Peristiwa itu menjadi titik balik yang tak tergantikan. Ia mengaku mendapat teguran keras dari Tuhan dan berkomitmen meninggalkan dunia gangster sepenuhnya.
“Saat itulah saya berkomitmen untuk berhenti dari dunia gangster dan melayani Tuhan.”
Sejak saat itu, Nicho memutuskan pensiun dari dunia hitam dan membangun hidup baru, baik secara spiritual, sosial, maupun profesional.
Dari Tobat ke Ruang Sidang
Perjalanan transformasi Niko Kilikily tidak berhenti pada pertobatan. Ia menempuh jalur pendidikan hukum hingga meraih gelar Sarjana Hukum (SH) dan Magister Hukum (MH). Latar belakang keras yang pernah ia jalani justru membentuk karakternya sebagai pengacara yang lugas, berani, dan tidak mudah gentar menghadapi tekanan.
Pada 2025, namanya kembali ramai diperbincangkan ketika ia menjadi salah satu kuasa hukum Pegi Setiawan dalam kasus pembunuhan Vina dan Eki Cirebon, perkara yang memantik kontroversi publik luas. Di tahun yang sama, ia juga mendampingi Atalarik Syah dalam konflik agraria serta menangani perkara hukum selebritas seperti Clara Gopa.
Aktivisme Sosial dan Rehabilitasi Mantan Preman
Di luar ruang sidang, Nicho aktif dalam kegiatan sosial. Ia mendirikan yayasan yang bergerak di bidang pendidikan dan kesejahteraan masyarakat, khususnya di daerah terpencil. Ia juga meluncurkan program rehabilitasi bagi mantan gangster dan pecandu narkoba, mencakup pelatihan keterampilan, pendampingan psikologis, serta pembinaan keagamaan.
Tak hanya itu, Nicho kerap menjadi pembicara dalam seminar motivasi, berbagi kisah hidupnya sebagai bukti bahwa perubahan selalu mungkin terjadi.
Agen Perubahan
Kini, Nicholas Johan Kilikily dikenal bukan hanya sebagai mantan preman yang bertobat, tetapi sebagai agen perubahan yaitu seseorang yang menggunakan masa lalunya sebagai pelajaran, bukan beban. Dari Tanah Abang ke ruang pengadilan, dari dunia gelap ke pengabdian sosial, perjalanan hidupnya menjadi refleksi bahwa kesempatan kedua bisa melahirkan kontribusi nyata bagi masyarakat.
