DENPASAR, Mediakarya – Rencana pengalihan sampah Denpasar ke TPA Landih, Bangli menemui jalan buntu seiring gelombang penolakan warga.
Di tengah isu penutupan permanen TPA Suwung pada 1 Maret 2026 yang kian dekat, Bali kini menghadapi “bom waktu” lingkungan yang sangat nyata.
Anggota DPRD Provinsi Bali dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Grace Anastasia Surya Widjaja, S.E., memaparkan data statistik yang mencengangkan.
Berdasarkan data terbaru, Bali memproduksi sekitar 3.436 ton sampah setiap hari, namun hanya sekitar 29 persen yang saat ini mampu terkelola.
Artinya, ada lebih dari 2.500 ton sampah per hari yang tidak terkelola dengan baik. Di Denpasar saja, produksi sampah mencapai 1.050 ton per hari.
“Sementara kapasitas pengolahan mandirinya baru di kisaran 300-500 ton. Kemana sisa 500 ton sampah per hari ini akan dibuang, jika TPA Suwung ditutup dan Bangli menolak?” tegasnya di Denpasar.
Optimalisasi TPS3R Desa adalah Kunci Menghilangkan 60% Masalah, menurut Grace Anastasia penolakan dari wilayah lain seperti Bangli harus dijadikan momentum untuk melakukan optimalisasi TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle) secara masif dan wajib di setiap desa.
Data menunjukkan 65 persen sampah di Bali adalah sampah organik. Jika TPS3R di setiap desa dioptimalkan untuk mengolah sampah organik menjadi kompos atau pakan ternak (maggot).
“Maka secara teori kita sudah menyelesaikan 60 persen beban sampah Bali di tingkat desa. Sampah tidak perlu dikirim ke mana-mana, cukup selesai di hulu,” terangnya.
Hilirisasi Industri Untuk Residu, menurutnya
untuk sisa sampah anorganik dan residu yang mencapai ratusan ton.
Ia mendorong percepatan pembangunan fasilitas PSEL (Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik) dan RDF (Refuse Derived Fuel) berskala industri.
Kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan TPA Suwung. Bali butuh Hilirisasi Sampah, dan Sampah Residu harus dikirim ke mesin pengolah untuk dimusnahkan menjadi energi listrik atau bahan bakar industri.
“Namun, teknologinya harus standar internasional dengan filter asap yang mumpuni agar tidak menghasilkan polusi udara atau racun dioksin,” tambahnya.
Momentum Bali Tanpa TPA Suwung, Penutupan Suwung dan penolakan Bangli seharusnya menjadi titik balik bagi Bali untuk menjadi provinsi pertama di Indonesia yang menerapkan sistem Zero TPA.
Pertanyaannya bukan lagi ‘dikirim ke mana’, tapi ‘kapan Bali berani mengeksekusi teknologi pengolahan’.
“Kita harus berani bertransformasi sekarang, atau Bali akan kehilangan ‘Taksu’ akibat kegagalan kita mengelola 2.500 ton sisa limbah harian tersebut,” pungkasnya.
Penutupan TPA Suwung dan penolakan Bangli seharusnya menjadi titik balik bagi Bali untuk menjadi provinsi pertama di Indonesia yang menerapkan sistem Zero TPA.
Pertanyaannya bukan lagi ‘dikirim ke mana’, tapi ‘kapan Bali berani mengeksekusi teknologi pengolahan’.
“Kita harus berani bertransformasi sekarang, atau Bali akan kehilangan ‘Taksu’ akibat kegagalan kita mengelola 2.500 ton sisa limbah harian tersebut,” pungkasnya. (Bud)




