JAKARTA, Mediakarya – Dinamika internal Partai Golkar pasca peralihan kepemimpinan dari Airlangga Hartarto ke Bahlil Lahadalia terus menjadi sorotan. Direktur Program Pusat Kajian Strategis Daksinapati Universitas Indonesia (UI), Agus Wahid. Dia menilai Partai Golkar saat ini berada di persimpangan jalan untuk mengembalikan marwah sebagai partai kader.
Menurutnya, Bahlil dinilai sebagai figur pemimpin Golkar yang terpilih bukan karena usulan kuat dari arus akar rumput.
“Golkar ini partai dengan mesin kaderisasi yang mapan. Namun kemunculan Bahlil sebagai Ketua Umum bukan representasi dari aspirasi akar rumput di DPD-DPD,” ujar Agus Wahid kepada Mediakarya di Jakarta, Sabtu (10/10/2026).
Jalan Mulus Bahlil dan Intervensi Kekuasaan
Agus Wahid juga menyoroti adanya dugaan intervensi Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) dalam kasus hukum yang diduga menjerat Airlangga Hartarto. Intervensi tersebut dinilai menjadi jalan mulus bagi Bahlil untuk menduduki kursi Ketua Umum Partai Golkar.
“Kasus hukum yang menjerat Airlangga menjadi momentum. Intervensi politik di balik itu membuka karpet merah bagi Bahlil,” kata dia.
Ia mengungkapkan, banyak kader senior Golkar sejatinya tidak sepakat dengan diangkatnya Bahlil sebagai Ketua Umum. Namun, Golkar sebagai partai yang matang dalam menjaga dinamika internalnya, membuat suksesi tersebut berjalan mulus tanpa konflik terbuka yang mencuat ke permukaan.
“Para kader senior menahan diri. Mereka tidak ingin Golkar terlihat gaduh, tapi di dalam, penolakan itu ada,” ungkapnya.
Bukan Kader Militan
Lebih lanjut, Agus menegaskan Golkar bukan partai kemarin sore. Para elit dan kader senior melihat partai berlambang pohon beringin itu dengan jernih.
Selain dinilai tidak memiliki basis akar rumput yang kuat, Bahlil juga dinilai bukan kader militan yang tumbuh dan dibesarkan dari bawah melalui jenjang kaderisasi Golkar.
“Bahlil dinilai hanya sebagai boneka dari kepanjangan tangan kepentingan Jokowi. Dia tidak tumbuh dari rahim Golkar,” tegas Agus.
Karena itu, menurutnya, sudah saatnya para elit Golkar mengambil langkah konsolidasi untuk mengembalikan marwah partai.
“Saatnya elit Golkar mengembalikan marwah partai agar tidak dikuasai oleh kelompok yang hanya mencari keuntungan bagi pribadi dan kelompoknya,” ujarnya.
Elektoral Terancam di 2029
Peringatan keras juga disampaikan Agus Wahid terkait dampak elektoral. Berdasarkan rilis dari sejumlah lembaga survei, banyak kader Golkar di daerah yang mengaku jenuh dengan gaya kepemimpinan Bahlil saat ini.
Jika kejenuhan dan konflik laten di internal tersebut terus dibiarkan tanpa penyelesaian, dikhawatirkan akan menggerus elektoral Golkar secara signifikan pada Pemilu 2029 mendatang.
“Jika tidak ada evaluasi dan koreksi, Golkar bisa kehilangan basis tradisionalnya. Kejenuhan kader adalah alarm bahaya bagi elektoral,” pungkasnya. (Ugy)









