KARO, Mediakarya – Kasus dugaan gangguan kesehatan setelah konsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi perhatian. Kali ini, seorang siswi SMK Swasta Bersama Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, disebut mengalami kondisi kesehatan serius yang membuatnya harus menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit.
Siswi tersebut adalah Febiola Br Purba, 16 tahun. Sebelum mengalami gangguan kesehatan, Febiola dikenal sebagai siswi berprestasi dan aktif dalam organisasi sekolah sebagai Wakil Ketua OSIS.
Menurut keterangan ayahnya, Icuk, Febiola mulai menjalani perawatan sejak 13 Agustus 2026. Selama proses tersebut, Febiola disebut telah mendapat penanganan di lima rumah sakit, yakni RS Kabanjahe, RS Efarina, RS Haji Medan, RSUP Adam Malik, dan RS Amanda di Kabupaten Karo.
Keluarga menyebut kondisi tersebut berkaitan dengan dugaan keracunan setelah mengonsumsi makanan dalam program MBG. Namun, penyebab medis kondisi Febiola tetap memerlukan penjelasan dan pemeriksaan lebih lanjut dari pihak berwenang serta tenaga medis.
Icuk mengatakan kondisi putrinya saat ini jauh berbeda dibandingkan sebelum mengalami gangguan kesehatan tersebut. Ia menyebut Febiola mengalami gangguan dalam mengenali orang-orang di sekitarnya.
“Kondisi Febiola sekarang seperti anak usia 3 tahun. Febiola tidak mengenali teman sekelas, guru, bahkan adik kandungnya sendiri,” kata Icuk.
Menurut keluarga, dokter menyampaikan bahwa Febiola membutuhkan perawatan dalam jangka panjang. Evaluasi kondisi kesehatannya disebut harus dilakukan secara berkala, bahkan hingga satu tahun ke depan.
Kondisi tersebut membuat keluarga harus memberikan perhatian khusus terhadap kebutuhan Febiola, termasuk makanan, vitamin, dan susu yang dikonsumsi selama masa pemulihan.
Icuk mengatakan keluarga juga harus menyediakan susu khusus sesuai anjuran dokter. Kebutuhan tersebut harus dipenuhi dua kali dalam sepekan dengan biaya sekitar Rp180.000 setiap pembelian.
Selain susu, keluarga harus menyesuaikan makanan dan pemberian vitamin Febiola dengan rekomendasi dokter.
Untuk memenuhi kebutuhan perawatan tersebut, keluarga telah menggunakan tabungan sekitar Rp3,5 juta. Bagi Icuk dan keluarga, pengeluaran itu menjadi beban tersendiri karena kebutuhan perawatan diperkirakan masih berlangsung dalam waktu yang panjang.
Di tengah kondisi tersebut, keluarga berharap Febiola dapat kembali pulih dan menjalani kehidupan seperti sebelumnya.
Kondisi Febiola juga menimbulkan kekhawatiran keluarga terhadap pendidikan dan masa depannya. Sebagai siswi yang aktif di sekolah dan menjabat Wakil Ketua OSIS, Febiola sebelumnya memiliki berbagai aktivitas dan rencana untuk melanjutkan pendidikan.
Kini, fokus keluarga tertuju pada proses pemulihan dan pemenuhan kebutuhan kesehatannya.
Kasus yang dialami Febiola turut menyoroti pentingnya evaluasi terhadap pelaksanaan program MBG, terutama dalam aspek keamanan pangan dan penanganan apabila muncul laporan gangguan kesehatan setelah makanan dikonsumsi.
Setiap laporan mengenai dugaan gangguan kesehatan akibat MBG perlu ditelusuri secara menyeluruh untuk memastikan penyebabnya. Pemeriksaan tersebut penting agar kondisi kesehatan penerima manfaat dapat ditangani dengan tepat sekaligus menjadi bahan evaluasi terhadap penyelenggaraan program.
Bagi keluarga Febiola, persoalan ini bukan sekadar angka dalam data penerima program. Mereka menghadapi perubahan kondisi anak, kebutuhan perawatan yang tidak sedikit, serta kekhawatiran terhadap keberlanjutan pendidikan dan masa depan Febiola.
Keluarga berharap kondisi Febiola mendapat perhatian dan penanganan yang serius sehingga proses pemulihannya dapat berjalan optimal. (eng)











