Sebelum Bukti Bicara, Ruang Kebenaran Mulai Menyempit

- Penulis

Sabtu, 20 Juni 2026 - 22:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Adi Suparto: Pakar Komunikasi Politik dan Kebijakan Publik

Adi Suparto: Pakar Komunikasi Politik dan Kebijakan Publik

Oleh: Adi Suparto

Dalam perkara besar, kata-kata sering kali datang lebih dulu daripada bukti. Dan justru di situlah masalah bermula.

Pernyataan Wakil Ketua Komisi III DPR yang meminta agar Kejaksaan Agung mengabaikan informasi mengenai 41 nama yang dilontarkan Sony Sonjaya dalam kasus dugaan korupsi program Makan Bergizi Gratis (MBG), dengan alasan “bisa jadi fitnah”, sekilas terdengar hati-hati. Ia seperti ingin menegakkan prinsip kehati-hatian hukum: jangan sampai orang-orang yang belum tentu bersalah terlanjur dihakimi oleh opini publik.

Namun, kehati-hatian yang datang terlalu dini bisa berubah menjadi sesuatu yang lain: pembingkaian.

Dalam praktik penegakan hukum, informasi awal, terutama yang muncul dari pihak yang terlibat langsung; bukanlah vonis, melainkan pintu masuk. Ia bukan kebenaran, tetapi juga bukan sesuatu yang patut segera disisihkan. Di titik ini, tugas penyidik bukan memilih percaya atau tidak, melainkan menguji.

Di sinilah letak keganjilan itu. Ketika sebuah daftar nama bahkan belum diuji, belum diverifikasi, belum dikonfrontasi dengan alat bukti lain, tetapi sudah lebih dulu ditempatkan dalam bayang-bayang “fitnah”, maka ruang kerja penyidikan secara halus telah dipersempit.

Ini yang dalam bahasa hukum modern disebut sebagai premature framing, pembingkaian dini yang berisiko memengaruhi arah berpikir publik, bahkan sebelum proses hukum berjalan utuh.

Baca Juga:  Kemenhub Siapkan Ribuan Kapal untuk Mudik 2022

Lebih dari itu, ia juga berpotensi mengirimkan sinyal yang ambigu. Bukan hanya kepada publik, tetapi juga kepada aparat penegak hukum: bahwa ada batas-batas tak kasatmata yang sebaiknya tidak dilampaui terlalu cepat.

Padahal, dalam kasus-kasus korupsi berskala besar, yang sering kali tersembunyi bukanlah individu, melainkan jaringan. Dan jaringan tidak pernah terbuka jika pintu-pintu awalnya sudah ditutup oleh asumsi.

Kehati-hatian memang penting. Tetapi kehati-hatian yang sehat seharusnya hadir dalam bentuk verifikasi yang ketat, bukan pengabaian yang prematur.

Jika tidak, yang kita saksikan bukan lagi proses hukum yang bekerja secara objektif, melainkan proses yang sejak awal telah diarahkan untuk melihat sebagian, dan menutup kemungkinan melihat keseluruhan.

Pada akhirnya, publik tidak hanya menunggu siapa yang bersalah. Publik juga mengamati: apakah negara masih bersedia mencari kebenaran sampai ke ujungnya, atau berhenti di titik yang dianggap paling aman.

Dan dalam perkara seperti ini, yang paling berbahaya bukanlah tuduhan yang belum tentu benar, melainkan kemungkinan bahwa kebenaran tidak pernah benar-benar diberi kesempatan untuk diuji.

Penulis: Pakar Komunikasi Politik dan Kebijkan Publik

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Kopkar Forindo Siap Perkuat SDM dan Perlindungan Pekerja Industri Logistik Nasional
Tahu-Tempe dan Impor Kedelai yang Mematikan
Dipeluk, Bukan Dipukul
Dari Habibie hingga Prabowo, Nannie Hadi Tjahjanto Wujudkan Pendidikan Berkualitas di SMA Pradita Dirgantara
Kapolri Diminta Evaluasi Kinerja Kapolda Riau, Dugaan Praktik Judi di Pekanbaru Disebut Masih Marak
Warga Jatikarya Kembali Lakukan Aksi Di PN Bekasi
Jelang Musda Golkar Kota Bekasi, Monel: Setiap Kader Miliki Kesempatan Sama untuk Mengabdi
Kasus Blueray Bea Cukai: IAW Soroti 20 Forwarder yang Belum Naik Penyidikan
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 20 Juni 2026 - 22:02 WIB

Sebelum Bukti Bicara, Ruang Kebenaran Mulai Menyempit

Sabtu, 20 Juni 2026 - 21:29 WIB

Kopkar Forindo Siap Perkuat SDM dan Perlindungan Pekerja Industri Logistik Nasional

Jumat, 19 Juni 2026 - 12:10 WIB

Tahu-Tempe dan Impor Kedelai yang Mematikan

Jumat, 19 Juni 2026 - 07:42 WIB

Dipeluk, Bukan Dipukul

Kamis, 18 Juni 2026 - 15:00 WIB

Dari Habibie hingga Prabowo, Nannie Hadi Tjahjanto Wujudkan Pendidikan Berkualitas di SMA Pradita Dirgantara

Berita Terbaru

Adi Suparto: Pakar Komunikasi Politik dan Kebijakan Publik

Headline

Sebelum Bukti Bicara, Ruang Kebenaran Mulai Menyempit

Sabtu, 20 Jun 2026 - 22:02 WIB

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung saat didatangi para siswa SD di Jakarta.

DKI

Gubernur Pramono Genjot Pendidikan Gratis di Jakarta

Sabtu, 20 Jun 2026 - 14:34 WIB