Keruntuhan Bangsa Akibat Ketiadaan Ahlak Mulia

Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) Prof. Dr. Amir Santoso
  1. Etika Terapan sebagai Inti: Etika kekuasaan, etika digital, etika ekonomi, dan etika sosial harus diajarkan lewat kasus nyata.
  2. Pendidikan Kewargaan Berbasis Integritas: Bukan hafalan, tetapi praktik kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian.
  3. Keteladanan sebagai Metode Utam: Guru dan pejabat pendidikan harus menjadi contoh, bukan sekadar pengajar.
  4. Ruang Dialog Moral: Anak muda perlu diajak berpikir, bukan diindoktrinasi.
  5. Karakter sebagai Penentu Kelulusan

Kejujuran dan tanggung jawab harus bernilai nyata, bukan slogan.

Penutup: Ahlak Adalah Soal Hidup-Mati Bangsa

Soekarno pernah mengingatkan: Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati nilai-nilai moral dan kemanusiaan.

Jika pendidikan terus mengabaikan ahlak, maka Indonesia sedang menyiapkan masa depan yang canggih secara teknologi, tetapi rapuh secara moral. Negara bisa maju di atas kertas, namun runtuh dalam praktik.

Ahlak bukan warisan masa lalu. Ia adalah syarat mutlak masa depan.

Tanpa etika, hukum kehilangan makna, kekuasaan kehilangan arah, dan generasi muda kehilangan harapan. Dan jika itu terjadi, maka yang kita hadapi bukan sekadar krisis pendidikan, melainkan krisis peradaban.

Penulis: Guru besar FISIP UI; Mantan Rektor Universitas Jayabaya, Mantan Anggota DPR/MPR.

Exit mobile version