Pemuda Asal Ciaul Sukabumi Jadi Korban TPPO di Kamboja, Disiksa dan Disekap, Keluarga Minta Bantuan Pemulangan

- Editor

Rabu, 2 Juli 2025 - 10:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUKABUMI, Mediakarya – Kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) kembali terjadi. Kali ini menimpa seorang pemuda asal Ciaul, Jalan Amubawa Sasana, RT 05/01, Kelurahan Subangjaya, Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi. Korban bernama Muhammad Bagas Saputra (22) dikabarkan menjadi korban TPPO di Kamboja.

Informasi tersebut pertama kali beredar melalui beberapa akun media sosial Facebook, dengan narasi bahwa warga Kota Sukabumi menjadi korban TPPO, disekap dan disiksa di Kamboja, bahkan dimintai tebusan sebesar Rp40 juta.

Hal ini dibenarkan oleh Rangga Saputra (26), kakak kandung korban. Ia menjelaskan bahwa kabar penyekapan diterima langsung melalui video call WhatsApp dari pihak yang mengaku sebagai perusahaan di Kamboja, pada Jumat, 27 Juni 2025 siang.

“Pihak yang menghubungi kami adalah orang dari perusahaan tempat adik saya bekerja di Kamboja. Mereka mengancam kami agar segera mengirimkan uang tebusan. Kalau menunda, adik saya akan disiksa. Komunikasi disampaikan dalam bahasa Mandarin, tapi ada terjemahannya ke Bahasa Indonesia,” ujar Rangga melalui sambungan telepon, Senin (1/7/2025).

Rangga mengungkapkan, saat video call berlangsung, pihak perusahaan meminta uang tebusan sebesar Rp40 juta untuk memulangkan Bagas. “Mereka memberi waktu hingga tengah malam. Kalau uang tidak dikirim, mereka mengancam akan mengeksekusi adik saya,” jelasnya.

Keluarga pun sangat terpukul dan khawatir atas keselamatan Bagas. “Kami sedih, kaget, dan tidak bisa terima jika adik saya diperlakukan seperti itu. Kami hanya berharap dia bisa pulang dalam keadaan selamat dan utuh,” tambah Rangga.

Ia juga menceritakan kronologi keberangkatan Bagas hingga akhirnya berada di Kamboja. Bagas diketahui berangkat untuk bekerja di perusahaan pelayaran pada April 2024. Namun, pada Juni 2024, ia sempat mengabari bahwa ia dan beberapa rekannya diturunkan di pelabuhan Cina setelah terjadi masalah dengan warga lokal.

Baca Juga:  Tingkatkan Pelayanan, Polres Kendal Lakukan Pengamanan Objek Vital

“Kapten kapalnya orang Cina, dan sepertinya lebih memihak warga lokal. Akhirnya adik saya dan beberapa temannya ditinggalkan di Cina tanpa uang sepeser pun,” kata Rangga.

Sejak kejadian itu, keluarga kehilangan kontak hingga akhirnya Bagas kembali menghubungi mereka pada 27 Juni 2025. “Waktu itu dia bilang sudah ada di Kamboja. Dia sempat bingung karena tidak punya uang atau tiket untuk pulang. Katanya ada yang menawarkan pekerjaan di sana, dan dia berharap bisa pulang ke Indonesia pada Agustus 2025,” tutur Rangga.

Namun pada hari yang sama, sore harinya, keluarga justru menerima video call dari pihak perusahaan di Kamboja yang memperlihatkan penyiksaan terhadap Bagas. “Bosnya menghubungi saya langsung via video call. Dalam tayangan itu, adik saya tampak disetrum dan dicambuk,” ujar Rangga dengan suara bergetar.

Menurut informasi yang didapat Rangga, adiknya disiksa karena tidak berhasil memenuhi target kerja yang ditetapkan oleh perusahaan yang diduga menjalankan aktivitas scam. “Setahu saya, itu kerja scam, dan adik saya gagal memenuhi target, kena penalti, lalu disiksa,” katanya.

Sementara itu, tokoh pemuda setempat, Tedi Untara, membenarkan bahwa Bagas adalah warga lingkungan mereka. “Rumahnya di belakang Superindo. Warga Ciaul sekarang geger karena kasus ini viral di media sosial. Semoga ada jalan terbaik dan korban bisa segera dipulangkan,” ucap Tedi. (eka)

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait

415 Kendaraan Dinas KBB Mati Pajak, Kang Joker: “Rakyat Dikejar Razia, Pejabat menerobos Aturan!”
Seminar Samudra Pasai 800 Tahun, Soroti Pelestarian Makam Sultan Malikussaleh
Camat Onolalu Pimpin Upacara dan Dialog Interaktif di SMPN 2 Onolalu
Aksi Cepat Tim Gabungan Evakuasi Warga dan Pelajar Terjebak Banjir Di Km. 3
Dampak Erupsi Gunung Anak Krakatau, Pemkot Bekasi Belum Tetapkan PJJ
Misteri di Balik Kericuhan Cot Girek: Pengukuran Tapal Batas Desa Berujung Dugaan Pengeroyokan
BPKN RI Dorong Lima Langkah Konkret Lindungi Penumpang Terdampak Erupsi Anak Krakatau
Pemkab Nias Selatan Evaluasi Program Listrik Desa dan BULOG

Berita Terkait

Kamis, 10 September 2026 - 11:18 WIB

415 Kendaraan Dinas KBB Mati Pajak, Kang Joker: “Rakyat Dikejar Razia, Pejabat menerobos Aturan!”

Rabu, 9 September 2026 - 13:45 WIB

Seminar Samudra Pasai 800 Tahun, Soroti Pelestarian Makam Sultan Malikussaleh

Selasa, 8 September 2026 - 11:36 WIB

Camat Onolalu Pimpin Upacara dan Dialog Interaktif di SMPN 2 Onolalu

Senin, 7 September 2026 - 18:10 WIB

Aksi Cepat Tim Gabungan Evakuasi Warga dan Pelajar Terjebak Banjir Di Km. 3

Senin, 7 September 2026 - 10:26 WIB

Dampak Erupsi Gunung Anak Krakatau, Pemkot Bekasi Belum Tetapkan PJJ

Berita Terbaru