IAW Bongkar Kebohongan Jokowi dalam Kasus Rempang-Galang

- Editor

Minggu, 19 Juli 2026 - 16:06 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pulau Rempang (Ist)

Pulau Rempang (Ist)

JAKARTA, Mediakarya – Proyek Rempang Eco City yang menjadi salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) dituding sebagai ambisi rezim pemerintah dalam rangka menarik investasi raksasa asing.

Proyek yang dibangun di era Presiden Joko Widodo itu menuai kritik karena dari tahap perencanaannya dinilai mengabaikan kearifan lokal dan hak masyarakat adat.

Tidak hanya itu, PSN itu memicu relokasi ribuan jiwa dan mengancam belasan kampung tua bersejarah serta wilayah adat suku Orang Darat yang telah menetap di pulau tersebut sejak ratusan tahun lalu.

Berdasarkan analisis Indonesia Audit Watch (IAW) ada satu peristiwa yang harus dibaca sebagai titik balik dalam kasus Rempang-Galang, Batam, Kepulauan Riau.

Bukan karena proyeknya batal, tidak pula karena ada investor baru, namun demikian karena investor yang selama ini dijadikan tameng narasi investasi era Jokowi akhirnya angkat bicara.

Sekretaris pendiri IAW Iskandar Sitorus mengungkapkan bahwa pada 3 Februari 2025, Xinyi Glass Holdings Limited, perusahaan yang digadang-gadang sebagai investor utama Rempang Eco-City, menyampaikan jawaban resmi kepada Business & Human Rights Resource Centre.

Di mana dalam surat jawaban Xinyi Glass Holdings Limited disebutkan bahwa selama ini pemerintah mengumumkan investasi Rp174 triliun tanpa pernah memiliki perjanjian atau kontrak yang sah dengan investornya.

“Ini bukan opini liar, namun sebuah pernyataan resmi perusahaan yang tercatat di Bursa Hong Kong. Jawaban Xinyi Glass Holdings Limited ini sekaligus membantah secara langsung seluruh narasi investasi yang dibangun pemerintahan Presiden Joko Widodo sejak 2023,” ungkap Iskandar dalam keterangan tertulisnya yag diterima Mediakarya, Minggu (19/7/2026).

Baca Juga:  APPHI Apresiasi Kebijakan Kuota Impor Daging yang Diberikan Pemerintah

Fakta bahwa Xinyi Bukan Pengembang dan Bukan Pengusul

Iskandar mengungkapkan, pernyataan Xinyi itu bukan hanya sekali. Seperti dalam ESG Report 2025 yang diterbitkan 30 April 2026, perusahaan mengulangi dengan tegas bahwa mereka bukan pengembang maupun pengusul Batam Eco-City, dan memutuskan untuk tidak berinvestasi serta tidak melanjutkan pengembangan proyek tersebut.

Menurutnya, perusahaan menjelaskan bahwa pada 2023 memang sempat terjadi pembahasan awal dengan pihak-pihak terkait di Indonesia. Tapi itu hanya pembicaraan awal, itu bukan komitmen, apalagi kontrak!

“Yang lebih menarik lagi, Xinyi juga menjelaskan alasan mereka mundur. Setelah memperoleh gambaran mengenai potensi dampak sosial dan kelestarian lingkungan, khususnya kekhawatiran masyarakat setempat dan kelompok lingkungan terhadap ekosistem mangrove, maka mereka memutuskan tidak berpartisipasi,” jelas pakar auditor ini.

Perusahaan tersebut bahkan sempat menyampaikan permohonan maaf atas keterlambatan menyampaikan keputusan tersebut kepada publik, sehingga menimbulkan kesalahpahaman mengenai keterlibatan mereka.

“Ini sangat ironi,  di mana Xinyi justru menunjukkan kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan yang lebih besar daripada pemerintah Indonesia sendiri.

Dia menilai Xinyi mendengar aspirasi warga dan kekhawatiran tentang mangrove dan memilih mundur. Sementara pemerintahan Jokowi dengan segala kekuasaannya memilih terus maju, mengabaikan protes, mengirim aparat, dan menggusur warga. (red)

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Polemik Proyek Jalan Poros Brebes Menguat, Daksinapati UI: Lelang APBD Harus Transparan
Stok Rumah Tangga Menipis Picu Harga Beras Naik, BBM Langka Dongkrak Biaya Perolehan
Didik J. Rachbini: Peluang Investasi Data Center Rp360 Triliun Jangan Sampai Seperti Pelanduk Terperosok Dua Kali
On Point Media Sukses Gelar Lokafest Surabaya, Dorong UMKM Manfaatkan Inovasi dan Teknologi
Kementerian Koordinator Hilirisasi dan Energi Resmi Dibentuk, Target PLTS 100 GWp Jadi Ujian Awal
Rhenald Kasali Soroti Proyek Data Center Jatiluhur: Jangan Abaikan Fungsi Vital Waduk Demi AI
Hotel Tour Aero Astra Akademia Jadi Bekal Siswa Sebelum Masuk Dunia Industri
Rektor Paramadina: Penyegaran Menperin Jadi Momentum Darurat Selamatkan Industri

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 07:30 WIB

Polemik Proyek Jalan Poros Brebes Menguat, Daksinapati UI: Lelang APBD Harus Transparan

Senin, 5 Oktober 2026 - 11:33 WIB

Stok Rumah Tangga Menipis Picu Harga Beras Naik, BBM Langka Dongkrak Biaya Perolehan

Minggu, 4 Oktober 2026 - 09:29 WIB

Didik J. Rachbini: Peluang Investasi Data Center Rp360 Triliun Jangan Sampai Seperti Pelanduk Terperosok Dua Kali

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 22:49 WIB

On Point Media Sukses Gelar Lokafest Surabaya, Dorong UMKM Manfaatkan Inovasi dan Teknologi

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 14:33 WIB

Kementerian Koordinator Hilirisasi dan Energi Resmi Dibentuk, Target PLTS 100 GWp Jadi Ujian Awal

Berita Terbaru

Yudhie Haryono (CEO Nusantara Centre) & Agus Rizal (Ekonom Strukturalis di Nusantara Centre)

Headline

Negara Darurat Cognitif Reselience

Rabu, 7 Okt 2026 - 05:15 WIB