JAKARTA, Mediakarya – Pengamat terorisme dan Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia (JMI), Islah Bahrawi, menyoroti dugaan praktik money politics dalam penyelenggaraan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU).
Sorotan tersebut disampaikan Islah melalui pernyataan yang beredar di akun TikTok, sebagaimana dikutip Senin (5/10/2026).
Dalam pernyataannya, Islah yang juga dikenal sebagai aktivis NU asal Madura, secara khusus menyinggung keberadaan sembilan anggota Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA).
AHWA merupakan lembaga yang dibentuk dalam forum Muktamar NU dan dinilai memiliki peran strategis dalam menentukan kepemimpinan.
Islah menyebut, sembilan anggota AHWA tersebut awalnya dianggap memiliki integritas tinggi.
Mengutip pernyataan budayawan Eros Djarot, Islah mengatakan, titik lemah sebagian orang NU adalah ketika dihadapkan pada tawaran materi, integritasnya dapat goyah.
Ia juga mengungkapkan keprihatinannya karena nilai-nilai yang dipelajari dari berbagai kitab klasik seperti Irsyadul Ibad dan Al-Hikam, serta ajaran ulama dan filsuf seperti Imam Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd, termasuk ilmu tasawuf, pasifisme.
Menurut dia, kemanusiaan, dinilai dapat luntur akibat kepentingan pribadi dan godaan uang saat pengambilan keputusan di forum Muktamar.
Pada bagian akhir pernyataannya, Islah menyampaikan imbauan kepada elit Nahdlatul Ulama untuk bersama-sama menyelamatkan organisasi.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) maupun panitia Muktamar terkait pernyataan Islah Bahrawi tersebut. mediakarya.id, masih berupaya mengonfirmasi pihak terkait. (Pri)









