LAMPUNG, Mediakarya – Langkah nyata membumikan nilai toleransi dan pencegahan radikalisme di kalangan generasi muda terus digelorakan. Produser film Ageman, Ken Setiawan, resmi menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIK) Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung, Senin (12/10/2026).
Kerja sama ini berfokus pada penguatan edukasi moderasi beragama, toleransi, serta pencegahan paham radikalisme dan ekstremisme melalui media audio visual, khususnya seni film.
Sinergi Media Kreatif dan Akademisi
Kerja sama strategis ini menjadi tonggak penting dalam memanfaatkan film sebagai sarana edukasi publik yang efektif. Film Ageman yang diproduseri Ken Setiawan dinilai sarat akan pesan moral dan refleksi sosial yang relevan dengan dinamika kebangsaan saat ini.
Rektor UIN Raden Intan Lampung yang diwakili Prof. Dr. Faizal, S.Ag., M.Ag., menyambut baik kolaborasi tersebut.
Dalam sambutannya, Prof. Faizal menegaskan pentingnya pendekatan populer dan kreatif untuk menjangkau generasi milenial dan Gen Z.
“Edukasi moderasi beragama tidak hanya cukup disampaikan melalui mimbar akademik atau kuliah formal. Melalui seni film, pesan-pesan perdamaian dan toleransi dapat meresap lebih dalam ke dalam sanubari mahasiswa dan masyarakat luas,” ujar Ken dalam keterangan tertulisnya yang diterima Mediakarya, Kamis (15/10/2026).
Film Sebagai Benteng Cegah Radikalisme
Ken Setiawan selaku Produser Film Ageman yang juga menjabat sebagai Kepala Bidang Pemuda dan Pendidikan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Lampung mengungkapkan, keterlibatannya didasari komitmen untuk membentengi generasi muda dari ancaman penyebaran paham intoleransi, radikalisme, dan terorisme.
Menurutnya, film dijadikan media reflektif agar penonton dapat memahami bahaya intoleransi dan radikalisme secara lebih nyata, guna mendorong pemahaman agama yang inklusif, ramah, serta menghargai keberagaman budaya dan keyakinan.
Rangkaian program ke depan akan dilanjutkan dengan pemutaran film (roadshow), diskusi interaktif, serta workshop kebangsaan di lingkungan kampus.
Bedah Dapur Produksi Film Ageman
Tak hanya prosesi penandatanganan MoU, acara tersebut juga diisi sesi diskusi interaktif dan tanya jawab yang disambut antusias mahasiswa dan civitas akademika FDIK UIN Raden Intan Lampung.
Dalam sesi tersebut, Ken Setiawan membedah secara mendalam asal-usul lahirnya ide film Ageman hingga dinamika di balik layar penulisan naskah dan proses produksinya.
Ken menjelaskan istilah “Ageman” yang berarti pakaian atau pegangan hidup, diambil sebagai simbol bagaimana agama dan nilai kebangsaan seharusnya menjadi pakaian yang menyejukkan serta melindungi, bukan dijadikan kedok untuk memecah belah.
Diskusi juga mengulas tantangan teknis maupun artistik dalam mengemas isu-isu sensitif terkait radikalisme agar tetap berbobot secara pesan, namun tetap dapat dinikmati sebagai karya seni sinematik yang menghibur.
Para peserta aktif melontarkan pertanyaan seputar riset latar belakang cerita, pemilihan karakter, hingga pesan moral implisit yang ingin disampaikan kepada penonton muda.
“Film Ageman hadir bukan sekadar hiburan, melainkan instrumen edukasi. Melalui sesi diskusi ini, kami ingin mahasiswa tidak hanya menjadi penonton pasif, tetapi juga memahami proses kreatif di balik penyampaian pesan-pesan perdamaian,” tutur Ken.
Melalui MoU ini, kedua belah pihak berkomitmen untuk terus menghadirkan program-program turunan yang berdampak langsung bagi mahasiswa dan masyarakat Lampung. Sinergi antara dunia perfilman dan institusi pendidikan tinggi Islam ini diharapkan dapat menjadi rujukan nasional dalam mengampanyekan moderasi beragama secara kreatif dan berkelanjutan. (adt)











