JAKARTA, Mediakarya — Institut Teknologi PLN (ITPLN) memperkuat komitmennya dalam mendukung pengembangan profesi dosen melalui pembentukan tim khusus percepatan karier akademik. Langkah tersebut disampaikan dalam sosialisasi Permendiktisaintek Nomor 39 Tahun 2026 tentang Petunjuk Teknis Layanan Pengembangan Profesi dan Karier Dosen.
Wakil Rektor I Bidang Akademik ITPLN, Prof. Dr. Susy Fatena Rostiyanti, ST., M.Sc., mengatakan kampus transisi energi itu memberikan perhatian serius terhadap pengembangan tenaga pengajar, mulai dari pendampingan administratif hingga pelatihan karier akademik.
“Karier Bapak Ibu sebagai dosen itu kita kawal, kita bantu, kita dukung. ITPLN sangat sayang kepada dosennya. Kita punya tim khusus yang memang mendedikasikan diri untuk membantu percepatan karier dosen,” ujar Prof. Susy di ITPLN, Jumat (8/5/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Susy mengaku pernah mengalami stagnasi pengembangan karier akademik akibat minimnya pendampingan. Selama lebih dari 25 tahun berkarier sebagai dosen, dirinya mengaku hanya bertahan pada jenjang Lektor Kepala sebelum akhirnya serius mengurus jabatan guru besar.
“Saya selama 25 tahun tidak bergerak, hanya sampai Lektor Kepala. Tidak ada yang mengingatkan atau mendorong. Justru ketika ada yang bilang ‘ayo cepat’, itu bentuk perhatian,” katanya.
Menurutnya, perubahan regulasi pemerintah membuat sistem kenaikan jabatan akademik dosen kini lebih terstruktur dan sistematis. Permendiktisaintek Nomor 39 Tahun 2026 disebut menjadi pedoman baru dalam pengembangan profesi dan karier dosen di Indonesia.
Ia menjelaskan, tuntutan dunia pendidikan tinggi saat ini jauh berbeda dibanding masa lalu. Jika sebelumnya profesor belum dituntut memiliki publikasi internasional, kini dosen harus memenuhi berbagai indikator seperti publikasi Scopus, hibah penelitian, hingga keterlibatan dalam jurnal internasional.
“Sekarang zamannya berbeda. Ada Scopus, hibah, penelitian internasional. Tapi pemerintah juga menyiapkan wadahnya, termasuk bantuan hibah internasional. ITPLN juga menyediakan insentif dan dukungan penuh,” ungkapnya.
Prof. Susy juga membagikan pengalamannya saat mengurus jabatan guru besar. Meski tidak memiliki hibah penelitian, ia mampu memenuhi syarat melalui aktivitas sebagai reviewer di empat jurnal internasional bereputasi Scopus.
“Semua bukti kerja harus disimpan. Email, surat reviewer, bukti submit jurnal, semuanya penting untuk penilaian kinerja dosen,” ujarnya.
Selain membentuk tim khusus, ITPLN juga memperkuat struktur organisasi akademik melalui Bagian Pengembangan Akademik untuk mendukung peningkatan kompetensi pedagogi dosen.
Kampus tersebut turut menyiapkan program berkelanjutan mulai dari sosialisasi pada kuartal pertama, pelatihan sertifikasi dosen pada kuartal kedua, hingga evaluasi dan peningkatan mutu pada kuartal berikutnya.
“Kita ingin semua lengkap disiapkan untuk dosen, baik dari sisi pedagogi maupun karier akademik. Yang paling penting adalah determinasi untuk maju dan punya tujuan dalam perjalanan profesi kita,” tutur Prof. Susy.
Ia menambahkan, capaian akademik dosen tidak hanya membanggakan institusi, tetapi juga keluarga.
“Sedikitnya membanggakan keluarga ketika kita berada pada posisi tertentu. Kalau itu bisa sekaligus membanggakan institusi, tentu lebih baik,” imbuhnya.
Sementara itu, Wakil Rektor II Bidang Sumber Daya ITPLN, Heryawan, menilai sosialisasi tersebut menjadi ruang strategis bagi para dosen untuk memahami kebijakan terbaru sekaligus mempererat hubungan antarsivitas akademika.
“Momentum pertemuan ini memiliki arti yang sangat penting bagi para dosen. Tidak hanya sebagai sarana memperoleh pemahaman terkait berbagai kebijakan dan pengembangan karier dosen, tetapi juga menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi, membangun kebersamaan, serta memperkuat sinergi antar sivitas akademika,” kata Heryawan.
Menurutnya, forum tersebut juga menjadi wadah bagi dosen untuk bertukar gagasan, berbagi pengalaman, serta memperkuat komunikasi dan kolaborasi dalam mendukung kemajuan institusi.
“Dalam suasana penuh kekeluargaan dan kebersamaan ini, diharapkan tumbuh semangat saling mendukung, saling menginspirasi, dan mempererat rasa memiliki terhadap institusi,” tegasnya.
Ia menambahkan, semangat kolektif tersebut menjadi modal penting agar seluruh dosen dapat berkontribusi optimal dalam pengembangan pendidikan, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat. (hab)










