Soal Isu Wapres Diganti Puan Maharani, IPPS: Prabowo Sedang Kelola Krisis Ijazah

- Editor

Jumat, 9 Oktober 2026 - 08:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Yusuf Blegur, Direktur eksekutif IPPS Indonesia (Foto:  dok. Mediakarya)

Yusuf Blegur, Direktur eksekutif IPPS Indonesia (Foto: dok. Mediakarya)

JAKARTA, Mediakarya – Direktur Eksekutif Institute for Public Policy Strategic (IPPS) Yusuf Blegur menilai posisi politik Joko Widodo (Jokowi) berada di ujung tanduk, seiring menguatnya isu pemakzulan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Hal itu disampaikan Yusuf dalam analisis politiknya menanggapi dinamika pasca putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait ijazah Gibran pada 6 Oktober 2026 dan arah politik Presiden Prabowo Subianto.

“Posisioning Jokowi di ujung tanduk. Jika Gibran dilengserkan rakyat atau di-impeachment oleh DPR, boleh jadi itu menjadi jalan terbuka mengadili Jokowi. Tapi mungkinkah? Bagaimana langkah politik Prabowo selanjutnya?” ujar Yusuf dalam keterangannya, Jumat (9/10/2026).

Menurut Yusuf, drama politik saat ini bergulir dengan episode panjang. Ia menilai belum pernah dalam sejarah republik, seorang wakil presiden mendapat tekanan publik seperti yang dialami Gibran, mulai dari proses politik meraih kursi Wapres hingga kapasitasnya yang terus menjadi sorotan.

Yusuf menyoroti putusan MK pada 6 Oktober 2026 perihal ijazah SMA Gibran yang menurutnya dipublikasikan secara politis dan bersayap. Ia menafsirkan putusan tersebut membuka ruang dan babak baru.

“Yang paling substansial ialah MK membuka ruang dan babak baru upaya menggerus jabatan Wapres. MK menyatakan tidak menemukan bukti bahwa Gibran memiliki ijazah setara SMA sesuai UU Pemilu. Sepertinya terkait ijazah SMA Gibran, MK sedang menggiring proses hukum menuju proses politik. Bola kini di tangan DPR,” kata Yusuf.

Yusuf menilai saat ini partai politik di parlemen mulai menyusun strategi menerima bola panas dari MK tersebut. Ia menyebut muncul spekulasi soal apakah Presiden akan ikut mendorong lengsernya Wapres, atau mulai menggodok sosok Puan Maharani sebagai representasi PDI Perjuangan sebagai Wapres pengganti, atau tetap mengamankan Gibran dengan agenda politik tertentu.

“Kenapa asumsi itu muncul dan patut dicermati. Sebab, biar bagaimanapun bagi Prabowo, Gibran menjadi rantai politik yang menjadi beban, sandera dan sekaligus membatasi ruang gerak politiknya. Bukan sekadar dalam menghadapi Pilpres 2029,” ujarnya.

Baca Juga:  Ungguli Pasangan RIDO di Survei, Pramono Ngaku Bakal Terus Bakal Terus Konsolidasi ke Warga

Ia menilai, sasaran ideal dalam dinamika tersebut bukan hanya Gibran, melainkan Jokowi itu sendiri, sementara Gibran menjadi sasaran antara.

“Prabowo terlihat piawai memainkan politik gotong-royong. Prabowo sadar betul sebagai bagian dari struktur dan kultur politik Jokowi, dirinya tidak sekonyong-konyong bisa lepas dari pengaruh dan kekuasaan informal Jokowi,” kata Yusuf.

Yusuf juga menyinggung langkah Prabowo merangkul sejumlah tokoh kritis dan aktivis Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) seperti Jumhur Hidayat, Syahganda Nainggolan, dan Rocky Gerung ke dalam pemerintahan. Menurutnya, hal tersebut menjadi indikator kebutuhan faktor penyeimbang di tengah isu dualisme kepemimpinan.

“Banyaknya aktivis KAMI yang ditarik dalam pemerintahan, menjadi indikator Prabowo masih membutuhkan tukang pukul untuk melemahkan eksistensi Jokowi dan Gibran,” ujarnya.

Lebih lanjut, Yusuf menyebut pencopotan Kapolri Sigit Sulistyo Prabowo yang dinilainya masih berada dalam lingkar Istana, sebagai langkah progresif sekaligus hati-hati. Ia juga menyinggung eksistensi PSI dan investasi politik Jokowi sebagai faktor yang membuat Prabowo melakukan pembatasan pengaruh.

“Sepertinya Prabowo cerdik memainkan momentum politik, ia terus memainkan emosi publik yang tak pernah surut, yang memancar kemarahan dan kebencian bahkan sudah pada aksi simultan gugatan adili Jokowi. Soal ijazah Gibran ini menjadi menu politik paling gurih,” katanya.

Menurut Yusuf, secara kapasitas politik, tidak sulit bagi Prabowo baik sebagai Presiden maupun Ketua Umum Partai Gerindra untuk mengambil langkah terkait posisi Wapres. Namun ia mempertanyakan apakah akan ada keberanian untuk mengambil langkah hitam putih atau justru kompromi.

“Apapun pilihan Prabowo, dia sudah dapat laporan, yang jelas bukan dari kantongnya. Bahwasanya Gibran merupakan kekuatan sekaligus kelemahan Jokowi. Tinggal bagaimana Prabowo menyikapinya,” pungkas Yusuf. (Ugy)

 

Komentar ditutup.

Berita Terkait

GNK Sebut Agus Gumiwang Disingkirkan Tidak Hormat oleh Bahlil Lewat Tangan Istana
Jalin MoU Dengan BRIN, Mensos Inginkan Ada Inovasi Bagi Sekolah Rakyat
Komarudin Watubun PDIP: MK Sudah Buka Semua, yang Terlibat Sebaiknya Mundur, Ini Soal Moral Bangsa
Pengangkatan Anwar Usman Jadi Wantimpres Dinilai Langgar UU, M. Guntur Romli: Mahfud MD yang Bilang Bukan Saya
Wacana Pemakzulan Wapres, Pengamat Ingatkan Konstitusi Bukan Alat Politik Sesaat
Musda Golkar Kota Bekasi di Ambang Perpecahan, Etos Indonesia Usul Jalan Tengah
Musda Golkar Kota Bekasi di Ujung Mata, Beringin Institut: Pilih Ketua Nomor Dua, Bersih-bersih yang Utama
Pakar Komunikasi Politik Nilai Manuver Dedi Mulyadi: Investasi Menuju 2029, Berpotensi Picu Gejolak di Tubuh Gerindra

Berita Terkait

Jumat, 9 Oktober 2026 - 08:37 WIB

Soal Isu Wapres Diganti Puan Maharani, IPPS: Prabowo Sedang Kelola Krisis Ijazah

Jumat, 9 Oktober 2026 - 07:00 WIB

GNK Sebut Agus Gumiwang Disingkirkan Tidak Hormat oleh Bahlil Lewat Tangan Istana

Kamis, 8 Oktober 2026 - 21:30 WIB

Jalin MoU Dengan BRIN, Mensos Inginkan Ada Inovasi Bagi Sekolah Rakyat

Kamis, 8 Oktober 2026 - 12:47 WIB

Pengangkatan Anwar Usman Jadi Wantimpres Dinilai Langgar UU, M. Guntur Romli: Mahfud MD yang Bilang Bukan Saya

Kamis, 8 Oktober 2026 - 05:35 WIB

Wacana Pemakzulan Wapres, Pengamat Ingatkan Konstitusi Bukan Alat Politik Sesaat

Berita Terbaru