Oleh: Yusuf Blegur – Direktur Eksekitif Insititute for Public Policy Strategic (IPPS)
Sejak kecil hingga dewasa, penulis mengenal Guruh Soekarno Putra sebagai seorang seniman dan idealis. Guruh menjadikan seni bukanlah sebagai seni semata, melainkan sebagai pengabdian sekaligus rasa syukur pada Kebesaran Sang Pencipta, kemanusiaan, dan Persada Indonesia
Muhammad Guruh Irianto Soekarno Putra, tidaklah sekedar anak proklamator dan presiden pertama Indonesia. Bukan juga sekadar seorang politisi dan pengusaha. Mas Guruh biasa dipanggil, adalah seorang maestro dalam berkesenian dan berkebudayaan.
Guruh kerap membangun spirit nasionalisme dan patriotisme dalam cara yang tak biasa dan umum.
Lewat seni dan budaya ia mendedikasikan dirinya untuk mengabdi kepada rakyat, negara dan bangsa. Bersama Guruh Gipsy, Swara Mahardika, dan Gencar Semarak Perkasa (GSP), Putra Bungsu Bung Karno dari pasangan Ibu Fatmawati itu, tak pernah lelah menyuarakan idealisme dalam manifestasi pagelaran musik dan sendratari.
Kreasi dan orkestrasi yang memadukan budaya tradisional, nasional, dan internasional. Guruh tak pernah abai mementaskan pagelaran Kebesaran Sang Pencipta, kemanusiaan, dan kebangsaan yang menakjubkan, modern dan melampaui zamannya.
Pria yang pernah belajar arkeolog di Belanda, mengokohkan figurnya bukan hanya mewariskan darah negarawan dan pemimpin besar Bung Karno. Guruh semasa mudanya telah menjadi seniman kuat dan berkarakter terlebih dalam urusan cipta lagu dan tari, produksi dan menejemen hingga koreografi dan pementasan maha karya.
Kini, Guruh Soekarno Putra telah tiada, namun karya-karyanya tak akan pernah terhapus dalam jejak sejarah dan dunia seni Indonesia. Mas Ruh, juga telah menginspirasi sekaligus mengajak banyak anak bangsa khususnya generasi muda era 70, 80, dan 90an, untuk menikmati, menyelami, dan berkreasi seni budaya seiring sejalan mencintai tanah airnya, negeri yang layak dijaga dan dipertahankan selamanya.
Begitupun bagi penulis. Rasanya tak berlebihan jika menyebut, penulis memilik kenangan yang dalam, bersejarah, dan sedikit beririsan ideologis terhadap Goruh Soekarno Putra. Sebagai anak yang masih kecil di usia SD, penulis beruntung sudah kenal dan berinteraksi dengan figur trah Soekarno tersebut.
Sebagai anak dari Ismail Blegur (Putra-Putri Keluarga Bung Karno terbiasa memanggil Rudy), sejak kecil penulis sering diajak berkunjung ke rumah, mulai dari dikenalkan, bermain, dan sampai menjadi relatif dekat dengan hampir semua keluarga Bung Karno itu.
Menjadi anak dari seorang rakyat jelata yang bekerja dan dianggap abdi dalam hingga memiliki kedekatan dan mendapat perlakuan bagai kerabat dari Putra-Putri Bung Karno terutama Guruh.
Seperti kisah Orang tua sendiri, selain banyak pengalaman dengan Putra Putri Bung Karno, penulis juga memiliki kesan yang unik dengan Guruh Soekarno Putra. Sejak anak-anak tak pernah ketinggalan meyaksikan langsung Pageralaran Seni Mas Guruh antara lain Untukmu Indonesiaku, Gilang Gemilang Indonesia, Kembalikan Baliku dll.
Alhamdulillah bisa mendapat fasilitas itu karena Ayah penulis mendapatkan kepercayaan untuk mengurus hampir semua perijinan pagelaran Guruh Swara Mahardika, dan mendapat jatah beberapa tiketnya langsung dari Mas Guruh. Sebagai anak dari orang tua kalangan biasa, penulis merasakan keluarga terbiasa mendapat perlakuan yang hangat dan apresiatif dari Mas Guruh dan umumnya keluarga Bung Karno.
Begitupun dengan pengalaman lainnya, saat SMA penulis yang menjadi pengelola Majalah Sekolah SMAN 52 Jakarta Utara berkesempatan membawa kru redaksi untuk wawancara Guruh Soekarno Putra di kediamannya untuk mengisi cover majalah dan artikel rubrik pemuda. Luar biasa, untuk majalah sekolah bisa mencetak oplah besar dan penjualan meski sebatang majalah sekolah karena figur Guruh Soekarno Putra di dalamnya.
Ada hal yang menarik juga. Saat menjadi aktivis mahasiswa dan menjadi Presidium GMNI, penulis dilibatkan penuh dalam Peringatan 100 Tahun Bung Karno yang diselenggarakan oleh Yayasan Bung Karno (YBK) yang notabene pengurus yayasan adalah Putra Putri Bung Karno yang dipimpin Mas Guruh dari tahun 2000-2005. Ini menjadi yang keduakalinya bagi penulis, setelah ikut juga dalam Peringatan 90 Tahun Bung Karno yang diadakan oleh Yayasan Pendidikan Soekarno (YPS) dibawah pimpinan Ibu Rachmati Soekarno Putri (alm) tahun 1991.
Terakhir kali penulis intens berinteraksi dengan Mas Guruh pada periode 2007-2012 saat bergabung dalam perkumpulan Gerakan Spirit Pancasila di bawah naungan Mas Guruh. Dalam momen itu penulis banyak terlibat pembahasan dialektis serta pelbagai konsep dan praksis kegiatan sosial politik bersama Mas Guruh. Menjadi kenangan yang dinamis dan tak terlupakan bersama figur seni dan politik salah satu legasi biologis sekaligus ideologis Soekarno.
Begitulah, penulis yang sampai saat ini masih menerjuni dunia aktivis dan pegiat sosial terlibat menjadi bagian dari sejarah kiprah dan perjalanan dari Guruh Soekarno Putra. Guruh tentu saja pergi selama-lamanya, jasadnya boleh saja hilang ditelan bumi. Namun semangatnya, spiritnya, dan hasrat idealismenya tak hanya menjadikan seni sebagai seni semata, Melalui Seni Guruh mengajarkan betapa seni adalah alat perjuangan dan pengabdian untuk persada Indonesia.
Innalilahi wa inna ilaihi roji’uun, selamat tinggal dunia dan selamat datang pada di alam yang hakiki. In syaa Allah Husnul khotimah, Mas Guruh. **











