Produktivitas pangan menjadi kendala utama. Padi stagnan selama hampir 15 tahun terakhir dan tertinggal dibanding Vietnam. Meski beras sempat swasembada pada 2025, El-Nino diperkirakan menurunkan produksi beras 5% pada 2026.
Tata Kelola Pangan Berbasis Data dan Sains
Prof. Dwi Andreas menekankan pentingnya kebijakan berbasis data dan sains. Program seperti swasembada bawang putih dan Food Estate dinilai tidak feasible secara geografis dan lahan. Kekeliruan data dapat memicu respons pasar negatif, misalnya harga beras naik meski stok tinggi karena penyerapan “at any quality” oleh Bulog.
Tujuh Rekomendasi Strategis CORE untuk 2026:
- Kebijakan berbasis fakta: data akurat, prakiraan pasar, dan analisis dampak.
- Kebijakan perdagangan tepat dan berhati-hati membaca sinyal pasar.
- Subsidi pangan, input, dan pendapatan disasar efektif untuk menghindari pemborosan fiskal.
- Investasi infrastruktur dan rantai pasok kompetitif untuk meningkatkan pasokan.
- Manajemen risiko: prakiraan pasar, informasi cuaca, R&D teknologi.
- Pengelolaan stok pangan pemerintah bebas intervensi.
- Perbaikan kerja sama publik-swasta untuk menurunkan konflik dan membangun kepercayaan.(hab)
