ACEH UTARA, Mediakarya – Delapan abad perjalanan Kesultanan Samudera Pasai kembali menjadi perhatian dalam sebuah forum akademik di Kabupaten Aceh Utara. Pemerintah Kabupaten Aceh Utara menggelar Seminar dan Diseminasi Kajian Kesultanan Samudera Pasai dengan fokus pada penelitian, konservasi, pelestarian dan internalisasi makam Sultan Malikussaleh, Rabu (9/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Aula Sekretariat Daerah Kabupaten Aceh Utara tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi Samudera Pasai Aceh Utara ke-800.
Seminar ini tidak hanya diarahkan untuk mengenang kejayaan Samudera Pasai, tetapi juga menjadi ruang untuk membahas bagaimana warisan sejarah tersebut dapat diteliti, dirawat dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Dua akademisi, Prof. Dr. Husni Mubarrak A. Latief, Lc., MA dan Dr. Saifuddin Dhuhri, Lc., MA, hadir sebagai narasumber. Keduanya membahas berbagai perspektif akademik mengenai sejarah Kesultanan Samudera Pasai, termasuk pentingnya penelitian dan konservasi makam Sultan Malikussaleh sebagai salah satu peninggalan sejarah penting di Aceh Utara.
Forum tersebut turut dihadiri Sekretaris Daerah Aceh Utara Dayan Albar, S.Sos., M.A.P., Asisten II, Asisten III, Kepala Bappeda, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kepala Cabang Dinas Pendidikan, Ketua Majelis Adat Aceh (MAA), serta unsur mahasiswa, guru dan siswa.
Dalam sambutan Bupati Aceh Utara H. Ismail A. Jalil, S.E., M.M., yang disampaikan Sekda Aceh Utara Dayan Albar pada pembukaan seminar, pemerintah daerah memberikan apresiasi kepada Bappeda Aceh Utara yang telah mempersiapkan kegiatan tersebut.
Bupati menilai kajian sejarah Samudera Pasai perlu terus dikembangkan dengan menggunakan berbagai sumber yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.
“Sejarah harus terus dikaji berdasarkan sumber-sumber yang dapat dipertanggungjawabkan, baik melalui kajian akademik, penelitian arkeologi, manuskrip, sumber lokal maupun sumber sejarah lainnya,” demikian pesan Bupati dalam sambutannya.
Menurut pemerintah daerah, hasil seminar dan penelitian diharapkan tidak berhenti sebagai bahan diskusi akademik. Kajian tersebut perlu diterjemahkan menjadi dasar dalam merancang kebijakan pelestarian situs sejarah dan budaya di Aceh Utara.
Selain untuk kepentingan pelestarian, hasil penelitian juga dinilai berpotensi memperkuat pendidikan sejarah, pengembangan wisata sejarah, muatan lokal, penelitian lanjutan hingga penguatan identitas masyarakat Aceh Utara.
Dalam konteks sejarah Samudera Pasai, nama Sultan Malikussaleh memiliki posisi penting. Makamnya menjadi salah satu peninggalan yang merepresentasikan perjalanan sejarah Kesultanan Samudera Pasai dan perkembangan peradaban Islam di kawasan Aceh.
Karena itu, pelestarian makam Malikussaleh tidak sebatas menjaga bangunan atau situs fisik. Pemerintah daerah juga mendorong agar nilai sejarah, tradisi, manuskrip dan berbagai warisan budaya yang berkaitan dengan Samudera Pasai dapat terus diteliti dan dikenalkan kepada masyarakat.
Upaya tersebut menjadi semakin penting di tengah momentum peringatan 800 tahun Samudera Pasai yang digelar pada 2026.
Bupati Aceh Utara dalam sambutannya menegaskan, peringatan 800 tahun Samudera Pasai seharusnya tidak dimaknai sekadar sebagai seremoni mengenang masa lalu.
Momentum tersebut, kata dia, harus menjadi refleksi sekaligus tanggung jawab generasi sekarang untuk memastikan warisan sejarah tetap hidup dan relevan bagi generasi berikutnya.
“Delapan abad perjalanan Samudera Pasai adalah bukti nyata bahwa Aceh pernah menjadi pusat peradaban Islam di Nusantara,” ujarnya.
Samudera Pasai dalam perjalanan sejarah dikenal memiliki peran penting dalam perkembangan Islam, perdagangan dan kebudayaan di kawasan Nusantara. Jejak tersebut menjadi bagian dari identitas sejarah Aceh yang hingga kini masih dapat ditemukan melalui situs, makam, manuskrip dan tradisi masyarakat.
Karena itu, keterlibatan generasi muda dalam memahami sejarah dinilai menjadi salah satu kunci agar warisan Samudera Pasai tidak berhenti sebagai cerita masa lalu.
Bupati mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan peringatan Hari Jadi Samudera Pasai Aceh Utara ke-800 sebagai momentum memperkuat identitas daerah.
“Mari kita jadikan momentum Hari Jadi Samudera Pasai Aceh Utara ke-800 ini sebagai langkah bersama untuk merawat warisan sejarah, memperkuat jati diri, dan menumbuhkan rasa cinta terhadap daerah kita, sesuai dengan tema ‘Tajaga Adat Tapeukong Syariat Menuju Aceh Utara Bangkit’,” pesan Bupati.
Seminar dan diseminasi tersebut kemudian dibuka secara resmi dengan pembacaan Bismillahirrahmanirrahim. Pemerintah Kabupaten Aceh Utara berharap hasil penelitian yang dibahas dalam forum tersebut dapat menjadi pijakan untuk menyusun strategi pelestarian sejarah dan budaya Samudera Pasai sekaligus memperluas pemahaman masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap jejak peradaban Islam yang pernah tumbuh di Aceh Utara.
Dengan demikian, peringatan 800 tahun Samudera Pasai tidak hanya menjadi catatan sejarah, tetapi juga menjadi momentum untuk memastikan warisan Sultan Malikussaleh dan Kesultanan Samudera Pasai tetap terjaga, diteliti dan diwariskan kepada generasi berikutnya. (Malik)










