CPPSI Sebut Koruptor Sama Bahayanya Dengan Teroris

- Editor

Jumat, 17 Maret 2023 - 07:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Aksi massa yang menuntut tangkap pelaku korupsi. (Foto Ist)

Aksi massa yang menuntut tangkap pelaku korupsi. (Foto Ist)

JAKARTA, Mediakarya – Mencuatnya kasus mantan pegawai pajak yang memiliki rekening gendut membuat publik bertanya-tanya terkait sumber pendapatan pegawai Aparatur Sipil Negara (ASN) tersebut. Pasalnya jika melihat gaji yang diterimanya, sangatlah mustahil jika pejabat di level eselon III memiliki harta puluhan miliar.

“Lain soal jika pejabat tersebut sebelumnya memang latar belakangnya itu memang sudah kaya, tentu tidak ada masalah. Namun yang terjadi tidak demikian, banyak pejabat diduga menyalahgunakan kewenangannya hanya untuk memperkaya diri sendiri,” ujar analis Center for Public Policy Studies Indonesia (CPPSI) Agus Wahid kepada Mediakarya, Jumat (17/3/2023).

Agus juga mengkritisi sejumlah petinggi negara yang hanya mengimbau agar ASN tidak memamerkan gaya hidup mewah. Menurutnya gaya hidup mewah atau memiliki harta banyak sah-sah saja sepanjang itu didapat dengan cara-cara yang benar atau halal.

“Persoalannya, selama ini sudah jadi rahasia umum bahwa birokrasi kita itu mentalitasnya bobrok karena banyak diisi oleh pejabat bermental korup. Jadi seharusnya bukan menghimbau agar tidak menampakan gaya hidup mewahnya, namun yang perlu penegasan adalah bagaimana menyapu bersih pejabat yang bermental korup,” ungkap Agus.

Agus menegaskan, semestinya yang harus menjadi perhatian bukan gaya hidup mewahnya, namun bagaimana menghentikan praktik korupsi yang kian tumbuh subur dari level kelurahan hingga kementerian.

“Jika himbauannya agar tidak bergaya hidup mewah terhadap ASN, bisa saja mereka (abdi negara) atau pejabat pura-pura miskin dan hidup sederhana padahal simpanan hasil merampok uang negara ada di mana-mana. Selepas pensiun baru terlihat asetnya tak terhingga,” ucapnya.

Justru, kata Agus, yang harus ditekankan adalah bagaimana ASN atau pejabat negara harus bekerja pada lingkungan yang terbebas dari praktik korupsi.

Oleh karena itu, kata Agus, sistem pengawasan dan pencegahan korupsi harus difungsikan secara maksimal. Jangan lagi ada toleransi bagi pejabat atau ASN yang menyalahgunakan kewenangannya.

“Karena penyakit korupsi di Indonesia sudah akut, maka penanganannya harus ‘diamputasi’. Tidak ada kata lain untuk memberantas korupsi di Indonesia maka kita posisikan bahwa pelaku korupsi sama dengan pelaku terorisme. DiĀ  manapun keberadaannya harus diburu,” tegas Agus.

Baca Juga:  Presidential Threshold: Memperkuat Penggadaian Negara?

Bila perlu dibentuk Detasemen Khusus Anti Korupsi. Satuan ini bertugas memburu pelaku korupsi, baik itu yang ada di lembaga eksekutif, legislatif maupun yudikatif, dari tingkat pusat hingga daerah. Dengan demikian diharapkan angka korupsi di Indonesia dapat ditekan dengan maksimal.

Sebelumnya, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan RB) Abdullah Azwar Anas mengimbau seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk tidak melakukan aksi pamer harta dan hidup sederhana.

Hal tersebut sesuai arahan Presiden RI Joko Widodo untuk hidup sederhana, dengan demikian pihaknya kembali mengeluarkan imbauan kepada seluruh kepala daerah agar menerapkan imbauan tersebut.

“Presiden sudah jelas memberikan arahan soal hidup sederhana dan tidak pamer harta dan kita mengeluarkan imbauan kembali ke pimpinan daerah untuk tidak pamer harta dan hidup sederhana,” kata dia di Kota Bengkulu, Kamis, (16/3/2023).

Para pejabat seharusnya tetap mencerminkan kesederhanaan dalam hidup dan memberikan teladan yang baik bagi bawahannya dan masyarakat.

Sebelumnya Wakil Presiden Ma’ruf Amin menegaskan sikap oknum aparatur negara yang memamerkan gaya hidup mewah dapat menyebabkan hilangnya kepercayaan publik.

“Jangan sampai ada ketidakpercayaan masyarakat terutama mereka yang membayar pajak kepada pemerintah, kemudian mereka wah, mereka menjadi ada ketidakpercayaan karena pajak yang dibayarkan digunakan oleh orang per orang. Saya kira itu penting,” terangnya.

Kata dia, penerapan gaya hidup sederhana penting untuk di semua tingkat kehidupan masyarakat, sehingga tidak menimbulkan kesenjangan sosial di tengah masyarakat.

Wapres berpesan, untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah, khususnya di bidang keuangan dan pajak diperlukan adanya transparansi dan literasi tentang pemanfaatan dana pajak yang tepat diimplementasikan untuk kepentingan rakyat. (Pri)

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait

Patroli Sat Samapta Polres Nias Selatan, Ciptakan Kamtibmas Kondusif
GNK Minta Kapolri Baru Dukung KPK Usut Tuntas Kasus Kuota Haji dan Dugaan Suap di ATR/BPN
PPI Siap Tempuh Jalur Hukum Terhadap Pihak-pihak yang Fitnah Kapolri Suyudi Ario Seto
Praperadilan PT ACT Marine Transport dan PT ACT Logistik Internasional, Dua Ahli Soroti Dua Alat Bukti dan Keabsahan Penetapan Tersangka
Amnesty International Kecam Kekerasan Terhadap Fungsionaris BEM UI, Desak Kapolri Usut Tuntas
Haidar Alwi: Legacy Listyo Sigit Jadi Fondasi Strategis Akselerasi Kepemimpinan Suyudi Ario Seto
FPMI Geruduk Mabes Polri, Desak Kapolri Berantas Dugaan Oknum Bekingi Mafia Gas Subsidi
Komisi III DPR Minta Polres Pemalang Usut Tuntas Kematian Siswa SD yang Diduga Jadi Korban Perundungan

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 16:05 WIB

Patroli Sat Samapta Polres Nias Selatan, Ciptakan Kamtibmas Kondusif

Selasa, 6 Oktober 2026 - 16:04 WIB

GNK Minta Kapolri Baru Dukung KPK Usut Tuntas Kasus Kuota Haji dan Dugaan Suap di ATR/BPN

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:24 WIB

PPI Siap Tempuh Jalur Hukum Terhadap Pihak-pihak yang Fitnah Kapolri Suyudi Ario Seto

Selasa, 6 Oktober 2026 - 11:16 WIB

Praperadilan PT ACT Marine Transport dan PT ACT Logistik Internasional, Dua Ahli Soroti Dua Alat Bukti dan Keabsahan Penetapan Tersangka

Selasa, 6 Oktober 2026 - 05:53 WIB

Amnesty International Kecam Kekerasan Terhadap Fungsionaris BEM UI, Desak Kapolri Usut Tuntas

Berita Terbaru