Pakar Komunikasi Politik: Suara Kritis Dibungkam, Demokrasi Berhenti Bernapas

- Editor

Kamis, 1 Oktober 2026 - 03:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi (Foto: Ist)

Ilustrasi (Foto: Ist)

JAKARTA, Mediakarya – Pakar Komunikasi Politik Dr. Adi Suoarto menyoroti kondisi kebebasan berpendapat di Indonesia yang dinilai belum sepenuhnya merdeka, terutama bagi mereka yang menyuarakan kebenaran seperti aktivis dan jurnalis.

Menurutnya, di negeri yang menyebut dirinya demokratis, upaya pembungkaman terhadap suara kritis masih terasa, meski para pejuang kebenaran tetap berjalan di koridor hukum demi kebenaran.

Salah satu yang merasakan tanda-tanda tersebut, kata Adi, adalah pakar hukum tata negara Denny Indrayana. Setelah mengajukan gugatan terkait syarat sahnya ijazah Wakil Presiden, Denny menyampaikan kekhawatiran yang tidak boleh diabaikan.

Pengalaman Dikriminalisasi 11 Tahun

Dr. Adi mengutip pernyataan Denny yang menyebut risiko kriminalisasi bukan hal baru baginya.

“Dikriminalisasi sudah saya alami. Hampir 11 tahun saya ditersangkakan. Bermula ketika saya menolak pencalonan Kapolri Budi Gunawan. Saya, Abraham Samad, Mas Bambang Widjojanto, Novel Baswedan; kami semua ditersangkakan. Sepuluh setengah tahun saya menjadi tersangka. Dikriminalisasi sudah,” ujar Denny seperti dikutip Dr. Adi, Selasa (30/9/2026).

Pengalaman itulah yang membuat Denny lebih peka terhadap tanda-tanda serupa yang muncul kembali.

Tiga Bentuk Pembungkaman

Dr. Adi menjelaskan, ada tiga bentuk tanda pembungkaman yang diwaspadai Denny saat ini.

Pertama, Suara yang Diberi Harga. Ada upaya agar suara lantang diredam dengan cara halus namun mematikan keberanian. Tawaran, ajakan, hingga keuntungan ditukar dengan keheningan. Seolah kebenaran dapat dibeli, padahal suara yang lahir dari keyakinan adalah milik publik.

Baca Juga:  Framing Tempo Terhadap Sufmi Dasco Ahmad Dinilai Upaya Jatuhkan Loyalis Prabowo

Kedua, Langkah yang Diberat-berat. Upaya mengubah posisi pembela kebenaran menjadi tersangka tanpa pembuktian jelas dan proses transparan. Langkah hukum diarahkan bukan untuk menegakkan keadilan, melainkan untuk menutup mulut.

“Bukan karena salah, melainkan karena lantang. Bukan karena melanggar hukum, melainkan karena mengingatkan pada hukum,” tegasnya.

Ketiga, Keselamatan yang Dipertaruhkan. Kekhawatiran paling dalam bahwa keberanian menyuarakan kebenaran dapat dipertaruhkan pada keselamatan diri. Ia mengingat peristiwa kelam seperti almarhum Munir, Novel Baswedan, dan lainnya yang dibungkam secara kekerasan.

Bukan Ketakutan, Melainkan Kewaspadaan

Dr. Adi menekankan, peringatan Denny ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan bentuk antisipasi.

“Kita tidak membalas kebencian dengan kebencian. Kita menjawab kegelapan dengan cahaya yang tetap menyala. Dan kita bersikeras: tidak ada siapa pun yang boleh diancam, dihalangi, atau disakiti hanya karena ia berani bertanya,” ujarnya mengutip Denny.

Ia menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa negara yang benar-benar merdeka adalah negara yang melindungi suaranya, bukan yang menutup mulut warganya. (Indra)

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Jelang Musda, Kader Senior Golkar Kota Bekasi Adi Yunsyah Imbau Kader Hilangkan Egosentris
Analis IPPS: Polemik Musda Golkar Kota Bekasi Tak Produktif, Perlu Calon Kuda Hitam Redam Konflik
Halangi Tugas Pejabat Ombudsman RI Saat Sidak, Pegawai Lapas Cibinong Terancam Dipidana
Ichsanuddin Noorsy: Krisis Legitimasi Adalah Krisis Kepercayaan, Harus Dicegah Jadi Disintegrasi
GNK: Kebesaran NU Dibangun dari Kedekatan dengan Umat, Bukan Penguasa
Takziah SBY ke Rumah Duka Guruh Soekarno Putra Dinilai Jadi Sinyal Rekonsiliasi Politik
Syarat Domisili dan Satu Periode Kepengurusan Jadi Sorotan, Ranny Fahd Arafiq Terancam Tak Lolos Bursa Ketua Golkar Kota Bekasi
IPPS: Tepuk Tangan Kader PAN untuk Prabowo Sebut ‘Pakar Goblok’ Jadi Bumerang di Mata Anak Muda

Berita Terkait

Kamis, 1 Oktober 2026 - 03:40 WIB

Pakar Komunikasi Politik: Suara Kritis Dibungkam, Demokrasi Berhenti Bernapas

Rabu, 30 September 2026 - 19:18 WIB

Jelang Musda, Kader Senior Golkar Kota Bekasi Adi Yunsyah Imbau Kader Hilangkan Egosentris

Rabu, 30 September 2026 - 07:16 WIB

Analis IPPS: Polemik Musda Golkar Kota Bekasi Tak Produktif, Perlu Calon Kuda Hitam Redam Konflik

Selasa, 29 September 2026 - 22:47 WIB

Halangi Tugas Pejabat Ombudsman RI Saat Sidak, Pegawai Lapas Cibinong Terancam Dipidana

Selasa, 29 September 2026 - 15:51 WIB

Ichsanuddin Noorsy: Krisis Legitimasi Adalah Krisis Kepercayaan, Harus Dicegah Jadi Disintegrasi

Berita Terbaru