Parlemen Bubar, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu Terancam Digulingkan

- Editor

Senin, 25 Mei 2026 - 05:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Donald Trump dan Benjamin Netanyahu (Foto: Ist)

Donald Trump dan Benjamin Netanyahu (Foto: Ist)

JAKARTA, Mediakarya – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tengah mendapatkan tekanan serius, bukan hanya dari luar negeri, pemimpin negara zionis itu juga mendapatkan ancaman dari koalisi pemerintahannya.

Belum lama ini, mereka mengajukan rancangan undang-undang pembubaran parlemen.
Langkah ini membuka jalan menuju pemilu dini.

Artinya jika rancangan undang-undang disahkan, maka Israel akan menggelar pemilu dalam waktu 90 hari setelah pengesahan.

Media Israel melaporkan pemungutan suara pada rancangan aturan kemungkinan dilakukan pada 20 Mei. Kabarnya pengesahan juga hampir pasti terjadi.

“Parlemen ke-25 akan dibubarkan sebelum akhir masa jabatannya. Pemilu akan digelar pada tanggal … yang tidak boleh ditetapkan lebih awal dari 90 hari setelah pengesahan undang-undang ini,” demikian isi draf legislasi yang dirilis Likud, dikutip dari CNBC Indonesia, Minggu (24/5/2026).

Kabar tersebut terdengar saat parta-partai ultra-Ortodoks mulai kehilangan kesadaran dengan janji politik Netanyahu. Koalisi pemerintah Israel sendiri memang sudah sering dikabarkan rapuh dan kerap terjadi konflik internal.

Salah satu yang dikritik mereka adalah Netanyahu gagal memenuhi janji mengesahkan aturan untuk pengecualian permanen wajib militer pada pria muda di komunitas mereka yang belajar di yeshiva atau seminari agama.

Usulan tersebut diajukan oleh partai yang dipimpin oleh Netanyahu. Namun sebenarnya ketegangan membuat partai-partai oposisi ingin mengajukan proposal sendiri untuk membubarkan parlemen.

Langkah cepat Likud dinilai jadi cara Netanyahu untuk mengambil kendali atas jadwal politik. Selain juga mencegah oposisi mendikte momentum pemilu.

Pemimpin oposisi utama, Yair Lapid memastikan siap mengikuti pemilu. Dia telah membentuk aliansi politik baru dengan mantan perdana menteri Naftali Bennett bernama Beyahad (Bersama) untuk maju bersama menghadapi Netanyahu nanti.

“Kami siap bersama,” tulis Lapid di platform X.

Kedua orang tersebut telah menjadi pengkritik keras penanganan perang Netanyahu sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Bahkan Lapid mengatakan gencatan senjata terbaru dengan Iran sebagai bencana politik.

Baca Juga:  Tolak Ikut Wajib Militer, Mahasiswa Israel Ajukan Suaka ke Inggris

Namun nampaknya pemilu baru tetap akan memenangkan Likud. Karena dari jajak pendapat politik yang dirilis lembaga penyiaran publik Israel, kan, menunjukkan partai itu masih jadi preferensi pemilih dan unggul tipis dari Beyahad.

Likud diproyeksikan akan mendapatkan 26 kursi dari 120 kursi di parlemen. Jumlah itu menurun dari 32 kursi yang dimiliki saat ini.

Beyahad kemungkinan mendapatkan 25 kursi. Koalisi itu unggul dari partai Yashar (straight), yakni partai tengah-kanan yang dipimpin mantan kepala militer Israel Gadi Eisenkot.

Karir politik Netanyahu yang berusia 76 tahun bisa dikatakan jadi salah satu yang paling bertahan dalam sejarah Israel. Sejak 1996 sepanjang karir politiknya, dia telah menjadi perdana menteri lebih dari 18 tahun atau yang terlama di negara tersebut.

Namun Netanyahu terpojok saat serangan Hamas tiga tahun lalu. Banyak masyarakat yang menyalahkannya.

Di sisi lain, Netanyahu menjanjikan meraih kemenangan total dari Hamas, Hizbullah di Lebanon, dan Iran. Namun, hingga sekarang janji itu belum ada yang tercapai.

Selain itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dikabarkan ‘ditendang’ Presiden Amerika Serikat Donald Trump dari pembicaraan damai dengan Iran.

Sejumlah pejabat pertahanan Israel mengatakan sikap Trump kepada Netanyahu itu berubah dari sebelumnya rekan diskusi menjadi hanya “seorang penumpang” setelah serangan gabungan AS-Israel gagal menghancurkan Republik Islam Iran.

Menurut para pejabat, Trump dan pemerintahannya keki setelah prediksi Netanyahu akan kemenangan atas Iran gagal total.

Karenanya, Trump nyaris sepenuhnya mengeluarkan Netanyahu dari pembicaraan gencatan senjata dengan Iran.

Dua pejabat pertahanan Israel meminta bicara secara anonim kepada The New York Times karena sensitivitas masalah. (Red)

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Menlu Iran: Kami Siap Diplomasi, Tapi Akan Beri Respons Lebih Keras Jika Diserang
Rektor Ubhara Jaya Raih Global Leadership Award in Security Based Higher Education
Iran Tolak Mentah Mentah Proposal Gencatan Senjata AS Tujuh Hari Buka Selat Hormuz
Pesawat Iran Disita Turki Diminta Bayar Hutang 60 Miliar Rupiah
Ribuan Buruh Dari Bekasi Dan Karawang Bergerak Ke Jakarta Dapat Pengawalan Petugas
Iran Tetap Teguh Melawan Amerika dan Israel di PBB
Kapal Komersial Sitaan Koalisi Amerika Israel Dijual Iran
Presiden Iran Serukan Persatuan Islam Larang Negara Muslim Jadi Pangkalan Militer AS

Berita Terkait

Senin, 5 Oktober 2026 - 10:18 WIB

Menlu Iran: Kami Siap Diplomasi, Tapi Akan Beri Respons Lebih Keras Jika Diserang

Kamis, 1 Oktober 2026 - 20:12 WIB

Rektor Ubhara Jaya Raih Global Leadership Award in Security Based Higher Education

Rabu, 30 September 2026 - 09:17 WIB

Iran Tolak Mentah Mentah Proposal Gencatan Senjata AS Tujuh Hari Buka Selat Hormuz

Rabu, 30 September 2026 - 09:05 WIB

Pesawat Iran Disita Turki Diminta Bayar Hutang 60 Miliar Rupiah

Kamis, 24 September 2026 - 11:02 WIB

Ribuan Buruh Dari Bekasi Dan Karawang Bergerak Ke Jakarta Dapat Pengawalan Petugas

Berita Terbaru

Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo

Hukum

KPK Jadwalkan Ulang Pemanggilan Nusron Wahid Pekan Ini

Senin, 12 Okt 2026 - 20:40 WIB

Siswa SMK Tinta Emas Indonesia sedang antri MBG Prasmanan

Daerah

MBG Dengan Sistem Prasmanan, Terobosan Atau Pemborosan?

Senin, 12 Okt 2026 - 15:37 WIB

Ketua Bidang Advokasi F-SPGI, Purijan Karismandely

Ekonomi & Bisnis

F-SPGI Adukan Dugaan PHK Sepihak 11 Pekerja PT Indonesia Epson Industry

Senin, 12 Okt 2026 - 14:21 WIB