JAKARTA, Mediakarya – Direktur Eksekutif ETOS Indonesia Institute, Iskandarsyah, melontarkan kritik tajam terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto terkait pengangkatan Wakil Ketua dan Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) yang jumlahnya hampir dua lusin.
Kritik itu disampaikan Iskandarsyah dalam wawancara via sambungan telepon kepada media, Minggu (4/10/2026). Menurutnya, pengangkatan Watimpres yang jumbo tersebut justru berbenturan langsung dengan pernyataan Presiden sendiri soal efisiensi anggaran.
“Pengangkatan Watimpres yang jumlahnya hampir 2 lusin lebih justru bertolakbelakang dengan pernyataan presiden soal efisiensi anggaran. Maka terlihat bahwa presiden memang tak pandai kelola negara,” ujar Iskandarsyah.
Ia menyoroti komposisi Watimpres yang baru dilantik dinilai bermasalah karena diisi orang-orang yang selama ini menjadi sorotan publik.
“Apalagi di dalamnya ada orang-orang yang selama ini jadi sorotan publik, dari Anwar Usman, Yahya Staquf dan Rocky Gerung yang selama ini kritis menghujat pemerintah,” katanya.
Iskandarsyah menilai manuver tersebut terbaca jelas sebagai transaksi politik oleh publik. “Terlihat skenario ini oleh publik. Rupanya negara ini banyak pelacur politiknya,” kata Iskandar.
Ia mengingatkan, jika komposisi gemuk ini tidak segera disikapi Presiden, maka akan berbalik menjadi bumerang bagi Prabowo sendiri.
“Kalau ini tidak disikapi oleh presiden maka akan menjadi boomerang kepada dirinya sendiri. Saya juga tak tahu siapa aja pembisik presiden selama ini,” tegasnya.
Dia menilai, pemerintahan Prabowo saat ini menunjukkan gejala obesitas kekuasaan. Setelah kabinet yang sudah gemuk dengan puluhan menteri dan wakil menteri, kini ditambah Watimpres dua lusin lebih.
“Sudah kabinet gemuk, sekarang Watimpresnya 2 lusin lebih. Hati-hati, orang gemuk juga tak sehat, begitu juga kabinet,” sindirnya.
Iskandarsyah menilai Prabowo lebih mengutamakan kuantitas ketimbang kualitas dalam menyusun pemerintahan. Ia menduga formasi jumbo ini merupakan bagian dari balas budi politik.
“Prabowo lebih mengutamakan kuantitas ketimbang kualitas, atau mungkin ini bagian dari ucapan terima kasih dukungan kampanye lalu,” pungkasnya. (Indra)










