Sjafruddin Prawiranegara dan Uang

- Editor

Jumat, 30 Mei 2025 - 08:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Prof.Dr.Yudhie Haryono

Tanpa pikirannya, kita mungkin tak punya rupiah; tak punya uang sendiri; bahkan tak punya “mata uang.” Ialah ekonom cum bankir generasi pertama Indonesia Merdeka. Ialah ekonom yang jadi presiden tetapi tak ditulis sebagai Presiden Indonesia dalam sejarahnya.

Mengapa muncul tesis di awal paragraf seperti itu? Sebab, Sjafruddinlah orang pertama (satu-satunya) yang usul agar pemerintah RI segera menerbitkan mata uang sendiri sebagai atribut kemerdekaan Indonesia untuk mengganti beberapa mata uang asing yang masih beredar, sekaligus sebagai penanda dan petanda sekaligus kedaulatan negara.

Uang sebagai petanda dan penanda itu sangat penting. Terlebih, pak Sjaf ini meneguhkannya dengan dua hal: 1)Menjadi presiden walau hanya 6 bulan 21 hari (serta jabatan strategis lainnya). Dan, 2)Menyelesaikan inflasi plus kekacauan ekonomi tinggalan para penjajah-penjarah via program sanering mata uang (gunting sjafruddin).

Kita tahu, ujung dari perang dagang adalah proses depresiasi nilai tukar uang sebuah negara. So, kebijakan sanering pada waktu itu adalah usaha perlawanan ekonomi dalam bentuk “penyehatan uang” yang ditempuh untuk mencegah inflasi semakin tinggi, mengendalikan harga, meningkatkan nilai mata uang, dan memungut keuntungan tersembunyi dari perdagangan.

Makin ke sini, uang memang bergerak tragis, tidak tak terbatas; tidak tak terpikirkan. Ia yang di abad lalu hanya alat pemindahan kekayaan bagi kolonialisme, kini makin rigid sebagai alat dominasi, penetrasi sekaligus takdir sebuah negara.

Sejarah uang adalah sejarah peradaban dan penundukan. Karenanya, uang merupakan benda bersejarah dan cerminan keadaan dari suatu negara. Desain mata uang yang diterbitkan ada beberapa macam tema yang terkenal dan langka. Mata uang dengan tema tersebut, merupakan kenangan terhadap suatu peristiwa yang menarik.

Di masa awal kemerdekaan, uang merupakan alat/penanda kemerdekaan, petanda untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan, penanda kemajuan sehingga desain Oeang Repoeblik Indonesia (ORI) terpasang gambar wajah tokoh Proklamator Kemerdekaan Indonesia sejak revolusi hingga sekarang.

Baca Juga:  Surat Terbuka untuk Presiden Republik Indonesia

Maka, sejak ratusan tahun lalu, uang sudah menjadi bahan/alat/penanda/petanda yang melambangkan kekayaan, kejayaan, kemakmuran sekaligus dominasi dan penjajahan. Uang menggantikan emas dalam sejarah simbol manusia atas cengkraman terhadap semesta. Dulu, hiasan tahta emas selalu menjadi bagian dari ornamen sebuah perangkat raja-raja dan bahkan digunakan dalam banyak bangunan peninggalan zaman purba. Kini hiasan dan simbol uanglah yang jadi ukuran.

Mengingat visi besar Sjafruddin Prawiranegara dalam hal “uang” sangat menarik. Sebab, ia adalah orang Indonesia pertama dan satu-satunya yang menjadi Presiden De Javasche Bank (DJB) di masa-masa akhir tahun (1951-1953).

Ia bersama kawan-kawan yang lain (Jusuf Wibisono, Mohamad Sediono, Soetikno Slamet, Soemitro Djojohadikoesoemo, Sabarudin, Khouw Bian Tie), menasionalisasi DJB menjadi Bank Indonesia sekaligus menduduki jabatan Gubernur Bank Indonesia (BI) pertama tahun (1953-1958).

Saat menjadi gubernur itulah ia membuat visi-misi BI yang fundamental: 1)Memajukan ekonomi nasional; 2)Menumbuhkan dan mengembangkan pengusaha pribumi; 3)Merubah sistem ekonomi kolonial menjadi sistem ekonomi nasional; 4)Melakukan kerja sama antara pengusaha pribumi dengan pengusaha asing demi kesejahteraan nasional; 5)Menjadi penjaga kedaulatan uang rupiah dan kedaulatan negara.

Sayang, visi-misi besar itu hilang. Kini BI menjadi Bank (di) Indonesia, bahkan jadi sarang penyamun yang bahagia saat rupiah terdepresiasi sampai tiga ribu persen.

So, wahai para ksatria Pancasila. Mari warisi visi besar pak Sjaf. Kita harus bangkit. Sebab, sejarah kehancuran negara seringkali karena rusaknya mental serta moral rakyat. Dan, rakyat rusak karena pemimpinnya culas bin serakah. Lalu, pemimpin rusak karena ekonomnya rusak dikarenakan cinta dunia, tahta dan lawan jenis serta takut miskin.

Penulis: Presidium Forum Negarawan

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait

Kantor Dinas LH Adalah Ruang Publik-Bukan Istana Tertutup
Pasca Putusan MK: Siapkah MPR Bergerak Produktif dan Berintegrasi?
Agensi Ekonomi Heterodoks di Indonesia
Bengawan Kejaksaan: Tindakan Disiplin dari Tingkat Pusat Hingga Daerah
Soal Isu Wapres Diganti Puan Maharani, IPPS: Prabowo Sedang Kelola Krisis Ijazah
Jalin MoU Dengan BRIN, Mensos Inginkan Ada Inovasi Bagi Sekolah Rakyat
Pengawasan Lelang Proyek Jangan Formalitas: Belajar dari Proyek Jalan Poros Lingkar Waduk Penjalin Brebes
Putusan MK Telah Diucapkan: Fakta Tersedia dan Jalur Hukum yang Terbuka di Hadapan Kita

Berita Terkait

Jumat, 9 Oktober 2026 - 21:55 WIB

Kantor Dinas LH Adalah Ruang Publik-Bukan Istana Tertutup

Jumat, 9 Oktober 2026 - 21:11 WIB

Pasca Putusan MK: Siapkah MPR Bergerak Produktif dan Berintegrasi?

Jumat, 9 Oktober 2026 - 18:55 WIB

Agensi Ekonomi Heterodoks di Indonesia

Jumat, 9 Oktober 2026 - 11:35 WIB

Bengawan Kejaksaan: Tindakan Disiplin dari Tingkat Pusat Hingga Daerah

Jumat, 9 Oktober 2026 - 08:37 WIB

Soal Isu Wapres Diganti Puan Maharani, IPPS: Prabowo Sedang Kelola Krisis Ijazah

Berita Terbaru

Anggota Komisi II DPR RI Fraksi PKS Mardani Ali Sera

Nasional

Wacana Pansus Hak Angket Ijazah Gibran Bergulir di Senayan

Jumat, 9 Okt 2026 - 23:42 WIB

Wakil Ketua Umum Golkar Ahmad Doli Kurnia

Nasional

Golkar Dukung Prabowo 2029 Cawapresnya Belakangan

Jumat, 9 Okt 2026 - 23:37 WIB