JAKARTA, Mediakarya – Meski Pemilihan Presiden (Pilpres) berikutnya masih cukup jauh di 2029 mendatang, dinamika politik sering kali mulai menghangat lebih awal.
Hal itu ditandai dengan berbagai manuver partai, pembentukan opini publik, dan munculnya tokoh-tokoh potensial di media.
Sederet figur populer, baik dari kalangan kepala daerah, menteri, maupun pimpinan partai, mulai aktif membangun citra digital dan meningkatkan elektabilitas melalui berbagai program kerja.
Sejumlah tokoh muda dan pemimpin daerah yang saat ini tengah naik daun di antaranya, Anies Baswedan, Pramono Anung, Dedi Mulyadi dan Gibran Rakabuming Raka, dan Prabowo Subianto sendiri yang dipastikan kembali maju pada Pilpres mendatang.
Inisiator Gerakan Nurani Kebangsaan (GNK) Habib Syakur Ali Mahdi Al Hamid, memperkirakan bahwa Pilpres 2029 mendatang pemilih dari generasi milenial dan Gen Z bakal mendominasi hingga lebih dari 60% total pemilih.
Dari sejumlah tokoh yang saat ini santer diperbincangkan di media sosial, nama Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memiliki potensi besar untuk menjadi figur kuda hitam dalam bursa Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029.
Selain posisinya sebagai kepala daerah strategis DKI Jakarta, jejaring politik politisi PDI Perjuangan itu juga dinilai cukup berpengalaman di pemerintahan.
“Pengalaman memimpin wilayah strategis seperti Jakarta menjadi panggung penting untuk membuktikan kapasitas kerja nyata, penataan kota, dan manajemen birokrasi menjadi modal Pramono untuk menarik simpati publik,” ujar Habib Syakur saat diwawancarai Mediakarya melalui sambungan teleponnya, Jumat (28/8/2026).
Tidak hanya itu, kedekatannya dengan sejumlah elit partai dan pernah menjadi Sekjen PDI Perjuangan, serta jejaring luas dengan berbagai elite kekuasaan menjadikan Pramono sebagai figur yang perlu diperhitungkan.
Menurutnya, gaya kepemimpinan Pramono Anung memang dikenal lebih mengutamakan substansi, penyelesaian masalah (problem solving), dan kinerja nyata ketimbang sekadar mengandalkan gimik atau popularitas visual di media sosial.
Habib Syakur mengungkapkan, sejak memimpin Jakarta, secara konsisten Pramono Anung menerapkan pendekatan yang tenang namun taktis dalam mengeksekusi program di lapangan.
Meskipun tetap memanfaatkan platform digital sebagai instrumen transparansi dan akuntabilitas kepemimpinan, Pramono memosisikan media sosial sebagai pendukung eksposur kinerja, bukan sebagai panggung utama pembuatan kebijakan.
“Oleh karenanya, kami menilai Pramono Anung memiliki potensi kuat untuk masuk dalam bursa calon presiden pada Pilpres 2029 berkat posisinya sebagai Gubernur DKI Jakarta dan pengalaman eksekutifnya yang luas,” pungkasnya. (Edar)











