KOTA BEKASI, Mediakarya – Direktur Eksekutif Etos Indonesia Institute, Iskandarsyah, melontarkan kritik keras untuk Partai Golkar. Menurutnya, di tengah dinamika politik modern, Golkar dituntut bertransformasi total menjadi partai yang adaptif terhadap teknologi dan kecepatan informasi.
Jika tidak, Golkar akan mati ditinggal pemilih muda. “Partai Golkar saat ini memang dituntut untuk bertransformasi menjadi partai yang adaptif terhadap teknologi dan kecepatan informasi, sekaligus meninggalkan sekat-sekat polarisasi antara ‘kader senior’ dan ‘kader muda’,” ujar Iskandarsyah kepada Mediakarya, Minggu (18/10/2026).
Ia menilai, di era digital, pola komunikasi politik yang lambat dan kaku atau yang disebut “pola lama” sudah tidak lagi efektif untuk menggaet pemilih, terutama generasi milenial dan Gen Z yang mendominasi elektorat saat ini.
Agar Golkar benar-benar tumbuh menjadi partai modern yang inklusif dan berbasis teknologi, ada beberapa aspek kunci yang harus segera dibenahi.
Pertama, Meritokrasi Berbasis Kompetensi. Iskandarsyah mendesak Golkar berhenti menjadikan senioritas sebagai ukuran utama.
“Golkar harus menempatkan kader di posisi strategis idealnya didasarkan pada kemampuan teknokratis, digital literasi, dan rekam jejak kerja, bukan sekadar durasi senioritas di partai,” katanya.
Kedua, Pemanfaatan Big Data & AI. Sebagai partai di era teknologi, Golkar tidak bisa lagi mengambil keputusan dengan cara-cara konvensional.
“Pengambilan kebijakan dan strategi kampanye harus berbasis data makro atau data-driven politics untuk memahami kebutuhan riil masyarakat secara cepat,” ujarnya.
Ketiga, Kolaborasi Lintas Generasi. Menolak pola lama, kata Iskandarsyah, bukan berarti membuang kader senior. Tantangannya justru menyatukan kebijaksanaan serta jaringan kader senior dengan kreativitas, kecepatan, dan penguasaan teknologi kader muda.
“Perubahan ini penting agar Golkar tidak sekadar menjadi partai sejarah, tetapi menjadi partai masa depan yang relevan dengan arus digitalisasi,” tegasnya.
Secara khusus, Iskandar menyoroti Golkar Kota Bekasi. Menurutnya, Golkar Kota Bekasi perlu merangkul pemilih muda termasuk Gen Z dan milenial yang diproyeksi mendominasi mayoritas suara pada Pemilu 2029.
Di antaranya melalui transformasi pendekatan yang lebih adaptif, kolaboratif, dan relevan dengan gaya hidup mereka.
Menjelang Musyawarah Daerah (Musda) Golkar Kota Bekasi, ia menilai kebutuhan akan figur kepemimpinan yang segar dan visioner semakin mendesak untuk mengakomodasi aspirasi kelompok muda. Golkar Kota Bekasi butuh calon ketua alternatif.
“Organisasi sayap seperti Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) dan Barisan Muda KOSGORO 1957 (BMK 57) mendapat mandat untuk bergerak lebih awal menjangkau basis pemilih muda,” ungkapnya.
Pendekatan politik yang kaku dan terlalu formal harus ditinggalkan, diganti dengan komunikasi dua arah yang cair, transparan, dan berbasis engagement.
Sebab, kata Iskandar, anak muda lebih tertarik pada organisasi atau ruang partisipasi yang dekat dengan hobi, profesi, komunitas kreatif, serta kegiatan sosial.
“Oleh karenanya, Golkar harus memberikan ruang bagi anak muda dalam struktur kepengurusan serta melibatkan mereka dalam perumusan isu-isu lokal Kota Bekasi seperti lapangan kerja, pendidikan, dan pembangunan perkotaan,” tutupnya. (Dra)








