JAKARTA, Mediakarya – Ketua Umum Pemuda Mandiri Peduli Rakyat Indonesia (PMPRI), Rohimat alias Joker, menyoroti fenomena bongkar pasang Kabinet Merah Putih Prabowo-Gibran yang dinilainya sarat prosesi sakral namun miskin implementasi.
Menurut Joker, ironi terlihat saat prosesi pelantikan di Istana Negara, di mana para pejabat disumpah dengan Kitab Suci di atas kepala.
“Banyak di antara pejabat yang dilantik itu tidak paham isinya. Bahkan belum tentu sebulan sekali mereka membukanya. Bagaimana mungkin kitab yang dipakai untuk sumpah itu, mereka tidak tahu isinya?” ujar Rohimat kepada Mediakarya di Jakarta, Jumat (2/10/2026).
Ia menegaskan, sumpah jabatan bukan sekadar seremonial. Di dalam Kitab Suci terdapat larangan untuk berbohong, berkhianat, mencuri, dan memakan hak rakyat. Namun, perilaku pasca pelantikan kerap bertolak belakang.
Joker juga menyinggung maraknya tulisan Zona Integritas, Wilayah Bebas Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) yang terpajang gagah di pintu gerbang kantor-kantor pejabat.
“Tulisan itu gagah dipajang di depan, tapi nyatanya banyak di antara mereka melakukan korupsi. Banyak yang ditangkap, banyak yang terseret kasus, banyak yang menjadikan jabatan sebagai ladang bisnis keluarga dan kelompoknya,” katanya.
Menurutnya, akar persoalan tersebut karena para pejabat telah menistakan kitab sucinya sendiri. Kitab Suci hanya dijadikan alat pelantikan, bukan sebagai pedoman dalam menjalankan jabatan.
“Mereka berani bersumpah atas nama Tuhan, tapi perilakunya mengingkari sumpah itu. Integritas tidak dibangun dari tulisan di gerbang kantor, tapi dari takutnya kita kepada sumpah yang kita ucapkan di atas Kitab Suci,” tegasnya.
Joker menilai jika pejabat masih menistakan kitab sucinya, maka Zona Integritas tidak akan pernah terwujud.
“Yang ada hanya Zona Pencitraan,” pungkas Joker.











