KOTA BEKASI, Mediakarya – Jelang perayaan tahun baru Imlek, berbagai persiapan dilakukan, salah satunya di kelenteng Hoklaykiong yang terletak di Jl. Kenari 1 RT 006/01 kelurahan Margahayu, kecamatan Bekasi Timur Kota Bekasi.
Ketua Yayasan Pancaran Tri Dharma, Roni Hermawan menuturkan bahwa persiapan menyambut Imlek meliputi pembersihan instrumen dan semua fasilitas ibadah yang memang dilakukan secara rutin jelang perayaan Imlek.
“Seperti biasa, kelenteng Hoklaykiong yang merupakan kelenteng tertua di kota Bekasi ini menyambut datangnya pergantian tahun Imlek. Tiga hari yang lalu kita melakukan bersih-bersih kelenteng, bersih-bersih itu altarnya, bersih patung rupang dewa-dewanya semua dibersihkan. Ini sebuah kebiasaan yang menjadi tradisi rutin,” kata Roni Hermawan kepada media pada Kamis (27/01/22).
Dalam keyakinan Tionghoa, pada hari itu dewa sedang naik ke langit, untuk melaporkan segala kebaikan dan keburukan manusia di bumi. Untuk itu, semua instrumen ibadah dapat dibersihkan. Tradisi itu juga dilakukan di seluruh dunia yang punya keyakinan Imlek.
Tradisi berikutnya ialah perbaikan dalam bangunan tempat ibadah maupun rumah masing-masing. Lampion dan ornamen lainnya juga mulai dipasang, namun kegiatan yang bersifat keramaian seperti arak-arakan atau Cap Go Meh ditiadakan, karena masih dalam suasana pandemi.
“Tahun ini kita tidak mengadakan acara ramai-ramai karena memang masih suasana pandemi Covid-19, kita masih mengikuti anjuran pemerintah. Biasanya 14 hari setelah hari raya Imlek ada perayaan cap go meh, arak-arakan tahun inipun kita tidak mengadakan kegiatan itu, karena kita menjaga agar penyebaran Omikron tidak semakin tinggi,” imbuhnya.

Imlek dirayakan Tionghoa menyambut tahun macan air berdasarkan kalender bulan. Sebanyak 250 lilin di dalam kelenteng juga nampak berjajar rapi dengan berbagai ukuran dari yang kecil hingga yang besar.
“Keyakinannya untuk penerangan supaya yang berjalan tahun ini diberikan penerangan, hidupnya tidak gelap,” Kata Roni.
Ibadah di kelenteng tersebut juga akan dibatasi 50 persen bergiliran selama satu jam. Selain itu, kegiatan juga diisi dengan bakso sosial dengan menyantuni warga keturunan Tionghoa yang dirasa kurang mampu.
Hal itu sebagai simbol rasa empati sesama manusia dan memang secara rutin dilakukan oleh Roni Hermawan jelang pergantian tahun Imlek.
“Sebetulnya ini agenda yang sudah rutin setiap tahun dilakukan, dan saya rasa di mana-mana banyak yang melakukan saudara-saudara kita untuk bagi-bagi rejeki, bagi – bagi angpao menjelang perayaan pergantian tahun Imlek,” katanya.
Lebih lanjut Roni menuturkan bahwa kegiatan sosial yang sudah rutin dilakukan itu dapat menjalin tali silaturahmi baik dengan sesama etnis Tionghoa maupun masyarakat pribumi. Semuanya tetap dalam satu harapan yaitu agar pandemi Covid-19 segera berakhir.
“Tidak ada salahnya kita menyapa, silaturahmi temu kangen sambil berbagi sedikit rejeki, tujuannya sendiri sebetulnya hanya saling mendoakan, kemudian mengharapkan pandemi Covid-19 segera berakhir masyarakat sehat dan kita semua kembali hidup normal lagi, setelah Imlek ini kita bisa bangkit, masyarakat maju laju, lancar dan perekonomian bangkit lagi,” tukasnya.
Sudah hampir 10 tahun ia melakukan kegiatan itu di berbagai tempat di wilayah Kota Bekasi yang didiami warga keturunan Tionghoa. (Mme)






