Musda Golkar Kota Bekasi di Ujung Mata, Beringin Institut: Pilih Ketua Nomor Dua, Bersih-bersih yang Utama

- Editor

Rabu, 7 Oktober 2026 - 12:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bendera partai Golkar (Ist)

Bendera partai Golkar (Ist)

KOTA BEKASI, Mediakarya – Musyawarah Daerah (Musda) Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar Kota Bekasi yang tinggal menghitung hari menjadi momentum penting untuk menentukan nasib dan masa depan Golkar Kota Bekasi untuk lima tahun mendatang.

Sebab dalam kurun waktu tersebut ada dua agenda besar yang menanti, yaitu Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kota Bekasi.

Direktur Beringin Institut, Novarel S. Zuhry, mengatakan mengingat pentingnya agenda tersebut, maka diperlukan persiapan sejak jauh-jauh hari, di mana titik start-nya dimulai pada Musda Golkar Kota Bekasi.

“Oleh karena itu, momentum Musda kali ini jangan sampai dilewatkan begitu saja bagi Golkar Kota Bekasi,” ujar Novarel dalam keterangan tertulisnya yang diterima Mediakarya, Rabu (7/10/2026).

Novarel mengingatkan kader dan pengurus Golkar agar jangan terjebak pada agenda memilih sosok Ketua DPD Golkar Kota Bekasi semata pada Musda kali ini. Apalagi sampai harus mengorbankan soliditas internal partai.

“Jangan sampai menggunakan cara-cara licik untuk merebut tampuk kekuasaan partai. Seperti menebar fitnah, kampanye hitam hingga politik uang. Cara-cara semacam ini sebaiknya disingkirkan jauh-jauh, sebab itu jauh dari semangat Partai Golkar,” tegasnya.

Pilih Ketua Urusan Nomor Dua

Novarel menilai, meski salah satu agenda Musda adalah memilih Ketua DPD Golkar Kota Bekasi, urusan memilih ketua sebaiknya dinomorduakan terlebih dahulu.

Bukan karena figur atau posisi ketua tidak penting, tapi karena Golkar bukanlah partai yang mengandalkan sosok atau figur. Golkar menjadi kekuatan politik besar di tingkat nasional maupun daerah karena sistem partai yang sudah kuat dan solid.

“Inilah bedanya Golkar dengan partai-partai lainnya. Golkar tidak bertumpu pada figur pemimpinnya, melainkan karena sistem partainya yang sudah mapan dan solid,” katanya.

Termasuk di Kota Bekasi, menurutnya, Golkar tetap berdiri tegak menjadi salah satu poros utama kekuatan politik di bawah kepemimpinan Ade Puspitasari selama lima tahun terakhir.

“Buktinya Golkar tetap berhasil mempertahankan raihan kursi legislatif sebanyak 8 kursi pada Pileg 2024. Raihan yang sama dengan Pileg 2014 dan 2019 saat dipimpin Rahmat Effendi yang berstatus Wali Kota Bekasi. Artinya, tanpa kehadiran sosok seperti Rahmat Effendi, Golkar tetap kuat,” jelasnya.

Hebatnya, kata Novarel, raihan 8 kursi tersebut didapat di tengah jumlah Daerah Pemilihan (Dapil) yang mengalami pengurangan dari 6 pada 2019 menjadi 5 pada 2024.

Baca Juga:  Jelang Musda, Kader Senior Golkar Kota Bekasi Adi Yunsyah Imbau Kader Hilangkan Egosentris

“Dan yang perlu diingat, meski kursi Golkar kalah dibandingkan PDI Perjuangan yang meraih 9 kursi, tapi dari sisi suara Golkar unggul. Suara Golkar mencapai 205.229 sedangkan PDI Perjuangan 201.831,” paparnya.

Soal kegagalan di Pilkada 2024, Novarel menilai itu tidak lantas mengecilkan nilai Golkar. Sebab Pileg dan Pilkada adalah dua hal berbeda. Kemenangan Pilkada tidak serta merta ditentukan partai, tetapi juga figur.

“Buktinya PKS Kota Bekasi juga gagal menang Pilkada meski menjadi pemenang Pileg 2024,” katanya.

Sehingga, menurutnya, pada Musda kali ini fokus kader jangan sepenuhnya terkonsentrasi pada dukung-mendukung calon ketua, melainkan bagaimana merumuskan arah kebijakan partai untuk lima tahun ke depan menyongsong Pileg 2029 dan Pilkada Kota Bekasi.

Bersih-bersih yang Utama

Dari semua agenda, Novarel menilai agenda bersih-bersih internal harus menjadi fokus utama Musda Golkar Kota Bekasi.

“Golkar Kota Bekasi harus dibersihkan dari sosok atau orang-orang yang memiliki sifat oportunis. Yang hanya mementingkan kepentingan dan hasrat pribadinya, cari aman bahkan rela mengorbankan partai,” ujar Novarel.

Golkar Kota Bekasi, kata dia, juga harus berani mengamputasi sosok-sosok yang mengklaim senior atau sesepuh partai, yang seolah tampil menjadi pengayom generasi muda, tapi diam-diam justru membangun intrik dan menciptakan konflik internal.

“Bahkan orang-orang yang mengklaim sudah menjadi pandito tersebut justru memiliki hasrat dan ambisi besar menguasai partai dari balik layar. Dan diam-diam menjual partai untuk keuntungan pribadi, misalnya mendapatkan jabatan publik untuk dirinya, anak maupun sanak familinya,” ungkapnya.

Novarel menyebut orang-orang semacam ini adalah parasit yang jika dibiarkan akan merusak partai. Dan orang-orang seperti itu saat ini banyak jumlahnya di tubuh Golkar Kota Bekasi.

“Mereka bahkan ada yang berstatus anggota legislatif dan bahkan pengurus DPD Golkar Kota Bekasi. Dan terbukti pada Pilkada 2024 lalu, mereka secara terang-terangan mendukung calon yang diusung partai politik lain hanya untuk mencari untung,” pungkasnya.

Ia berharap Musda kali ini benar-benar dimanfaatkan untuk bersih-bersih. Sebab sukses tidaknya langkah Golkar lima tahun ke depan sangat tergantung pada bersih tidaknya Golkar Kota Bekasi dari parasit. (Supri)

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Pakar Komunikasi Politik Nilai Manuver Dedi Mulyadi: Investasi Menuju 2029, Berpotensi Picu Gejolak di Tubuh Gerindra
Islah Bahrawi Soroti Dugaan Money Politics di Muktamar NU dan Peran AHWA
Prof Siti Zuhro Usul Sekda Jadi Pj Kepala Daerah Jelang Pemilu Lokal 2031
Dari Anwar Usman Hingga Rocky Gerung, ETOS: Negara Ini Banyak Pelacur Politik
Pecah Kongsi Prabowo-Jokowi? Reshuffle Ketujuh Geser Geng Solo dari Pos Strategis
GNK Soroti Komposisi Wantimpres, Singgung Gaya Komunikasi Rocky Gerung
Mantan WK MPO Golkar Jabar: Duet Bahlil-Sarmuji Bawa Golkar Naik Kelas
Etos Indonesia Desak DPP Golkar Cabut Surat Diskresi Ranny Fahd Arafiq: Istri Koruptor Hattrick Ancam Elektoral Partai

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 12:54 WIB

Musda Golkar Kota Bekasi di Ujung Mata, Beringin Institut: Pilih Ketua Nomor Dua, Bersih-bersih yang Utama

Rabu, 7 Oktober 2026 - 12:20 WIB

Pakar Komunikasi Politik Nilai Manuver Dedi Mulyadi: Investasi Menuju 2029, Berpotensi Picu Gejolak di Tubuh Gerindra

Senin, 5 Oktober 2026 - 08:53 WIB

Islah Bahrawi Soroti Dugaan Money Politics di Muktamar NU dan Peran AHWA

Senin, 5 Oktober 2026 - 08:04 WIB

Prof Siti Zuhro Usul Sekda Jadi Pj Kepala Daerah Jelang Pemilu Lokal 2031

Minggu, 4 Oktober 2026 - 07:58 WIB

Dari Anwar Usman Hingga Rocky Gerung, ETOS: Negara Ini Banyak Pelacur Politik

Berita Terbaru