KOTA BEKASI, Mediakarya – Virus omicron yang merupakan varian baru dari virus Covid-19, mulai mengancam dunia. Terkait hal tersebut, dokter Hadyan Rahmat yang juga Komisioner KPAD Kota Bekasi memberikan penjelasannya.
Kepada Mediakarya.id, Selasa (7/12/2021), dokter Hadyan Rahmat pun menjelaskan, omicron varian baru yang cukup cepat ditetapkan oleh WHO dalam kategori VOC (atau varian berbahaya). Sedangkan varian delta yang angkanya seperti kemarin saja ditentukan dalam kategori VOC ditemukan di India pada Oktober 2020 dan baru dimasukkan dalam kategori VOC pada 11 Mei 2021.
Tetapi, omicron ini hanya 17 hari sejak ditemukan sudah dimasukkan dalam kategori ini. Memang dalam banyak hal, bukan sekedar tentang mematikan atau tidaknya, tapi juga bicara ke hati-hatian.
“Semakin cepat virus ini ditetapkan dalam varian VOC, maka kajiannya, penelitiannya, lebih jauh dan tentu pencegahannya akan lebih maksimal,” ujarnya.
Lanjut dokter Hadyan, apakah virus ini bahaya?. Menurutnya, karena virus ini memiliki spike (spike protein ini seperti connector antara virus dan tubuh kita) yang beda dengan varian yang lain, jadi ada kekhawatiran bahwa varian ini cukup bahaya.
“Secara garis besar, bedanya varian ini dengan varian lainnya dimana di dalam spikenya tersebut karena varian ini memiliki punya 30 lebih spike,” ungkapnya melanjutkan.
Untuk itu, melihat hal ini, tentu yang pertama bicara antisipasi adalah ikhtiar prokes kita agar lebih perhatikan lagi.
“Karena sudah mulai kendor, ayo kita kembali seperti semula yang lebih ketat penerapan prokesnya, jangan lupa yang namanya cuci tangan, pakai masker, jaga jarak tetap diperhatiin,” pesannya.
Lanjut dia, setelahnya ikhtiar, vaksinasi juga jangan lupa, karena terkait virus ini masih bisa ditanggulangi dengan vaksin vaksin yang ada dan tentu juga masih harus selalu update dengan info terkait virus tersebut karena setiap menit akan banyak info baru dari virus ini.
Saat dikonfirmasi apakah PCR masih bisa mendeteksi omicron tersebut, ia menuturkan, tentu PCR adalah test yang masih dipakai untuk memvalidasi virus Covid-19 termasuk varian ini.
“Jadi, info yang beredar terkait PCR ga bisa mendeteksi itu bisa dibilang kurang tepat. Memang harus lebih teliti pemeriksaannya, tapi bukan berarti ga bisa dideteksi,” tukasnya. (apl)






