“Untuk S1, S2, dan S3 pada prinsipnya sangat memungkinkan. Tentu ada konsekuensi akademik, tetapi manfaat pengalamannya besar,” kata Tatacipta.
Ia menambahkan, pada program magister dan doktor, penentuan pembimbing sejak awal menjadi faktor penting keberhasilan studi. Skema pembimbing bersama dinilai realistis untuk diterapkan, khususnya pada program doktoral.
ITB juga telah memiliki pengalaman kerja sama intensif dengan PLN, termasuk dalam program pelatihan dan pertukaran pegawai ke luar negeri guna mempelajari teknologi pembangkit, smart meter, hingga energi terbarukan.
Melalui penjajakan ini, kedua institusi berharap dapat membangun ekosistem pendidikan dan riset yang lebih solid guna mendukung percepatan transisi energi dan penguatan sektor ketenagalistrikan nasional. (hab)




