Alasan Ade Jaro Sebut Soeharto Pantas Jadi Pahlawan

- Penulis

Selasa, 11 November 2025 - 18:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

JAKARTA,MediaKarya: Maraknya perdebatan terkait gelar Pahlawan untuk presiden RI ke dua Jenderal Besar TNI (Purn) H. M Soeharto membuat Wakil Bupati Kabupaten Bogor H. Ade Ruhandi yang akrab disapa Jaro Ade angkat bicara.

Menurutnya, H.M Soeharto sangat pantas diberikan gelar Pahlawan atas pengabdian sebagai seorang Presiden dan upaya Soeharto menegakkan supremasi dasar negara Pancasila dari gerakan G-30S PKI.

Selain penumpasan PKI yang telah menelan korban enam jenderal serta satu perwira menengah dan dikenal sebagai tujuh Pahlawan Revolusi, Soeharto juga berperan penting dalam menyetabilkan politik dalam negeri yang kala itu penuh dengan propaganda dan himpitan ekonomi yang sulit.

Rakyat sangat menderita dibawah kepemimpinannya Indonesia perlahan mulai bangkit pada zaman Orde Baru. Terlepas dari berbagai kekurangannya Orde Baru memberikan harapan baru saat itu stabilitas politik, ekonomi tumbuh, pembangunan mengalami percepatan dan ketahanan pangan yang tangguh untuk kesejahteraan rakyat.

Memang tidak mudah memimpin sebuah bangsa dalam kondisi yang chaos, namun dengan tangan dinginnya Soeharto mampu membawa Indonesia terbang menjadi sebuah negara yang disegani dikawasan.

Baca Juga:  Wacana Duet Ganjar-Puan Mengemuka, Pengamat Nilai Solusi Jalan Tengah

“Jika para Jenderal yang terbunuh dari sebuah gerakan makar G 30S PKI diberikan gelar pahlawan maka sangatlah wajar Jenderal yang menumpas PKI itu diberikan gelar Pahlawan juga,” Tegas Jaro Ade dalam keterangan tertulis, Selasa, (11/25).

Sebagai anak bangsa Jaro Ade merasakan pengabdian serta banyak langkah strategis yang baik dilakukan oleh Presiden RI ke dua H. M Soeharto untuk bangsa Indonesia.

Disisi lain Jaro Ade juga mengingatkan sebagai kader partai Golkar agar tidak lupa dengan sejarah, Golkar menjadi besar dan tumbuh sebagai pilar demokrasi yang kuat atas jasa jasa Soeharto.

“Maka sebagai partai yang tidak lupa kacang pada kulitnya sudah tepat Golkar dibawah komando ketua umumnya Bahlil Lahadalia mengusulkan dan mendukung pak Harto untuk diberikan gelar pahlawan bersama 9 tokoh lainnya, selain itu baiknya golkar juga memberikan ruang bagi cendana untuk mengisi posisi yang strategis misalnya posisi pembina, penasihat dewan pakar atau posisi lain. Ini jauh memberikan banyak manfaat buat Golkar kedepan sebagai wadah aspirasi masyarakat menuju golkar bangkit,” ujar Ade Jaro.

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait

Rapat Pleno Terkesan Buram, Kredibilitas Ketum AMPG Dipertanyakan
Reses Oktavianus Bu’ulolo ke-V, Aspirasi Didominasi Peningkatan Infrastruktur Dan Air Bersih
Ketika Otoritarianisme Berkostum Hukum
Jelang Puncak Ibadah Haji, Kepala BPKN Imbau Seluruh Jamaah Haji Indonesia Jaga Kondisi Fisik
Jakarta 22 Satukan Komunitas Kreatif Sambut Jakarta 500 Tahun
Kemenag Buka Pendaftaran Seleksi Bakal Calon Anggota Majelis Masyayikh Pesantren, Ini Syaratnya
Politisi PDIP Sebut Banyak Kades Tak Paham Soal Mekanisme KDMP
Pengungkapan Kasus Dugaan Korupsi Pompanisasi Mandek, ETOS: Siapa di Belakang Kepala Dinas SDA Pemprov DKI?
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 24 Mei 2026 - 21:48 WIB

Rapat Pleno Terkesan Buram, Kredibilitas Ketum AMPG Dipertanyakan

Minggu, 24 Mei 2026 - 18:54 WIB

Reses Oktavianus Bu’ulolo ke-V, Aspirasi Didominasi Peningkatan Infrastruktur Dan Air Bersih

Minggu, 24 Mei 2026 - 16:53 WIB

Ketika Otoritarianisme Berkostum Hukum

Minggu, 24 Mei 2026 - 11:15 WIB

Jelang Puncak Ibadah Haji, Kepala BPKN Imbau Seluruh Jamaah Haji Indonesia Jaga Kondisi Fisik

Minggu, 24 Mei 2026 - 10:26 WIB

Jakarta 22 Satukan Komunitas Kreatif Sambut Jakarta 500 Tahun

Berita Terbaru

Dokumentasi pelantikan Pengurus Pusat AMPG Periode 2024-2029 (foto; dok. Mediakarya

Megapolitan

Rapat Pleno Terkesan Buram, Kredibilitas Ketum AMPG Dipertanyakan

Minggu, 24 Mei 2026 - 21:48 WIB

Ilustrasi  (Foto: Istimewa)

Opini

Ketika Otoritarianisme Berkostum Hukum

Minggu, 24 Mei 2026 - 16:53 WIB