ACEH TIMUR, Mediakarya – Puluhan peserrta kegiatan bimtek Gechik (kepala desa) gelombang 8, berasal dari Kecamatan Simpang Ulim, Pante Bidari dan Madat, ternyata ogah mengikuti pelatihan yang di pusatkan di Aula Royal Hotel, Kota Idi, Kabupaten Aceh Timur.
Pantauan media ini sejak memasuki pelatihan gelombang ke 8, yang dimulai Rabu, (1/6/2020), sebagian besar peserta lebih memilih nongkrong di cafe-cafe di Kota Idi seputaran hotel.
“Malam ini tidak ada kegiatan pelatihan, mungkin besok pagi di mulai acaranya,” ujar salah satu peserta yang enggan disebutkan namanya.
Pemandangan yang sama pada Kamis (3/6/2022), di mana saat berlangsung pelatihan, banyak peserta yang asik ngobrol dan minum kopi di cafe-cafe. Bahkan beberapa pengakuan keuchik selaku peserta, tidak mengikuti pelatihan, mereka lebih memilih tidur di kamar hotel.
Selain duduk di cafe dari pagi dan sore, bahkan ada peserta datang sebentar kemudian pulang, balik saat menandatangani absen.
Sementara sumber lainnya mengungkapkan bahwa banyak peserta malas dan ogah mengikuti bimtek. Mereka berdalih bahwa pematerinya tidak berkualitas.
“Materi yang diberikan tidak jauh beda materi bimtek sebelumnya,” ujar salah Keuchik yang minta namanya di rahasiakan.
Banyak peserta mengaku malas mengikuti bimtek lantaran dilaksanakan di Idi. Padahal, mayoritas peserta berharap agar bimtek itu dilaksanakan di luar daerah sekaligus berefreshing.
“Sudah dua kali bimtek dilaksanakan di Idi, makanya malas dan bosan untuk mengikuti pelatihan. Padahal uang yang kita setor 5 juta satu peserta. Jika bimteknya ke luar daerah sambil mengikuti pelatihan bisa refreshing,” ucapnya.
Ia menduga bahwa bimtek tersebut hanya sebagai formalitas. Mau ikut atau tidak yang penting para peserta telah menyetorkan uang.
Diketahui acara bimtek yang bertema “Sosialisasi Peningkatan Akuntabilitas Dana Desa dan Pengadaan Barang dan Jasa di Masa Transisi Covid dan Pemulihan Ekonomi” dilaksakan Lempana sejak hari Rabu 18 Mei hingga 3 Juni 2022. Sebanyak 8 gelombang yang diikuti 513 Desa di Kabupaten Aceh Timur. setiap gelombang mengikuti pelatihan selama 2 hari.
Dimana setiap desa dibebankan anggaran Rp10 juta untuk 2 peserta bersumber anggaran 8 persen dari pos pencegahan covid Dana Desa tahun 2022. (Malik)

