Ia mencontohkan, 100 kilogram pala glondongan yang sebelumnya hanya bernilai Rp100.000–Rp200.000, setelah melalui proses pengeringan dapat menghasilkan sekitar Rp700.000 dari biji pala, daging pala, dan bunga pala. Ke depan, warga juga menargetkan pengembangan alat destilasi minyak atsiri dengan potensi harga jual mencapai Rp800.000–Rp900.000 per liter.
Selain sektor rempah, penerapan sistem aquaponik juga memberikan manfaat ganda. Warga dapat memanen ikan nila dan sayuran organik secara bersamaan dengan biaya produksi yang lebih efisien.
Program ini turut memperkuat kelompok usaha tani “Tunas Mandiri” yang bergerak di bidang pertanian aquaponik. Sayuran kangkung yang sebelumnya dijual ke tengkulak seharga Rp500 per ikat, kini dapat dipasarkan sebagai kangkung organik dengan harga hingga Rp3.000 per ikat ke pengepul yang memasok supermarket dan restoran.
Kegiatan PkM ini melibatkan tim dosen ITPLN yang terdiri dari Ersalia Dewi Nursita, Ginas Alvianingsih, Dwi Anggaini, dan Muhammad. Informasi lengkap mengenai program Tri Dharma Perguruan Tinggi ITPLN dapat diakses melalui laman resmi www.itpln.ac.id.
