INDEF GTI Desak Pemerintah Fokus Insentif BEV, Bukan Hybrid: Tiap Mobil Listrik Berarti Satu Kendaraan Tak Antre BBM

- Editor

Kamis, 22 Oktober 2026 - 08:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kepala Pusat Industri, Perdagangan dan Investasi The Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Andry Satrio Nugroho. (Ist)

Kepala Pusat Industri, Perdagangan dan Investasi The Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Andry Satrio Nugroho. (Ist)

JAKARTA, Mediakarya – Rencana Kementerian Perindustrian memberikan insentif fiskal dan nonfiskal untuk kendaraan hybrid, plug-in hybrid, dan Range-Extended Electric Vehicle (REEV) mendapat kritikan keras.

Head of Transport and Industry Decarbonization INDEF Green Transition Initiative (GTI), Andry Satrio Nugroho meminta pemerintah memusatkan anggaran insentif hanya pada mobil listrik berbasis baterai (BEV).

Alasannya, BEV adalah teknologi paling efektif menekan konsumsi BBM dan menyelamatkan APBN.

“Kalau tujuannya mengatasi kelangkaan BBM, insentif harus diarahkan ke kendaraan yang tidak memakai BBM sama sekali. Mobil hybrid tetap mengisi bensin di SPBU. Mobil listrik tidak. Setiap mobil listrik yang terjual hari ini berarti satu kendaraan yang tidak lagi antre BBM,” ujar Andry dalam keterangan tertulisnya yang diterima Mediakarya di Jakarta, Kamis (22/10/2026).

Andry mengungkap data mengejutkan. Konsumsi BBM bersubsidi dan berkompensasi hingga September 2026 sudah mencapai 13,4 juta kiloliter, naik 9,1% dibanding tahun lalu.

Realisasi subsidi dan kompensasi energi pun sudah jebol Rp376,8 triliun atau 84,3% dari pagu APBN 2026.

“Kalau tujuannya mengatasi kelangkaan BBM, insentif harus diarahkan ke kendaraan yang tidak memakai BBM. BEV memberi penghematan BBM paling besar untuk setiap rupiah insentif. Penghematan langsung meringankan beban APBN,” jelasnya.

Menurut Andry, ruang fiskal APBN 2026 kini sangat terbatas. Insentif harus diberikan pada teknologi yang paling efektif, apalagi listrik sebagian besar dibangkitkan dari sumber dalam negeri sehingga ketahanan energi membaik.

Baca Juga:  Ketua BPKN Dukung Label Nutri Level, Tegaskan Pentingnya Transparansi GGL untuk Konsumen

Ironisnya, insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) untuk BEV yang dijanjikan lebih dulu justru belum berjalan. Pemerintah sebelumnya merencanakan PPN DTP 100 persen untuk mobil listrik berbaterai nikel dan 40% untuk baterai lain guna mendukung hilirisasi nikel. Namun hingga pertengahan Oktober 2026, aturan pelaksanaannya belum terbit.

“Jika insentif hybrid terbit lebih dulu sementara insentif BEV masih tertunda, selisih harga keduanya menyempit. Pembeli yang tadinya siap beralih ke mobil listrik bisa kembali memilih kendaraan yang masih bergantung pada BBM. Hasilnya berlawanan dengan tujuan mengatasi kelangkaan BBM,” jelasnya.

INDEF GTI mencatat pemerintah menyebut kelangkaan saat ini terjadi di jalur distribusi, dengan stok nasional hanya 16-18 hari. Pembenahan distribusi memang perlu untuk jangka pendek, tapi percepatan adopsi BEV adalah solusi struktural jangka panjang.

“Semakin sedikit kendaraan yang bergantung pada BBM, semakin kecil dampak gangguan pasokan di masa depan,” kata Andry.

Untuk itu, INDEF GTI merekomendasikan tiga langkah konkret kepada pemerintah:

1. Kementerian Keuangan segera menerbitkan PMK PPN DTP untuk BEV sesuai skema yang telah diumumkan.

2. Pemerintah menunda insentif fiskal baru untuk hybrid, plug-in hybrid, dan REEV sampai insentif BEV berjalan dan dampaknya terhadap konsumsi BBM dievaluasi.

3. Pembangunan SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum) diprioritaskan di wilayah yang berulang kali mengalami kelangkaan BBM. (Adt)

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Ketua Kadin Kota Bekasi Dorong Produk Lokal Tembus Pasar Ekspor
Jadi Modus Baru Peredaran Narkoba, Komisi III DPR Dukung Kapolri Gandeng MUI Fatwakan Haram Vape
Direktur Keuangan dan Strategi Bank Jakarta Basaria Martha Juliana Raih Penghargaan 4th Indonesia Most Innovative CFO Awards 2026
BPKN RI Dorong AED Tersedia di Ruang Publik: Jangan Tunggu Ada Korban Baru Bergerak
Belanja Ratusan Triliun MBG dan Kopdes Merah Putih Belum Mengalirkan Manfaat ke UMKM Lokal
Kadin Luncurkan Buku Putih 2026, Didik Rachbini: Industri Harus Kembali Jadi Lokomotif, Jangan Business As Usual
Ketua BPKN RI: Kelangkaan BBM Tak Boleh Bebani Konsumen, Pemerintah Harus Pastikan Distribusi Lancar
Guntur Romli: Jumat Hitam, IHSG Ambruk 11,57%, Indonesia Terancam Turun Kasta Selevel Zimbabwe

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 08:52 WIB

INDEF GTI Desak Pemerintah Fokus Insentif BEV, Bukan Hybrid: Tiap Mobil Listrik Berarti Satu Kendaraan Tak Antre BBM

Kamis, 22 Oktober 2026 - 08:46 WIB

Ketua Kadin Kota Bekasi Dorong Produk Lokal Tembus Pasar Ekspor

Selasa, 20 Oktober 2026 - 21:39 WIB

Jadi Modus Baru Peredaran Narkoba, Komisi III DPR Dukung Kapolri Gandeng MUI Fatwakan Haram Vape

Selasa, 20 Oktober 2026 - 12:41 WIB

Direktur Keuangan dan Strategi Bank Jakarta Basaria Martha Juliana Raih Penghargaan 4th Indonesia Most Innovative CFO Awards 2026

Selasa, 20 Oktober 2026 - 10:52 WIB

BPKN RI Dorong AED Tersedia di Ruang Publik: Jangan Tunggu Ada Korban Baru Bergerak

Berita Terbaru