Peringatan Perdamaian Aceh Berujung Pengibaran Bendera Bulan Bintang

- Editor

Minggu, 16 Agustus 2026 - 07:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Peringatan 21 tahun perdamaian Aceh di kawasan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Sabtu (15/8/2026),

Peringatan 21 tahun perdamaian Aceh di kawasan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Sabtu (15/8/2026),

BANDA ACEH, Mediakarya — Peringatan 21 tahun perdamaian Aceh di kawasan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Sabtu (15/8/2026), yang sejak pagi diwarnai doa, zikir, dan penyampaian aspirasi, berakhir ricuh. Massa terlibat bentrokan dengan aparat keamanan setelah rangkaian orasi politik berakhir menjelang tengah hari.

Pantauan Mediakarya.id di lapangan, suasana di kawasan Masjid Raya Baiturrahman sebenarnya telah mulai ramai sejak selepas salat Subuh.

Masyarakat dari berbagai daerah berdatangan untuk mengikuti rangkaian kegiatan memperingati 21 tahun penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki antara Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Peringatan tersebut menjadi momentum untuk mengenang 15 Agustus 2005, ketika kesepakatan damai ditandatangani dan konflik bersenjata di Aceh memasuki babak baru.

Sejak pagi, halaman Masjid Raya Baiturrahman dipenuhi masyarakat. Doa dan zikir menjadi bagian awal kegiatan. Massa mengikuti doa tolak bala dan zikir bersama dengan suasana yang relatif tertib.
Namun, memasuki siang hari, atmosfer kegiatan mulai berubah.

Dari Zikir ke Orasi Aspirasi Perdamaian Aceh

Setelah rangkaian doa dan zikir, kegiatan berlanjut dengan penyampaian aspirasi melalui orasi. Sejumlah massa menyampaikan pandangan mengenai perjalanan perdamaian Aceh selama 21 tahun. Aspirasi tersebut antara lain berkaitan dengan implementasi MoU Helsinki, kesejahteraan masyarakat, kekhususan Aceh, serta keberlanjutan berbagai regulasi yang lahir setelah kesepakatan damai.

Sejumlah tuntutan juga disampaikan melalui petisi. Pada tahap ini, massa masih berkumpul di sekitar halaman Masjid Raya Baiturrahman. Aktivitas masyarakat dan peserta kegiatan berlangsung di tengah penjagaan aparat keamanan.

Namun, situasi berubah setelah rangkaian orasi berakhir. Pantauan di lokasi menunjukkan ketegangan mulai meningkat sekitar pukul 11.25 WIB. Kerumunan massa yang sebelumnya mengikuti kegiatan mulai berhadapan dengan aparat keamanan. Dalam situasi tersebut, terjadi aksi pelemparan batu ke arah kendaraan personel Brimob.

Aksi tersebut kemudian memicu respons aparat. Sejumlah dentuman terdengar dari arah aparat ketika petugas berupaya mengendalikan massa dan mencegah kerumunan semakin meluas.
Situasi yang sebelumnya merupakan kegiatan peringatan perdamaian berubah menjadi bentrokan terbuka.

Ketegangan semakin meningkat setelah terjadi aksi penurunan bendera Merah Putih dan pengibaran bendera Bulan Bintang di lokasi kegiatan. Aksi tersebut berlangsung ketika situasi di sekitar halaman Masjid Raya Baiturrahman sudah mulai memanas.

Aparat kemudian berusaha mengendalikan massa. Dalam kondisi tersebut, terjadi aksi saling berhadapan antara massa dan petugas keamanan. Batu dan sejumlah benda keras dilaporkan dilemparkan ke arah aparat.

Baca Juga:  ART Kalina Ocktaranny Bawa Kabur Uang sang Ibunda Rp70 Juta

Petugas akhirnya menggunakan gas air mata untuk membubarkan kerumunan. Warga Berhamburan, Sejumlah Orang Terluka. Pantauan di lokasi memperlihatkan warga yang berada di sekitar halaman masjid mulai berhamburan ketika gas air mata ditembakkan.

Sebagian peserta berlari menjauh dari pusat kericuhan. Warga yang sebelumnya berada di sekitar kawasan masjid berusaha mencari lokasi aman untuk menghindari kepulan gas air mata. Kericuhan tersebut juga menyebabkan sejumlah warga dilaporkan mengalami luka-luka.

Hingga berita ini ditulis, jumlah pasti korban serta tingkat luka masing-masing korban masih menunggu keterangan resmi dari pihak berwenang.

Ironi di Tengah Peringatan Perdamaian

Kericuhan di halaman Masjid Raya Baiturrahman menjadi ironi dalam peringatan 21 tahun perdamaian Aceh. Kegiatan yang sejak pagi dimulai dengan doa dan zikir untuk mengenang berakhirnya konflik justru berakhir dengan bentrokan antara massa dan aparat.

Masjid Raya Baiturrahman yang menjadi simbol penting kehidupan masyarakat Aceh menjadi saksi perubahan suasana tersebut—dari lantunan doa, zikir dan seruan perdamaian menjadi kepanikan akibat bentrokan dan gas air mata.

Peringatan 21 tahun damai Aceh pun akhirnya tidak hanya menyisakan pesan tentang keberhasilan menghentikan konflik bersenjata, tetapi juga memperlihatkan masih adanya persoalan dan aspirasi yang ingin disampaikan sebagian masyarakat.

Menjaga Perdamaian di Tengah Aspirasi
Dua puluh satu tahun setelah MoU Helsinki, perdamaian Aceh tetap menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah modern Aceh.

Namun, perdamaian tidak hanya membutuhkan absennya konflik bersenjata. Perdamaian juga membutuhkan ruang dialog, penghormatan terhadap hukum, kebebasan menyampaikan aspirasi secara tertib, serta kemampuan seluruh pihak menahan diri ketika terjadi perbedaan pandangan.

Kericuhan di Masjid Raya Baiturrahman menjadi pelajaran penting bahwa setiap persoalan yang muncul dalam perjalanan perdamaian perlu diselesaikan melalui dialog dan mekanisme hukum, bukan melalui kekerasan.

Hingga Sabtu siang, aparat keamanan masih melakukan pengamanan di sekitar kawasan Masjid Raya Baiturrahman untuk mengendalikan situasi dan mencegah kericuhan meluas.

Masyarakat Banda Aceh juga diimbau tetap tenang serta tidak mudah terprovokasi informasi yang belum terverifikasi.

Peringatan 21 tahun perdamaian Aceh seharusnya menjadi ruang untuk mengingat bagaimana konflik berakhir, sekaligus menjadi momentum untuk memastikan bahwa Aceh tidak kembali terjebak dalam lingkaran kekerasan. (Malik)

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Negara Darurat Cognitif Reselience
GNK Minta Kapolri Baru Dukung KPK Usut Tuntas Kasus Kuota Haji dan Dugaan Suap di ATR/BPN
PPI Siap Tempuh Jalur Hukum Terhadap Pihak-pihak yang Fitnah Kapolri Suyudi Ario Seto
Praperadilan PT ACT Marine Transport dan PT ACT Logistik Internasional, Dua Ahli Soroti Dua Alat Bukti dan Keabsahan Penetapan Tersangka
Haidar Alwi: Legacy Listyo Sigit Jadi Fondasi Strategis Akselerasi Kepemimpinan Suyudi Ario Seto
Buntut Temuan Hunian Mewah di Lapas, Kemenimipas Pecat Kalapas Cibinong dan Sanksi 16 Pegawai
Islah Bahrawi Soroti Dugaan Money Politics di Muktamar NU dan Peran AHWA
Prof Siti Zuhro Usul Sekda Jadi Pj Kepala Daerah Jelang Pemilu Lokal 2031

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 05:15 WIB

Negara Darurat Cognitif Reselience

Selasa, 6 Oktober 2026 - 16:04 WIB

GNK Minta Kapolri Baru Dukung KPK Usut Tuntas Kasus Kuota Haji dan Dugaan Suap di ATR/BPN

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:24 WIB

PPI Siap Tempuh Jalur Hukum Terhadap Pihak-pihak yang Fitnah Kapolri Suyudi Ario Seto

Selasa, 6 Oktober 2026 - 11:16 WIB

Praperadilan PT ACT Marine Transport dan PT ACT Logistik Internasional, Dua Ahli Soroti Dua Alat Bukti dan Keabsahan Penetapan Tersangka

Selasa, 6 Oktober 2026 - 05:26 WIB

Haidar Alwi: Legacy Listyo Sigit Jadi Fondasi Strategis Akselerasi Kepemimpinan Suyudi Ario Seto

Berita Terbaru

Yudhie Haryono (CEO Nusantara Centre) & Agus Rizal (Ekonom Strukturalis di Nusantara Centre)

Headline

Negara Darurat Cognitif Reselience

Rabu, 7 Okt 2026 - 05:15 WIB

Presiden Prabowo Subianto

Nasional

Prabowo Jokowi Makan Malam Bersama Saat Putusan Sidang MK

Rabu, 7 Okt 2026 - 01:56 WIB