:55 WIB

Agensi Ekonomi Heterodoks di Indonesia

Jumat, 9 Oktober 2026 - 11:35 WIB

Bengawan Kejaksaan: Tindakan Disiplin dari Tingkat Pusat Hingga Daerah

Kamis, 8 Oktober 2026 - 09:36 WIB

Pengawasan Lelang Proyek Jangan Formalitas: Belajar dari Proyek Jalan Poros Lingkar Waduk Penjalin Brebes

Berita Terbaru

Anggota Komisi II DPR RI Fraksi PKS Mardani Ali Sera

Nasional

Wacana Pansus Hak Angket Ijazah Gibran Bergulir di Senayan

Jumat, 9 Okt 2026 - 23:42 WIB

Wakil Ketua Umum Golkar Ahmad Doli Kurnia

Nasional

Golkar Dukung Prabowo 2029 Cawapresnya Belakangan

Jumat, 9 Okt 2026 - 23:37 WIB