Di Bawah Kepemimpinan Bahlil, Marwah Golkar Kian Meredup

- Editor

Selasa, 1 September 2026 - 11:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketum Golkar Bahlil Lahadalia saat diwawancarai sejumlah awak media. (Ist)

Ketum Golkar Bahlil Lahadalia saat diwawancarai sejumlah awak media. (Ist)

JAKARTA, Mediakarya – Pasca kepemimpinan Bahlil Lahadalia sebagai Ketua Umum Golkar, marwah partai itu dinilai terus merosot.

Sebagai salah satu partai politik tertua dan terbesar di Indonesia tersebut kini mengalami krisis kepemimpinan. Tak hanya itu, marwah Golkar di pemerintahan mulai meredup.

Bahkan sejumlah kader senior menilai bahwa partai Golkar saat ini mudah diintervensi oleh kepentingan elite kekuasaan di luar partai.

Hal ini dinilai mengurangi independensi Golkar yang secara historis memiliki posisi tawar politik yang sangat kuat.

Institute for Public Policy Strategic (IPPS) Indonesia, mengatakan bahwa Ketum Golkar Bahlil Lahadalia dianggap kurang optimal dalam melakukan konsolidasi internal partai secara menyeluruh karena harus membagi fokus dengan tugas-tugas pemerintahan.

Menurut dia, ada kekhawatiran bahwa mekanisme kaderisasi serta meritokrasi internal yang selama ini menjadi kekuatan utama kelembagaan Golkar mulai terabaikan demi pragmatisme politik jangka pendek.

“Penilaian akhir mengenai berhasil atau tidaknya kepemimpinan Bahlil dalam menjaga marwah Partai Golkar akan sangat bergantung pada soliditas internal partai ke depan serta hasil elektoral yang dicapai pada pemilu-pemilu mendatang,” ujar direktur eksekutif IPPS Indonesia, Yusuf Blegur kepada Mediakarya di Jakarta, Selasa (1/9/2026).

Untuk itu, banyak kader berharap agar Partai Golkar kedepannya dipimpin oleh kader yang mengakar yang mencerminkan aspirasi utama di internal partai berlambang pohon beringin tersebut.

“Partai Golkar perlu memiliki kepemimpinan yang mengakar, hal itu sangat penting agar pemimpin baru mampu menjaga soliditas partai, memahami dinamika akar rumput, serta mempertahankan kekuatan elektoral Golkar yang bertumpu pada jaringan kader di daerah,” katanya

Baca Juga:  Idrus Marham Sebut Cara Kerja Menteri Golkar Nyata

Menurutnya Golkar memiliki struktur organisasi yang kuat hingga ke tingkat desa. Pemimpin yang tumbuh dari rahim partai (kader tulen) umumnya lebih dihormati oleh pengurus daerah (DPD I dan DPD II).

Berdasarkan infromasi yang didapat, sejumlah kader mengaku kecewa lantaran Golkar di bawah kepemimpinan Bahlil Lahadalia dinilai bagian dari geng Solo.

Tidak hanya itu, Bahlil dikenal sebagai salah satu figur yang paling vokal dalam membela arah politik Jokowi.

Hubungan dekat ini terlihat dari karir politiknya yang melesat pesat, mulai dari Kepala BKPM, Menteri Investasi, hingga Menteri ESDM. Kedekatan emosional dan politik.

Oleh karena itu, keberhasilan Bahlil menduduki kursi Ketua Umum Partai Golkar dinilai tidak lepas dari dukungan politik informal dari lingkaran Solo.

Posisi strategis ini dianggap penting untuk menjaga stabilitas kekuatan politik loyalis Jokowi di parlemen dan pemerintahan pasca-masa jabatan kepresidenannya berakhir.

“Hal ini yang pada akhirnya mendorong Bahlil menjadi Ketum Golkar, meski suara akar rumput masyoritas menolaknya, namun saat itu Bahlil mendapat restu dari Jokowi. Artinya, keberadaan Bahlil sat ini tidak bisa terlepas dari bayang-banyang Solo (Jokowi),” tegasnya. (Ugy)

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Mandat Rakyat vs Arogansi Jabatan, Ganjar dan KDM Beda Sikap Hadapi Kritik Warga
Jelang Musda Golkar Kota Bekasi, Muncul Isu Politik Uang dan Hadiah Motor untuk PK
Etos Indonesia: Jangan Tukar Dukungan dengan Hadiah, Reses Ranny Berpotensi Jadi Ladang Gratifikasi
Refleksi 62 Tahun Golkar, Adi Yunansyah: Momentum Kembalikan Doktrin Kekaryaan
Yunarto Wijaya Bongkar Manuver Prabowo Copot Orang Dekat Jokowi, Permainan Cantik Itu Karena Kecanggihan Sang Operator
Soal UU Pemilu Wajib Diusung 2 Partai DPR, Saiful Mujani Prediksi Hanya 3 Pasangan Capres, Prabowo-Puan vs AHY-Anies Menguat
Islah Bahrawi Skakmat Tudingan Jokowi Soal Operasi Intelijen Diskreditkan Gibran, Kebiasaan Lama Tutupi Kejahatan
Bungkam Soal Ijazah Gibran, Zulhas Dituding Hutang Budi ke Jokowi

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 10:41 WIB

Mandat Rakyat vs Arogansi Jabatan, Ganjar dan KDM Beda Sikap Hadapi Kritik Warga

Rabu, 21 Oktober 2026 - 07:30 WIB

Jelang Musda Golkar Kota Bekasi, Muncul Isu Politik Uang dan Hadiah Motor untuk PK

Selasa, 20 Oktober 2026 - 20:05 WIB

Etos Indonesia: Jangan Tukar Dukungan dengan Hadiah, Reses Ranny Berpotensi Jadi Ladang Gratifikasi

Senin, 19 Oktober 2026 - 16:57 WIB

Refleksi 62 Tahun Golkar, Adi Yunansyah: Momentum Kembalikan Doktrin Kekaryaan

Senin, 19 Oktober 2026 - 12:30 WIB

Yunarto Wijaya Bongkar Manuver Prabowo Copot Orang Dekat Jokowi, Permainan Cantik Itu Karena Kecanggihan Sang Operator

Berita Terbaru