Rekrutmen KPK: 5 Tahun Pengalaman “Relevan”? Relevan Buat Siapa?

- Editor

Kamis, 13 November 2025 - 22:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gedung KPK RI, (Foto: Mediakarya)

Gedung KPK RI, (Foto: Mediakarya)

Oleh Iskandar Sitorus, Sekretaris Pendiri Indonesian Audit Watch (IAW)

Kalimat “pengalaman jabatan relevan minimal lima tahun” belakangan terdengar bak mantra wajib dalam setiap rekrutmen pejabat strategis, termasuk di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tahun 2025 ini. Tapi kalau ditanya, “relevan itu apa?”, di situlah petualangan logika dimulai.

KPK bilang: syarat lima tahun itu untuk menjamin profesionalitas. Tapi BPK selama sepuluh tahun terakhir justru berkali-kali menemukan kelemahan dalam sistem rekrutmen di sana, yakni parameter kabur, merit system lemah, dan terlalu administratif. Hasilnya, kursi-kursi strategis sering diisi bukan oleh yang paling kompeten, tapi oleh yang paling “terdaftar”.

Formalitas versus substansi

Kalau mengacu ke UU ASN dan PP 11/2017, syarat “pengalaman relevan lima tahun” memang sah secara hukum. Tapi secara substansi, ini seperti mengukur kecakapan berenang dari lamanya berdiri di pinggir kolam.

Lima tahun di KPK, Kejaksaan, atau Polri punya karakter kerja yang berbeda. Tapi di atas kertas, semuanya dianggap “relevan”. Di sinilah celah bias muncul, karena tafsir subjektif bisa membuka ruang lobi, dan lobi bisa merobohkan semangat meritokrasi.

Indonesian Audit Watch menilai, “Kalimat relevan ini terlalu lentur untuk lembaga sekeras KPK. Di tangan yang salah, kelenturannya bisa jadi alat penyaring selera, bukan integritas.”

BPK sudah bilang: ukur dong, jangan asal tulis

Dari LHP BPK 2015–2024, pola yang sama terus berulang, yaitu KPK disarankan memperkuat indikator objektif dalam rekrutmen. Tapi yang terjadi, indikator justru makin kabur pasca revisi UU KPK 2019. TWK dulu dijadikan filter ideologi, kini “pengalaman relevan” dijadikan pagar administrasi. Semuanya tampak sah, tapi tidak otomatis melahirkan penyidik atau direktur dengan kompetensi khas anti-korupsi.

Baca Juga:  Jenderal Andika Dinilai Mampu Bawa TNI Jadi Institusi Profesional

Kasus terkini: Direktur Penyelidikan 2025

Lihat saja seleksi Direktur Penyelidikan. Dari lima kandidat, ada yang dari Kejaksaan, ada yang dari internal KPK. Sama-sama punya “lima tahun pengalaman”, tapi apa bobotnya sama? Lima tahun mengusut kasus tindak pidana umum tentu beda dengan lima tahun di jantung penyelidikan korupsi. Sayangnya, mekanisme validasi pengalaman masih lemah, tak ada uji independen, tak ada matriks poin yang menilai kualitas tugas. Lalu dimana relevansi tersebut berada?

Solusi ala IAW relevan harus diukur, bukan dirasakan

IAW mengusulkan agar KPK menerbitkan Peraturan Khusus tentang Penilaian Pengalaman Relevan, lengkap dengan:

  1. Matriks kompetensi tiap jabatan.
  2. Sistem poin yang menilai impact pekerjaan.
  3. Mekanisme rekognisi pengalaman non-struktural (seperti investigasi kolaboratif, atau advokasi publik).
  4. Assessment-nya jangan administratif.
  5. Gunakan model FBI & ICAC: simulasi kasus, tes integritas berbasis stres, dan uji kepemimpinan di bawah tekanan.

“Kalau koruptor mainnya di dunia digital, masa penyidiknya masih disaring pakai SK dan lamanya masa kerja?”

KPK excellence framework, versi IAW

Dalam model ideal, pengalaman relevan dinilai dengan proporsi seimbang yakni 40% kompetensi teknis, 40% integritas & kepemimpinan, 20% kecocokan budaya dan visi lembaga.

Lima tahun tetap baseline, tapi bukan segalanya. Karena tiga tahun pengalaman ber-impact tinggi lebih berharga daripada lima tahun yang hanya rutin menandatangani disposisi.

Penutup

Jadi, ketika KPK bilang calon pejabatnya harus punya “pengalaman relevan lima tahun”, publik berhak bertanya balik, “Relevan buat siapa? Untuk pekerjaannya, atau untuk kenyamanan sistemnya?”

Kalau KPK benar-benar ingin menegakkan integritas, maka “relevan” harus bermakna, relevan dengan tantangan zaman, bukan sekadar lamanya masa kerja. Sebab korupsi hari ini tidak menunggu lima tahun untuk beradaptasi.

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait

Fenomena Kepala Daerah Andalkan Mensos Jadi Sarana Pencitraan: Menara Pasir Popularitas Pemimpin Populis
Menakar Istilah “Londo Ireng” di Lingkungan Birokrasi
Bukan Vonis Profesi, Tapi Teguran Bagi Jiwa yang Masih Menjajah
PDAB Tirtatama DIY Raih Pemred Award 2026 atas Komitmen Hadirkan Layanan Air Bersih Berkualitas
Menteri Transmigrasi Beri Pesan Khusus untuk Azka: “Zero Poverty, Belajarlah dengan Rendah Hati di Amsterdam”
TPS3R Prabu Recycle, Upaya Warga Kurangi Beban Sampah ke TPA Burangkeng
Dihadapan Haji Ghoni Cs, Gubernur Pramono Berpesan Perkuat Peran Budaya Betawi Menuju Jakarta Kota Global
Menimbang Bioetanol Berbasis Tetes Tebu 

Berita Terkait

Senin, 27 Juli 2026 - 08:48 WIB

Fenomena Kepala Daerah Andalkan Mensos Jadi Sarana Pencitraan: Menara Pasir Popularitas Pemimpin Populis

Senin, 27 Juli 2026 - 07:48 WIB

Menakar Istilah “Londo Ireng” di Lingkungan Birokrasi

Minggu, 26 Juli 2026 - 09:16 WIB

Bukan Vonis Profesi, Tapi Teguran Bagi Jiwa yang Masih Menjajah

Sabtu, 25 Juli 2026 - 10:41 WIB

Menteri Transmigrasi Beri Pesan Khusus untuk Azka: “Zero Poverty, Belajarlah dengan Rendah Hati di Amsterdam”

Jumat, 24 Juli 2026 - 20:19 WIB

TPS3R Prabu Recycle, Upaya Warga Kurangi Beban Sampah ke TPA Burangkeng

Berita Terbaru

Ilustrasi (Foto: istiimewa)

Opini

Menakar Istilah “Londo Ireng” di Lingkungan Birokrasi

Senin, 27 Jul 2026 - 07:48 WIB