Jangan Umumkan Kebijakan Mentah, Legislator Ini Desak Prabowo Benahi 3 Program Dinilai Bermasalah

- Editor

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 10:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Ahmad Irawan (Ist)

Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Ahmad Irawan (Ist)

JAKARTA, Mediakarya – Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Ahmad Irawan, mendesak pemerintah Presiden Prabowo Subianto untuk segera memperbaiki tata kelola tiga program prioritas yang kini menjadi sorotan publik: Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), dan dana transfer ke daerah.

Menurutnya, perbaikan ini mendesak untuk menjawab kritik publik yang keras sekaligus memastikan program triliunan rupiah itu benar-benar memberikan manfaat nyata, bukan sekadar jargon politik.

“Tanggung jawab kami sama besarnya dengan Partai Gerindra dan partai-partai koalisi lainnya untuk menyukseskan pemerintahan ini,” kata Ahmad dalam Dialektika Demokrasi bertema “Mengupas Dua Tahun Pemerintahan Prabowo” di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (23/10/2026).

MBG Harus Diperketat, Anggaran Disebut Dirasonalisasi Jadi Rp240 Triliun

Terkait MBG, Ahmad menegaskan program tersebut penting dan merupakan bukti kepedulian Presiden. Namun ia mengakui tata kelolanya bermasalah dan harus diperketat.

“Pengawasan anggaran dan pelaksanaannya harus diperkuat, sementara setiap penyimpangan perlu ditindak sesuai hukum. Kita membutuhkan program seperti ini dan sebenarnya kita harus mengapresiasi Presiden,” ujarnya.

Ia menyebut anggaran program tersebut telah dirasionalisasi dari lebih dari Rp360 triliun menjadi sekitar Rp240 triliun. Angka ini masih perlu dikonfirmasi melalui dokumen anggaran resmi.

Koperasi Desa Merah Putih Mangkrak? Golkar Minta Segera Dioperasikan

Sikap lebih keras dilontarkan Ahmad terkait Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Ia mendesak pemerintah mempercepat operasional koperasi yang digadang-gadang menjadi tulang punggung distribusi logistik desa tersebut.

Menurut Ahmad, KDMP berpotensi mendukung distribusi barang bersubsidi dan kebutuhan logistik desa, namun hingga kini manfaatnya belum dirasakan masyarakat.

“Kami ingin mendorong agar Koperasi Desa Merah Putih segera beroperasi, supaya publik bisa melihat bahwa apa yang kita bangun selama ini memang memberikan manfaat,” tegasnya. Pernyataan ini menjadi sinyal bahwa program andalan tersebut dinilai masih mangkrak di lapangan.

Baca Juga:  Makanan Bergizi, Tapi Apakah Nampannya Aman?

Pemda Manja Transfer Pusat, PAD Hanya 10 Persen

Sorotan paling tajam diarahkan pada dana transfer ke daerah. Ahmad membongkar fakta pahit: banyak pemerintah daerah masih sangat manja dan tergantung pada pusat.

Ia menyebut kontribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD) di banyak daerah masih hanya sekitar 10 persen dari APBD.

“Karena itu, pemerintah daerah perlu meningkatkan inovasi, memperbaiki tata kelola, dan memperkuat kemandirian fiskal,” katanya.

Ia juga melontarkan kritik pedas terhadap gaya komunikasi pemerintah. Ahmad mengingatkan pemerintah agar tidak mengumumkan kebijakan yang belum matang karena berpotensi memperburuk persepsi masyarakat dan memicu disinformasi.

Menurutnya, sejumlah kebijakan transformatif pemerintah belum mendapat perhatian yang sepadan akibat lemahnya sosialisasi dan beredarnya informasi yang keliru.

Di bidang reforma agraria, Ahmad menilai kebijakan pemerintah juga tidak boleh hanya seremoni bagi-bagi sertifikat. Penyelesaian konflik agraria, harmonisasi data pertanahan, dan kebijakan satu data antarkementerian menjadi pekerjaan rumah yang belum beres.

Di tengah tekanan geopolitik global, Ahmad menilai satu-satunya kebijakan yang masih menunjukkan keberpihakan nyata adalah mempertahankan subsidi dan kompensasi energi.

“Hingga saat ini, subsidi dan kompensasi energi masih ditanggung pemerintah. Itu adalah bukti nyata keberpihakan pemerintah kepada rakyat,” ujarnya.

Ia menegaskan evaluasi dua tahun pemerintahan Prabowo harus berujung pada perbaikan nyata, bukan pencitraan. Transparansi anggaran dan penguatan pengawasan adalah kunci untuk menjaga kepercayaan publik yang mulai tergerus.  (Ugy)

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Andre Rosiade: MBG Masih Dibutuhkan di Daerah, Evaluasi Jangan Hanya Karena Ramai Penolakan di Jakarta
Haidar Alwi: Sapaan Prabowo ke KSP Jenderal Listyo Sigit Cerminkan Komunikasi Kepemimpinan yang Solid
Direktur Program Daksinapati UI Sebut Karhutla 2026 Bukan Takdir, Tapi Pembiaran dan Pengkhianatan Terhadap Negara
FX Rudi Ungkap Rentetan Kebohongan Jokowi yang Membuatnya Kecewa Hingga Pilpres
Analisis Charta Politika: APBN 2025-2026 Bukti Prabowo Bukan Penerus Jokowi
Pengamat Ini Bongkar Skenario Besar di Balik Lengsernya Airlangga dari Ketum Golkar
Bos Charta Politika Ungkap Dipanggil Prabowo Lewat Seskab Teddy, Tolak Tawaran Jabatan
Mandat Rakyat vs Arogansi Jabatan, Ganjar dan KDM Beda Sikap Hadapi Kritik Warga

Berita Terkait

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 10:40 WIB

Jangan Umumkan Kebijakan Mentah, Legislator Ini Desak Prabowo Benahi 3 Program Dinilai Bermasalah

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 06:40 WIB

Andre Rosiade: MBG Masih Dibutuhkan di Daerah, Evaluasi Jangan Hanya Karena Ramai Penolakan di Jakarta

Jumat, 23 Oktober 2026 - 09:15 WIB

Haidar Alwi: Sapaan Prabowo ke KSP Jenderal Listyo Sigit Cerminkan Komunikasi Kepemimpinan yang Solid

Jumat, 23 Oktober 2026 - 08:40 WIB

Direktur Program Daksinapati UI Sebut Karhutla 2026 Bukan Takdir, Tapi Pembiaran dan Pengkhianatan Terhadap Negara

Jumat, 23 Oktober 2026 - 08:13 WIB

FX Rudi Ungkap Rentetan Kebohongan Jokowi yang Membuatnya Kecewa Hingga Pilpres

Berita Terbaru