BANDUNG, Mediakarya – Sejumlah kader Partai Golkar Jawa Barat dikabarkan bakal bergabung bersama Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Hal tersebut menyusul dengan isu perpecahan di internal kepengurusan DPD Partai Golkar Jabar, di bawah kepemimpinan Ace Hasan Syadzily.
Salah satu sumber media ini yang enggan ditulis identitasnya, menyebutkan bahwa semenjak kepemimpinan Ace Hasan Syadzily, DPD Golkar Jabar tidak memiliki marwah. Persoalan itu dipicu lantaran lemahnya koordinasi struktur DPD Golkar Jabar hingga tingkat DPD Golkar Kabupaten dan Kota.
“Tidak ada cara lain, kami meminta kepada DPP Partai Golkar segera mengvaluasi kepemimpinan Ketua DPD Golkar Jabar Ace Hasan Syadzily, hal itu guna mencegah penurunan soliditas serta kinerja partai. Sebab kepemimpinan Ace yang dinilai otoriter itu membuat sejumlah kader Golkar kabarnya berniat untuk berpindah ke PSI,” ungkap sumber kepada wartawan, Senin (26/1/2026).
Dia menilai, jika DPP Gokar tidak segera mengambil tindakan tegas, tidak menutup kemungkinan suara Golkar Jawa Barat pada Peleg 2029 mendatang bakal terjun bebas.
Dirinya juga mempertanyakan pasca pleno DPD Golkar Jawa Barat digelar pada September 2025 lalu, di mana salah satunya merumuskan akan digelar Musyawarah Daerah (Musda) pada Oktober 2025.
“Namun hingga berganti tahun, wacana Musda belum juga dibahas. Ini artinya ada upaya dari kubu Ace yang ingin melanggengkan kekuasaannya,” kata sumber.
Padahal, pergantian kepemimpinan di tubuh DPD Golkar Jabar diharapkan dapat merumuskan proyeksi partai agar kedepannya lebih baik. Salah satunya membahas soal bagaimana strategi pemenangan partai pada Pileg mendatang.
Lebih lanjut. Jika kepemimpinan sebelumnya, di tahun pertama pasca-pemilu, DPD Golkar sudah berbicara strategi dalam memenangkan pemilu berfokus pada penguatan akar rumput melalui pendekatan personal, pemanfaatan data besar (big data) untuk menyasar pemilih, dan kampanye berbasis program kerja nyata.
“Saat itu, struktur Golkar mengandalkan infrastruktur partai yang kuat, konsolidasi sayap partai, rekrutmen profesional, serta kegiatan sosial seperti jalan sehat untuk membangun dukungan emosional, tidak seperti saat ini, Ace sudah sibuk dengan tugasnya sebagai gubernur Lemhanas, jadi wahar jika Partai Gokar Jabar tidak terurus,” ungkapnya.
Seharusnya, Ketua DPD Golkar Jabar melakukan strategi komunikasi interaktif untuk mendengar aspirasi langsung masyarakat, menyesuaikan pendekatan antara pemilih muda dan tua, serta membangun kedekatan emosional.
“Jika melihat karakter Ace, pola itu sulit terwujud. Maka tidak ada jalan lain agar segera digelar Musda Golkar Jabar. Selain sebagai regenerasi partai, Musda ini sudah menjadi suatu keharusan agar roda organisasi ini berjalan dengan baik. Jika ini diabaikan, jangan salahkan para kader lompat pagar berpindah gerbong partai,” pungkasnya. (Pri)




