Di Bawah Payung Ortodoksi Ekonomi 

- Editor

Selasa, 20 Oktober 2026 - 14:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Yudhie Haryono – CEO Nusantara Centre

Mazhab itu sudah berjalan 60 tahun di Indonesia. Apa prestasinya? Tidak ada. Yang hadir hanya lima: konglomerasi, oligarki, korupsi, hutang menggunung, industri ekstraktif.

Apa itu ortodoksi ekonomi? Ini adalah aliran pemikiran ekonomi arus utama (mainstream) yang beriman pada pasar bebas, neoliberalisme, berontologi matrealisme. Tentu saja anti Tuhan, anti kemanusiaan, anti lingkungan, dan anti semesta.

Mazhab ini sangat dominan diajarkan di kampus-kampus dan diterapkan dalam kebijakan publik negara kita, yang cara bekerjanya merujuk pada ilmu ekonomi neoklasik via karbon kopi tanpa imajinasi dan kritisisme. Dari buku yang sama, tokoh yang seragam, kurikulum yang “dipaksakan” serta berdasar pada fakultas-fakultas pembebek, mazhab ini meraksasa di dunia.

Karakteristik utama dari mazhab ini adalah “menjajah, menjarah dan memperkosa dengan ketamakan luar biasa.” Ia mewartakan rasionalitas: menganggap manusia bertindak rasional untuk memaksimalkan utilitas dan matrealitas.

Ia mengkampanyekan keseimbangan pasar: meyakinkan manusia untuk percaya bahwa pasar cenderung mencapai titik ekuilibrium secara mandiri. Padahal pasar tak pernah sempurna. Sebab, nadi dan denyut pasar justru dari asymmetric information (dis informasi) sebagai cara kaya dengan mudah dan murah.

Ia mengajarkan sekaligus mentradisikan pendekatan deduktif: mendoktrin manusia untuk mengandalkan model matematika abstrak daripada observasi empiris sosial yang luas.

Ia mendalilkan keseragaman: memaksa para pembelajar untuk percaya bahwa iptek dari mereka adalah paling benar yang harus dikopi dan dihapalkan sambil membunuh kejeniusan lokal dan moralitas teritorial.

Para agensinya beragam profesi: ekonom, bankir, akuntan dan sarjana hukum. Empat profesi itu di kita, bekerja di tiga lembaga pengepung istana: Bank Indonesia (dan Himbara tentu saja), Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional) serta Kementrian Keuangan.

Baca Juga:  Kopi Tarik dan Harapan Ekonomi Pancasila

Lahirlah ekonomi konglomerasi. Ini adalah perusahaan sangat besar yang memiliki dan mengelola berbagai bisnis dari sektor industri yang berbeda dalam satu grup perusahaan serta memiliki banyak anak perusahaan yang beroperasi di bidang yang tidak selalu berkaitan. Kerjanya hanya empat macam: monopoli, oligopoli, monopolistik, dan monopsoni.

Setelah konglomerasi mapan, ia bergerak ke oligarki. Ini koalisi konglomerat dengan politisi (pengusaha-penguasa) untuk mencipta dinasti. Mereka lalu menguasai, mengendalikan dan mengatur semau mereka wajah publik.

Setelah tercipta oligarki, tradisi berikutnya adalah KKN. Korupsi jadi cara mengakumulasi dan melanggengkan kekuasaannya. Dengan korupsi, mereka kaya dan langgeng, abadi dan mimpi immortal.

Setelah KKN dirasa tak cukup, dikembangkanlah utang luar negeri. Mereka yang bikin, tetapi rakyat yang diperintah membayarnya. Utang ini menjadi cara termudah “mengkayakan diri dan kelompoknya” tanpa pertanggungjawaban publik.

Sebagai puncaknya, mereka melakukan industri ekstraktif. Ini adalah jenis kegiatan industri yang mengambil, menggali, dan memanfaatkan bahan baku langsung dari sumber daya alam tanpa melakukan proses budidaya terlebih dahulu. Modal kecil tapi hasil sangat besar. Lingkungan rusak dan terjadi pemiskinan struktural di sekitarnya.

Singkatnya, ortodoksi ekonomi itu jalan sesat dan menyesatkan. Menghancurkan proklamasi, menghilangkan kekayaan nasional, mendelet kepentingan nasional dan mengkhianati pancasila serta konstitusi.

Komentar ditutup.

Berita Terkait

HUT 62 Tahun Partai Golkar, Bangkit Sebagai Partai Karya atau Tenggelam Sebagai Partai Kuasa?
Skema Singkirkan Bahlil, AGK Disiapkan Jadi Ketum Golkar?
Menemukan Arah Baru Politik Umat
Jelang Musda Golkar Kota Bekasi, Patronase Politik Jadi Kunci Konsolidasi
Nasib MK dan Pencarian Keadilan Konstitusional: Rakyat Menunggu Bukti Terverifikasi
Nurani di Ujung Jabatan
Seandainya Jokowi Itu Messi
Arogansi di Kantor DLH Kabupaten Bekasi: Ketika Pejabat Lupa Siapa yang Menggajinya

Berita Terkait

Selasa, 20 Oktober 2026 - 14:03 WIB

Di Bawah Payung Ortodoksi Ekonomi 

Selasa, 20 Oktober 2026 - 06:30 WIB

HUT 62 Tahun Partai Golkar, Bangkit Sebagai Partai Karya atau Tenggelam Sebagai Partai Kuasa?

Senin, 19 Oktober 2026 - 06:30 WIB

Skema Singkirkan Bahlil, AGK Disiapkan Jadi Ketum Golkar?

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 12:50 WIB

Menemukan Arah Baru Politik Umat

Jumat, 16 Oktober 2026 - 06:38 WIB

Jelang Musda Golkar Kota Bekasi, Patronase Politik Jadi Kunci Konsolidasi

Berita Terbaru

Opini

Di Bawah Payung Ortodoksi Ekonomi 

Selasa, 20 Okt 2026 - 14:03 WIB