BANDUNG, Mediakarya – Jelang Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar di sejumlah kota/kabupaten di Jawa Barat, fenomena politisi lanjut usia yang mengklaim diri sebagai “kader senior” kembali mencuat.
Klaim tersebut diduga kuat hanya untuk menarik simpati agar pernyataannya diamini kader yang usianya lebih muda. Namun di balik jargon senioritas itu, diduga tersimpan tipu muslihat untuk mencari keuntungan pribadi.
Inisiator Gerakan Nurani Kebangsaan (GNK) Syakur Ali Mahdi Alhamid memperingatkan kader Golkar tidak terjebak dengan istilah kader senior yang berorientasi rente.
“Biasanya, politisi yang mengklaim dirinya senior itu menggunakan pengaruh politik, akses kekuasaan, atau posisi di dalam partai untuk mendapatkan keuntungan finansial pribadi atau kelompok. Padahal, sebelumnya tidak memberikan kontribusi produktif yang nyata bagi partai,” tegas Syakur kepada mediakarya.id melalui sambungan telepon, Selasa (13/10/2026).
Menurut Syakur, pola yang sering dimainkan politisi klaim senior itu adalah memanfaatkan konflik internal partai. Mereka memposisikan diri sebagai penengah, padahal ujung-ujungnya berpihak kepada siapa yang memberi keuntungan materi.
Regenerasi Tersumbat
Syakur menilai, Partai Golkar sebagai partai tertua dengan struktur kaderisasi paling mapan justru terancam jika terus bergantung pada figur lama yang hanya mengamankan kepentingan pribadi.
Jika figur senior hanya fokus pada pengamanan keuntungan, ruang gerak kader muda yang potensial dan idealis akan tersumbat.
“Untuk itu, loyalitas kader harus diarahkan pada ideologi partai dan kepentingan konstituen, bukan pada elite senior yang mengendalikan jaringan logistik secara transaksional,” katanya.
Ia mengingatkan, kehadiran kelompok pemburu rente di dalam partai dapat menurunkan elektabilitas dan merusak citra di mata publik. Pemilih modern, terutama generasi muda, cenderung lebih menyukai partai yang transparan, akuntabel, dan menawarkan program kerja nyata.
“Bukan partai yang terlihat didominasi oleh oligarki internal atau penumpang gelap yang hanya aktif saat pembagian kekuasaan,” sindir Syakur.
Desak Reformasi Internal
Untuk mencegah Golkar terjebak dalam lingkaran pemburu rente, GNK mendorong sejumlah reformasi internal.
Pertama, penempatan kader di posisi strategis harus didasarkan pada rekam jejak, kompetensi, dan loyalitas ideologis, bukan sekadar kedekatan dengan faksi senior tertentu.
“Selain itu, memperketat regulasi internal terkait pendanaan kegiatan partai agar tidak mudah disusupi oleh modal politik transaksional yang mengikat,” tegasnya.
Kedua, membuka ruang seluas-luasnya bagi kader muda untuk terlibat dalam pengambilan keputusan strategis partai.
Syakur menegaskan, peringatan ini merupakan bagian dari mekanisme kendali mutu internal atau oto-kritik agar partai tetap sehat.
“Hal ini penting, agar parpol tetap berfungsi sebagai pilar demokrasi yang memperjuangkan kesejahteraan publik, bukan sekadar alat pemuas kepentingan segelintir elite,” pungkasnya. (Ugy)











