JAKARTA, Mediakarya – Polemik jelang Musyawarah Daerah (Musda) Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar Kota Bekasi perlu disikapi dengan arif dan bijaksana.
Para senior Partai Beringin diharapkan turun tangan untuk mendinginkan suasana di tengah mencuatnya perang dingin antara kubu Ketua DPD Golkar Kota Bekasi petahana Ade Puspitasari dengan kubu Ranny Fahd Arafiq.
Pengamat politik dari Etos Indonesia Institute, Iskandarsyah, menilai eskalasi konflik antar kedua kubu jelang Musda pemilihan Ketua DPD Partai Golkar Kota Bekasi tersebut semakin mengkhawatirkan dan butuh jalan tengah.
Menurutnya, jika persaingan langsung antar kedua figur dipaksakan, maka akan meninggalkan gesekan dan luka politik jangka panjang yang merugikan partai.
“Jelang Musda Golkar Kota Bekasi ini situasinya sudah perang dingin. Senior partai harus turun mendinginkan suasana, jangan dibiarkan persaingan ini memecah partai,” ujar Iskandarsyah kepada Mediakarya di Jakarta, Kamis (8/10/2026).
Usulan Figur Kuda Hitam
Untuk meredam konflik tersebut, Iskandar mengusulkan perlunya figur kuda hitam sebagai solusi penengah.
Kehadiran figur kuda hitam dinilai dapat mendinginkan suasana, mengalihkan fokus dari benturan ego kelompok, serta mendorong konsolidasi gagasan untuk kepentingan partai yang lebih besar.
“Kuda hitam idealnya merupakan kader senior yang dihormati atau sosok profesional dari internal partai yang netral dan tidak punya resistensi tinggi dari kubu manapun,” jelasnya.
Ia menilai, baik Ade Puspitasari maupun Ranny Fahd Arafiq merupakan figur yang memiliki resistensi tinggi di internal maupun eksternal akibat kasus hukum yang menjerat keluarganya.
Etos Indonesia Institute bahkan menyebut keduanya memiliki sandera politik. Baik Ade maupun Ranny merupakan figur yang memiliki sandera politik akibat kasus korupsi yang menjerat keluarganya.
“Ade merupakan putri dari Rahmat Effendi yang merupakan terpidana korupsi dalam kasus suap, sementara Ranny merupakan istri dari Fahd Arafiq, yang sudah tiga kali jadi tersangka korupsi,” ungkap Iskandar.
Iskandar menegaskan, jika salah satu dari kedua figur tersebut tetap dipaksakan terpilih sebagai Ketua DPD Golkar Kota Bekasi, maka dipastikan akan menjadi bahan gorengan isu politik yang dimanfaatkan oleh lawan politik.
“Ke depan, jika salah satunya terpilih dipastikan jadi gorengan isu politik bagi rivalitasnya. Ini tidak sehat untuk partai,” katanya.
Oleh karena itu, ia menekankan netralitas pemimpin baru sangat krusial agar energi partai tidak habis untuk konflik internal, sehingga persiapan menghadapi agenda pemilihan umum tetap berjalan optimal.
“Netralitas pemimpin baru sangat krusial. Figur kuda hitam yang netral bisa menjadi solusi agar Golkar Kota Bekasi tetap solid dan fokus menatap Pemilu, bukan sibuk dengan konflik internal,” tutup Iskandar.
Hingga berita ini diturunkan, baik kubu Ade Puspitasari maupun Ranny Fahd Arafiq belum memberikan tanggapan resmi terkait wacana figur kuda hitam tersebut. (Pri)










