BANDUNG, Mediakarya – Ratusan kader Partai Golkar Jawa Barat dikabarkan bakal melakukan eksodus dan mengalihkan haluan politik ke sejumlah partai.
Isu tersebut dipicu oleh gejolak internal dan mosi tidak percaya terhadap kepemimpinan Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat yang baru, Daniel Mutaqien Syafiuddin.
Berdasarkan informasi yang dihimpun mediakarya.id, ratusan kader tersebut berencana bergabung ke sejumlah partai, baik partai yang memiliki wakil di parlemen maupun partai nonparlemen.
Gejolak tidak hanya muncul dari internal DPD Tingkat I. Kebijakan Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia yang dinilai menjadi kepanjangan tangan Presiden ke-7 Joko Widodo juga memicu kekhawatiran di tingkat akar rumput.
Kekhawatiran itu terkait dengan potensi Partai Golkar ditinggalkan pemilih pada Pemilihan Legislatif (Pileg) 2029 mendatang.
Salah satu sumber mediakarya.id menyebut, baik Ketua DPD Golkar Jabar maupun Ketua Umum Partai Golkar saat ini dinilai tidak merepresentasikan keinginan kader partai yang mengusung semangat kekaryaan.
“Bahkan Golkar saat ini diduga dikuasai oleh kelompok organisasi tertentu. Anehnya, para senior Golkar justru hanya cari aman. Sementara kelompok-kelompok itu terus bergerak melakukan manuver dan hanya mencari kekuasaan,” kata sumber tersebut kepada mediakarya.id, Senin (12/10/2026).
Hingga berita ini diturunkan, mediakarya.id masih berupaya mengkonfirmasi kebenaran kabar tersebut kepada pengurus DPD Partai Golkar Jawa Barat dan DPP Partai Golkar.
Elit Golkar Diminta Responsif
Pakar komunikasi politik dan kebijakan publik Dr. Adi Suparto menanggapi wacana eksodus ratusan kader Partai Golkar Jawa Barat ke sejumlah partai lain yang dipicu gejolak internal pasca pergantian Ketua DPD.
Adi mengimbau agar elit Partai Golkar dapat bersikap bijak dan responsif dalam menyikapi dinamika serta aspirasi yang berkembang di tingkat akar rumput (grassroots).
Menurutnya, sikap tersebut penting untuk menjaga soliditas internal partai, tetap mengakar pada basis pemilih, serta menghindari terjadinya perpecahan atau penurunan kepercayaan publik.
“Elit Golkar perlu bijak dan responsif melihat aspirasi akar rumput. Ini penting untuk soliditas dan menjaga kepercayaan publik,” ujar Adi Suparto saat diminta tanggapannya oleh mediakarya.id, Senin (12/10/2026).
Untuk mengelola dinamika di akar rumput secara bijak, Adi menyarankan sejumlah langkah strategis. Pertama, menyediakan saluran komunikasi yang terbuka dan jujur antara pengurus pusat (elit) dan kader di daerah guna mendengar keluhan serta aspirasi secara langsung.
Kedua, mempertimbangkan masukan dari tingkat bawah dalam proses pengambilan keputusan strategis, seperti penentuan calon ketua DPD berdasarkan rekam jejak dan prestasi, bukan semata kedekatan elit.
Ketiga, menghindari pernyataan publik yang saling bertolak belakang atau memicu polarisasi di dalam tubuh partai.
“Energi organisasi harus diarahkan untuk memperkuat struktur partai hingga tingkat desa atau kelurahan demi menghadapi kontestasi politik 2029, bukan dihabiskan untuk konflik internal,” tegasnya. (Ugy











