Oleh: Khudori
BULOG, seperti diuraikan pada analisis 27 Januari 2026, mulai menyerap gabah kering panen (GKP) milik petani. Per 30 Januari 2026 penyerapan mencapai 73.822 ton beras. Gabah/beras itu diserap dari wilayah yang tengah panen: Jawa (Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Banten), Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Lampung, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Selatan. Jawa jadi penyumbang utama.
Pada Februari 2026, merujuk Kerangka Sampel Area BPS, panen besar belum bergeser dari 10 provinsi itu. Jika pada Januari 2026 diperkirakan ada panen sebesar 3,12 juta ton gabah kering giling (GKG) dari lahan seluas 0,59 juta ha, pada Februari 2026 produksi GKG diperkirakan 5,18 juta ton dari panen seluas 0,97 juta ha. Di sisi lain, merujuk perkiraan BMKG, curah hujan tinggi-sangat tinggi terjadi di wilayah yang panen: sebagian Jawa, sebagian Kalimantan Barat, dan sebagian Sulawesi Selatan.
Ini tantangan yang krusial. Panen bersamaan musim hujan, apalagi intensitas hujan tinggi hingga sangat tinggi, akan mengganggu proses panen. Kalau terjadi banjir, padi terendam dan bisa mati. Kalau padi tersebut menjelang usia panen, terpaksa dipanen dini. Ini, di satu sisi, bisa membuat petani mengalami kegagalan panen. Di sisi lain, gabah hasil panen dini atau gabah basah karena banjir, perlu segera dikeringkan. Terlambat penanganan, gabah bisa berwarna hitam dan berkecambah.
Dalam kasus seperti ini, kebijakan pengadaan GKP semua kualitas menolong petani. Gabah petani dijamin dibeli Rp6.500/kg apapaun kondisinya. Negara, melalui BULOG, hadir di tengah kesulitan petani. Petani terhindar dari kerugian atau permainan tengkulak. Akan tetapi, memberlakukan pembelian GKP semua kualitas untuk semua keadaan, tidak mendidik. Selain membuka peluang perilaku lancung, membeli barang berkualitas berbeda dengan harga sama itu sebenarnya tidak ada rumus dan ilmunya.
Bagi BULOG dan mitranya, tugas seperti ini tidak mudah. Terutama di wilayah yang kapasitas mesin pengering (dryer) dan penggilingan terbatas. Mengandalkan lantai jemur untuk mengeringkan gabah, sementara sinar matahari tidak selalu nongol tak ubahnya berjudi. Hasilnya, seperti terekam dalam pengadaan beras pada 2025. Dari penyerapan 3.191.969 ton setara beras, 85% berbentuk GKP dan 15% berupa beras.
Dari 769.862 ton pengadaan berbentuk beras pada 2025, kadar airnya antara 12,70%-13,94% (rerata 13,44%), butir patah berkisar 18,19%-24,93% (23,11%), menir bergerak 1,17%-1,99% (1,62%), dan derajat sosoh merentang dari 95,00% hingga 96,05% (95,11%). Mutu beras medium ini sesuai Peraturan Badan Pangan Nasional (Bapanas) No. 2/2023 tentang Persyaratan Mutu dan Label Beras: maksimal kadar air, butir patah, dan menir masing-masing 14%, 25%, dan 2% serta derajat sosoh minimal 95%.
Sedangkan dari 4.537.490 ton GKP hasil penyerapan pada 2025, kadar airnya antara 20,48%-30,85% (rerata 25,94%), kadar hampa berkisar 2,53%-18,61% (8,55%), butir hijau sebesar 1,14%-11,63% (7,18%), dan rendemen sekitar 32,12%-54,26% (51,15%). Ketika diolah jadi beras, diperoleh sekitar 2,3 juta ton beras untuk cadangan beras pemerintah (CBP). Ada pula sekitar 30-an ribu ton beras tidak standar (berwarna kuning, kuning kecoklatan) karena bahan bakunya dari GKP semua kualitas.
Pada Februari 2026 panen besar atau panen raya telah dimulai. Jika tahun 2025 penyerapan gabah/beras dalam jumlah besar terjadi pada Maret-Mei, tahun 2026 ini potensial maju dan lebih panjang: Februari-Mei. BULOG dan mitranya harus siap-siap menyerap gabah dalam jumlah besar selama 4 bulan itu. Karena harga pembelian pemerintah (HPP) beras di gudang BULOG belum berubah (Rp12.000/kg), porsi pengadaan dalam bentuk gabah tahun 2026 diperkirakan lebih besar dari 2025 alias di atas 85%.
Penyerapan GKP semua kualitas berjumlah jumbo dalam waktu pendek menuntut orkestrasi di lapangan yang rapih. Meleng sedikit saja bisa berujung pada gabah tidak bermutu: kadar air, butir hijau, dan butir hampa tinggi. Gabah bisa juga menghitam dan bahkan berkecambah. Bagaimana panen dilakukan pada waktu tepat, apakah alat dan mesin panen seperti thresher atau combine harvester tersedia cukup dan merata, sejauh mana armada angkutan (darat, laut), dan apakah kapasitas dryer dan penggilingan memadai?
Sudah tentu, BULOG dan mitra telah memetakan kesiapan penyerapan 4 juta setara beras tahun ini dengan rapih dan sebaik mungkin. Bukan saja kesiapan infrastruktur fisik (dryer, penggilingan, angkutan, gudang), tapi juga infrastruktur non-fisik (penyuluh, bintara pembina desa, bhayangkara pembina keamanan dan ketertiban masyarakat, SDM mitra dan BULOG). Agar rencana bisa dieksekusi dengan baik oleh BULOG, sebaiknya otoritas kebijakan menahan diri untuk mengintervensi.
