Pakar Komunikasi Politik Nilai Manuver Dedi Mulyadi: Investasi Menuju 2029, Berpotensi Picu Gejolak di Tubuh Gerindra

- Editor

Rabu, 7 Oktober 2026 - 12:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dedi Mulyadi (Gubernur Jawa Barat) bersama Wali Kota Bekasi Tri Adhianto saat diwawancara media di Plaza Pemkot pada Jumat (04/09/26)

Dedi Mulyadi (Gubernur Jawa Barat) bersama Wali Kota Bekasi Tri Adhianto saat diwawancara media di Plaza Pemkot pada Jumat (04/09/26)

JAKARTA, Mediakarya – Aktivitas masif Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau yang akrab disapa KDM di media sosial dinilai bukan sekadar kehadiran biasa, melainkan langkah terukur: sebuah investasi politik jangka panjang yang menatap Pemilihan Presiden 2029.

Pakar Komunikasi Politik Dr. Adi Suparto menegaskan, apa yang dilakukan KDM di ruang digital adalah strategi yang dirancang untuk memperluas jangkauan popularitasnya melampaui batas wilayah Jawa Barat.

“Apa yang dilakukan KDM saat ini adalah investasi politik jangka panjang. Aktivitasnya di media sosial itu bukan sekadar pencitraan, melainkan strategi komunikasi politik yang terukur untuk membangun popularitas berskala nasional,” ujar Adi Suparto kepada Mediakarya, Rabu (7/10/2026).

Pola komunikasi publik yang ditampilkan aktif, dekat, mengangkat suara rakyat kecil, dapat menjalin ikatan emosional yang kuat. Hal ini terlihat jelas dari lonjakan elektabilitasnya dalam berbagai survei nasional.

“Gaya komunikasinya yang populis, yang merangkul rakyat bawah, berhasil membangun ikatan batin. Inilah yang membuat elektabilitasnya naik signifikan,” katanya.

Namun demikian, Adi mengingatkan, popularitas yang tumbuh di ruang digital belum tentu berubah menjadi kekuatan politik riil tanpa kendaraan yang tepat. Hal ini sejalan dengan catatan lembaga survei Indonesia Political Opinion (IPO).

“Popularitas tinggi di TikTok atau Instagram belum tentu berjalan seiring dengan kekuatan mesin politik. Tetap dibutuhkan dukungan partai besar,” tegasnya.

Sementara itu, langkah yang diambil KDM dinilai belum tepat waktunya, mengingat ia masih bernaung di Partai Gerindra, partai yang telah menegaskan arah dukungan untuk kembali mengusung Presiden Prabowo Subianto pada 2029.

Baca Juga:  Dinilai Mampu Lanjutkan Legacy Jokowi, PSI Mulai 'Elus' Heru Budi Hartono Manggung di 2024

“Manuver ini menjadi kurang tepat karena ia masih berada di rumah Gerindra. Sementara arah partai sudah jelas, kembali mengusung Pak Prabowo,” ujar Adi.

Posisi KDM di Gerindra juga disoroti sebagai hal yang unik. Sebelumnya ia dikenal tumbuh dan berkarier di Partai Golkar, sehingga kehadirannya di lingkungan baru dinilai belum sepenuhnya melebur.

Sebagian pengamat pun menyarankan agar KDM mempertimbangkan pindah ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI) jika ingin bergerak lebih leluasa, tanpa hambatan dari dalam.

Pedang Bermata Dua: Popularitas yang Mengundang Cemburu

Popularitas KDM yang melesat di Jawa Barat diibaratkan pedang bermata dua. Di satu sisi menjadi aset berharga bagi partai, di sisi lain berpotensi memicu kecemburuan dan ketegangan jika tidak diiringi kehati-hatian serta etika politik yang santun.

“Jika langkah politik pribadinya dianggap melampaui batas atau tidak sejalan dengan arah pimpinan partai, terbuka kemungkinan ia justru tersisih dari struktur kekuasaan di Gerindra,” peringatnya.

Terkait isu perpindahan ke PSI, hal itu dinilai wajar muncul di tengah namanya yang kian bersinar. Namun baik pihak Gerindra maupun KDM sendiri telah membantah keras kabar tersebut. Gerindra Jawa Barat menyatakan KDM terkejut mendengar rumor itu dan menegaskan tetap setia sebagai anggota Dewan Pembina DPP Partai Gerindra.

Demikian pula soal wacana dipasangkan dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, KDM menanggapinya dengan tenang. Ia menegaskan fokus saat ini hanyalah menjalankan amanah sebagai Gubernur Jawa Barat sebaik-baiknya, tanpa teralihkan oleh peta politik 2029 yang masih terus berubah. (Indra)

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Musda Golkar Kota Bekasi di Ujung Mata, Beringin Institut: Pilih Ketua Nomor Dua, Bersih-bersih yang Utama
Islah Bahrawi Soroti Dugaan Money Politics di Muktamar NU dan Peran AHWA
Prof Siti Zuhro Usul Sekda Jadi Pj Kepala Daerah Jelang Pemilu Lokal 2031
Dari Anwar Usman Hingga Rocky Gerung, ETOS: Negara Ini Banyak Pelacur Politik
Pecah Kongsi Prabowo-Jokowi? Reshuffle Ketujuh Geser Geng Solo dari Pos Strategis
GNK Soroti Komposisi Wantimpres, Singgung Gaya Komunikasi Rocky Gerung
Mantan WK MPO Golkar Jabar: Duet Bahlil-Sarmuji Bawa Golkar Naik Kelas
Etos Indonesia Desak DPP Golkar Cabut Surat Diskresi Ranny Fahd Arafiq: Istri Koruptor Hattrick Ancam Elektoral Partai

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 12:54 WIB

Musda Golkar Kota Bekasi di Ujung Mata, Beringin Institut: Pilih Ketua Nomor Dua, Bersih-bersih yang Utama

Rabu, 7 Oktober 2026 - 12:20 WIB

Pakar Komunikasi Politik Nilai Manuver Dedi Mulyadi: Investasi Menuju 2029, Berpotensi Picu Gejolak di Tubuh Gerindra

Senin, 5 Oktober 2026 - 08:53 WIB

Islah Bahrawi Soroti Dugaan Money Politics di Muktamar NU dan Peran AHWA

Senin, 5 Oktober 2026 - 08:04 WIB

Prof Siti Zuhro Usul Sekda Jadi Pj Kepala Daerah Jelang Pemilu Lokal 2031

Minggu, 4 Oktober 2026 - 07:58 WIB

Dari Anwar Usman Hingga Rocky Gerung, ETOS: Negara Ini Banyak Pelacur Politik

Berita Terbaru